27.6 C
Denpasar
Tuesday, January 31, 2023

Astungkara, Korban Pemerkosaan di Jembrana Dapat Pendampingan dan Dipantau Aparat Keamanan

NEGARA, Radar Bali.id – Pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak (P2TP2A) Jembrana, meminta perangkat desa dan aparat keamanan tingkat desa untuk memberikan perlindungan kepada anak di bawah umur yang menjadi korban pemerkosaan.

Hal tersebut diungkapkan Ketua P2TP2A Jembrana Ida Bagus Panca Sidarta, usai menemui korban pemerkosaan, Selasa (24/1/2023). Menurutnya, keterlibatan aktif dari perangkat desa ini untuk mencegah potensi terjadinya upaya intimidasi kepada korban dan keluarganya.

Pertemuan tim di rumah klian banjar di wilayah Kecamatan Melaya, juga dihadiri perangkat desa, babinkamtibmas dan keluarga korban. Serta Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana Jembrana Ni Kade Ari Sugianti.

Menurutnya, pendampingan psikolog kepada korban sudah pasti dilakukan, terutama pada saat pemeriksaan oleh polisi dan pendampingan dilakukan secara berkala untuk memulihkan kondisi psikologi korban. “Tetap dilakukan konseling dan pendampingan berkala dari psikolog, serta pendampingan hukum berjalan,” tegasnya.

Baca Juga:  Badah! Siswi Korban Pemerkosaan Laporkan Kakak Ipar

Namun yang terpenting saat ini korban dan keluarganya tetap aman dan tidak ada intimidasi. Panca menegaskan, sampai saat ini indikasi adanya intimidasi yang dikhawatirkan oleh keluarga korban tidak terjadi.

Saat ini korban masih bersama keluarganya dan mendapat perlindungan. “Kami tetap meminta aparat di desa untuk tetap memantau dan memberikan perlindungan kepada korban,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana Jembrana Ni Kade Ari Sugianti mengatakan, bersama tim Pencegahan dan Penanganan Korban Kekerasan (P2K2) Jembrana telah mendatangi rumah keluarga serta korban persetubuhan anak di bawah umur.

Kedatangan menemui korban, untuk memberikan pendampingan sosial dan psikologi. Pihaknya juga meminta apara desa dan aparat keamanan memberikan perhatian untuk mengantisipasi adanya intimidasi dan upaya damai dari pihak terduga pelaku. “Kami sudah lakukan kunjungan ke pihak korban serta keluarga untuk melakukan pendampingan serta pemberian bantuan juga,” jelasnya.

Baca Juga:  "Dihajar” Pacar, Hamil, Nikah Secara Adat, Merasa Ditelantarkan, akhirnya Lapor Polisi

Pihaknya sudah berkoordinasi dengan aparat keamanan, untuk memantau korban yang saat ini tinggal bersama kelurganya. Dengan pemantauan aparat keamanan, diharapkan bisa memberikan rasa aman kepada korban dan keluarganya. “Kita berharap aparat desa serta aparat penegak hukum juga untuk menjaga keamanan korban serta keluarganya,” tegasnya.

Mengenai kondisi korban, Kepala Dinas menyebut  bahwa korban, kondisinya meskipun masih ada trauma, tetapi sudah mulai berangsur stabil. Sehingga pendampingan sangat perlu dilakukan, terutama pendampingan psikologi.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang anak di bawah umur, sebut saja Bunga yang masih umur 16 tahun diperkosa dua orang terduga pelaku, PN, 60, dan G, 50,. Perbuatan terdua dua pelaku di waktu dan tempat berbeda di kebun wilayah Kecamatan Melaya. Keluarga korban yang sudah melaporkan dugaan pemerkosaan ini ke Polres Jembrana, berharap terduga pelaku diproses hukum. [m.basir/radar bali]

 

 

 

 

 



NEGARA, Radar Bali.id – Pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak (P2TP2A) Jembrana, meminta perangkat desa dan aparat keamanan tingkat desa untuk memberikan perlindungan kepada anak di bawah umur yang menjadi korban pemerkosaan.

Hal tersebut diungkapkan Ketua P2TP2A Jembrana Ida Bagus Panca Sidarta, usai menemui korban pemerkosaan, Selasa (24/1/2023). Menurutnya, keterlibatan aktif dari perangkat desa ini untuk mencegah potensi terjadinya upaya intimidasi kepada korban dan keluarganya.

Pertemuan tim di rumah klian banjar di wilayah Kecamatan Melaya, juga dihadiri perangkat desa, babinkamtibmas dan keluarga korban. Serta Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana Jembrana Ni Kade Ari Sugianti.

Menurutnya, pendampingan psikolog kepada korban sudah pasti dilakukan, terutama pada saat pemeriksaan oleh polisi dan pendampingan dilakukan secara berkala untuk memulihkan kondisi psikologi korban. “Tetap dilakukan konseling dan pendampingan berkala dari psikolog, serta pendampingan hukum berjalan,” tegasnya.

Baca Juga:  Polres Jember Telisik Dugaan Kasus Asusila di Pesantren

Namun yang terpenting saat ini korban dan keluarganya tetap aman dan tidak ada intimidasi. Panca menegaskan, sampai saat ini indikasi adanya intimidasi yang dikhawatirkan oleh keluarga korban tidak terjadi.

Saat ini korban masih bersama keluarganya dan mendapat perlindungan. “Kami tetap meminta aparat di desa untuk tetap memantau dan memberikan perlindungan kepada korban,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana Jembrana Ni Kade Ari Sugianti mengatakan, bersama tim Pencegahan dan Penanganan Korban Kekerasan (P2K2) Jembrana telah mendatangi rumah keluarga serta korban persetubuhan anak di bawah umur.

Kedatangan menemui korban, untuk memberikan pendampingan sosial dan psikologi. Pihaknya juga meminta apara desa dan aparat keamanan memberikan perhatian untuk mengantisipasi adanya intimidasi dan upaya damai dari pihak terduga pelaku. “Kami sudah lakukan kunjungan ke pihak korban serta keluarga untuk melakukan pendampingan serta pemberian bantuan juga,” jelasnya.

Baca Juga:  Mimih, Dewa Ratu! Siswi SD Diperkosa dengan Brutal!

Pihaknya sudah berkoordinasi dengan aparat keamanan, untuk memantau korban yang saat ini tinggal bersama kelurganya. Dengan pemantauan aparat keamanan, diharapkan bisa memberikan rasa aman kepada korban dan keluarganya. “Kita berharap aparat desa serta aparat penegak hukum juga untuk menjaga keamanan korban serta keluarganya,” tegasnya.

Mengenai kondisi korban, Kepala Dinas menyebut  bahwa korban, kondisinya meskipun masih ada trauma, tetapi sudah mulai berangsur stabil. Sehingga pendampingan sangat perlu dilakukan, terutama pendampingan psikologi.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang anak di bawah umur, sebut saja Bunga yang masih umur 16 tahun diperkosa dua orang terduga pelaku, PN, 60, dan G, 50,. Perbuatan terdua dua pelaku di waktu dan tempat berbeda di kebun wilayah Kecamatan Melaya. Keluarga korban yang sudah melaporkan dugaan pemerkosaan ini ke Polres Jembrana, berharap terduga pelaku diproses hukum. [m.basir/radar bali]

 

 

 

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru