alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 22, 2022

Dari Mina Padi, Nyoman Semir Dkk Meraup Omzet Rp150 Juta per Minggu

I Nyoman Semir, salah seorang petani di Banjar Dinas Baru, Desa Baru, Kecamatan Marga, Kabupatan Tabanan, Bali, sudah melakoni budi daya ikan di tengah lahan pertanian atau yang disebut mina padi. Hasilnya, bisa meraup omzet Rp150 juta per minggu.

 

JULIADI, Tabanan

 

PETAK-PETAK sawah milik I Nyoman Semir agak berbeda dari sawah pada umumnya. Khususnya ketika musim tanam padi.

 

Bila sawah pada umumnya, berisi tanaman padi yang menghampar sepanjang mata memandang, tidak demikian dengan persawahan yang dikelola Semir di Subak Baru, Desa Baru, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali.

- Advertisement -

 

Ketika radarbali.id bertandang ke lokasi lahan pertanian miliknya di Subak Baru, Minggu (30/1) tampak berpetak-petak kolam ikan yang dikelilingi tanaman padi. Selain itu ada juga kolam ikan khusus untuk para pemancing.

 

“Saya punya lahan sekitar 25 are. Berisi kolam ikan 10 petak sisanya lahan pertanian padi,” ungkap I Nyoman Semir sambil memberikan pakan di kolam ikan nila miliknya.

 

Pria yang akrab disapa Pak Semir ini mengaku pola menggabungkan pemeliharaan ikan nila dengan tanaman padi pada satu lahan pertanian. Bukan semacam alih fungsi tanaman, melainkan bagaimana bisa menopang hasil pertanian yang selama ini masih kurang menggiurkan.

Baca Juga:  Kabur Dari Tahanan dan Curi Motor, Gilang Akan Dijerat Pidana Tambahan

 

“Kalau sekarang pola atau sistem ini lebih dikenal mina padi,” ungkap petani berusia 60 tahun.

 

Semir menyebut bukan tanpa alasan dirinya harus mengembangkan sistem mina padi. Di samping karena air lumayan melimpah di Subak Baru, kemudian adanya peluang pengirim benih ikan nila.

 

“Petani di Subak Baru juga sudah berpengalaman memelihara ikan dengan memanfaatkan lahan pertanian,” kata dia.

 

Selain itu, Semir mengaku dulunya para petani di sini pelihara ikan nila di lahan pertanian hanya untuk kebutuhan lauk pauk pribadi dan untuk konsumsi kebutuhan masyarakat.

 

Tetapi sekarang sudah ada pengembangan setelah dibukanya keran pengiriman ikan nila ke Batur Bangli.

 

“Kami di sini dan petani sudah zaman Pak Harto pelihara ikan. Kalau pengiriman ke daerah Batur Bangli, kan baru-baru sekitar 7 tahun yang lalu. Jadi kalau sistem mina padi itu juga baru-baru populer, padahal kami lebih lama melakukan,” ungkap petani yang tergabung dalam kelompok petani Mina Ayu ini.

 

Sejauh ini hasil pelihara ikan nila lumayan keuntungannya. Para pembudi daya ikan ini mengirim secara berbarengan ke Batur, Bangli bisa tembus 60 ribu ekor. 

 

Baca Juga:  Ternyata! Mortir yang Ditemukan di Penebel Tabanan Masih Aktif

Namun syarat pengiriman ikan nila harus dengan ukuran size 8-10 cm. Memang masih kecil. Karena ini ikan benih yang akan dibudidayakan lagi di tempat lain.

 

Kata dia, satu ekor benih ikan nila itu dibanderol dengan harga Rp 400-500. Maka, sekali kirim, omzetnya bisa menembus antara Rp24 juta hingga Rp30 juta.

 

“Kami tetap lakukan pemeliharaan tetapi untuk kebutuhan konsumsi dan dijual dengan harga per kilogram Rp 35 ribu,” ungkapnya.

 

Di tengah situasi pandemi Covid-19 memang sempat terjadi penurunan ikan nila ke Bangli, namun kini mulai stabil.

Bahkan, kata Semir, pengiriman ikan bisa dilakukan seminggu 4-5 kali bersama dengan petani-petani yang pelihara ikan lainnya. Artinya, dalam seminggu, omzet mereka bisa menembus Rp150 juta.

“Ya itu bisa 4-5 kali seminggu,” ucapnya.

Disinggung selama ini apakah ada kendala pemeliharaan ikan di lahan pertanian dengan sistem mina padi. Dia menyebut kendala hanya pada faktor cuaca saja. Bila hujan deras, maka sumber penyakit muncul. Sehingga setiap saat harus dilakukan pengurasan air.

 

“Kendala lainnya yakni sampah yang menumpuk di saluran irigasi pertanian. Maka kami otomatis harus lakukan pembersihan, karena air irigasi kami gunakan untuk air kolam ikan,” pungkasnya.

- Advertisement -

I Nyoman Semir, salah seorang petani di Banjar Dinas Baru, Desa Baru, Kecamatan Marga, Kabupatan Tabanan, Bali, sudah melakoni budi daya ikan di tengah lahan pertanian atau yang disebut mina padi. Hasilnya, bisa meraup omzet Rp150 juta per minggu.

 

JULIADI, Tabanan

 

PETAK-PETAK sawah milik I Nyoman Semir agak berbeda dari sawah pada umumnya. Khususnya ketika musim tanam padi.

 

Bila sawah pada umumnya, berisi tanaman padi yang menghampar sepanjang mata memandang, tidak demikian dengan persawahan yang dikelola Semir di Subak Baru, Desa Baru, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali.

 

Ketika radarbali.id bertandang ke lokasi lahan pertanian miliknya di Subak Baru, Minggu (30/1) tampak berpetak-petak kolam ikan yang dikelilingi tanaman padi. Selain itu ada juga kolam ikan khusus untuk para pemancing.

 

“Saya punya lahan sekitar 25 are. Berisi kolam ikan 10 petak sisanya lahan pertanian padi,” ungkap I Nyoman Semir sambil memberikan pakan di kolam ikan nila miliknya.

 

Pria yang akrab disapa Pak Semir ini mengaku pola menggabungkan pemeliharaan ikan nila dengan tanaman padi pada satu lahan pertanian. Bukan semacam alih fungsi tanaman, melainkan bagaimana bisa menopang hasil pertanian yang selama ini masih kurang menggiurkan.

Baca Juga:  Hilang Tiga Hari, Made Sukra Ditemukan Lemas di Sungai Udang-Udang

 

“Kalau sekarang pola atau sistem ini lebih dikenal mina padi,” ungkap petani berusia 60 tahun.

 

Semir menyebut bukan tanpa alasan dirinya harus mengembangkan sistem mina padi. Di samping karena air lumayan melimpah di Subak Baru, kemudian adanya peluang pengirim benih ikan nila.

 

“Petani di Subak Baru juga sudah berpengalaman memelihara ikan dengan memanfaatkan lahan pertanian,” kata dia.

 

Selain itu, Semir mengaku dulunya para petani di sini pelihara ikan nila di lahan pertanian hanya untuk kebutuhan lauk pauk pribadi dan untuk konsumsi kebutuhan masyarakat.

 

Tetapi sekarang sudah ada pengembangan setelah dibukanya keran pengiriman ikan nila ke Batur Bangli.

 

“Kami di sini dan petani sudah zaman Pak Harto pelihara ikan. Kalau pengiriman ke daerah Batur Bangli, kan baru-baru sekitar 7 tahun yang lalu. Jadi kalau sistem mina padi itu juga baru-baru populer, padahal kami lebih lama melakukan,” ungkap petani yang tergabung dalam kelompok petani Mina Ayu ini.

 

Sejauh ini hasil pelihara ikan nila lumayan keuntungannya. Para pembudi daya ikan ini mengirim secara berbarengan ke Batur, Bangli bisa tembus 60 ribu ekor. 

 

Baca Juga:  Penyebar Foto Bugil Mantan Pacar Diputus Cinta karena Cemburuan

Namun syarat pengiriman ikan nila harus dengan ukuran size 8-10 cm. Memang masih kecil. Karena ini ikan benih yang akan dibudidayakan lagi di tempat lain.

 

Kata dia, satu ekor benih ikan nila itu dibanderol dengan harga Rp 400-500. Maka, sekali kirim, omzetnya bisa menembus antara Rp24 juta hingga Rp30 juta.

 

“Kami tetap lakukan pemeliharaan tetapi untuk kebutuhan konsumsi dan dijual dengan harga per kilogram Rp 35 ribu,” ungkapnya.

 

Di tengah situasi pandemi Covid-19 memang sempat terjadi penurunan ikan nila ke Bangli, namun kini mulai stabil.

Bahkan, kata Semir, pengiriman ikan bisa dilakukan seminggu 4-5 kali bersama dengan petani-petani yang pelihara ikan lainnya. Artinya, dalam seminggu, omzet mereka bisa menembus Rp150 juta.

“Ya itu bisa 4-5 kali seminggu,” ucapnya.

Disinggung selama ini apakah ada kendala pemeliharaan ikan di lahan pertanian dengan sistem mina padi. Dia menyebut kendala hanya pada faktor cuaca saja. Bila hujan deras, maka sumber penyakit muncul. Sehingga setiap saat harus dilakukan pengurasan air.

 

“Kendala lainnya yakni sampah yang menumpuk di saluran irigasi pertanian. Maka kami otomatis harus lakukan pembersihan, karena air irigasi kami gunakan untuk air kolam ikan,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/