alexametrics
30.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Berawal dari Tak Mampu Bayar Bimbel, Akhirnya Bikin Bimbel Gratis

Rumah Belajar Bangah di Desa Panji, Buleleng, Bali, menyediakan pendidikan gratis bagi anak-anak di dusun setempat. Uniknya, bimbel gratis ini berawal dari ketidakmampuan orang tua yang tak mampu membayar bimbel.  

 

EKA PRASETYA, Singaraja

 

SORE itu, suasana di rumah milik Putu Agus Suarsana, 34, begitu riuh. Bangunan yang dulunya jadi arena permainan biliar, dipadati anak-anak bersusia tujuh sampai dua belas tahun. Mereka tengah menanti relawan guru yang datang ke lokasi tersebut.

 

Sejak beberapa bulan terakhir, bangunan itu disulap menjadi lokasi bimbingan belajar. Warga menyebutnya Rumah Belajar Bangah. Tiap sore, puluhan anak datang mengenyam pendidikan gratis di lokasi tersebut. Sore itu, mereka mendapat pendidikan agama hindu dari penyuluh agama di desa setempat.

- Advertisement -

 

Rumah Belajar Bangah dirintis oleh Putu Agus Suarsana, sejak April 2020 lalu. Dia hanya seorang petani yang juga pengepul kunyit. Tiap malam biasanya ia membuka jasa penyewaan odong-odong di Simpang Empat Galiran.

Baca Juga:  Ayah yang Memerkosa Anak Kandung Akan Diperiksa Kejiwaan

 

Ide rumah belajar itu berawal dari hal yang sangat sederhana. Selama masa pandemi, putri sulungnya, Putu Ayu Adeva Suar Sampoerna Putri tertinggal dalam hal pelajaran formal.

 

“Waktu zoom, teman-temannya sudah jauh perkembangannya. Sedangkan anak saya tidak, karena tidak pernah belajar tatap muka. Sempat anak saya ngambul, tidak mau ikut zoom,” ungkap Agus saat ditemui pada Senin (3/1) sore.

 

Putu Agus Suarsana pun berinisiatif melibatkan anaknya dalam bimbingan belajar. Ketika itu ia merekrut seorang guru privat dengan bayaran Rp20 ribu tiap pertemuan. Tapi hal itu hanya bertahan selama tiga minggu. Penyebabnya ia kehabisan dana. Belakangan ia melibatkan anaknya pada bimbingan belajar di Desa Panji dengan biaya Rp5 ribu tiap pertemuan. Lagi-lagi hal itu berhenti di tengah jalan, karena kehabisan uang.

 

Baca Juga:  Dulu Chef Hotel Bintang Lima, Kini Rela Jadi Pedagang Kaki Lima

“Kondisi saya waktu itu benar-benar parah. Punya rombong roti bakar, saya jual. Punya odong-odong tiga, saya jual dua. Biar bisa bertahan. Saya hampir tidak bisa bertahan. Kunyit tidak ada yang beli, odong-odong kena PPKM. Waktu itu sama sekali tidak pegang uang,” katanya.

 

Akhirnya dia berinisiatif mendidik anaknya sendiri. Dengan kemampuan yang ia miliki. Ternyata hal itu tidak mudah. Terkadang ia emosi, karena anaknya tidak mampu menyerap penjelasan yang diberikan. Lain waktu, anaknya yang emosi karena penjelasan dari ayahnya tak sesuai.

 

Belakangan putrinya mengajak teman-temannya belajar bersama. Saat itu putrinya mulai tekun belajar. Ia pun berusaha menyempatkan waktu. Memberikan pelajaran sebisa mungkin.

 

“Awalnya hanya 2 orang. Anak saya dan temannya. Selang beberapa hari, tambah jadi 4 orang. Selang beberapa hari, tambah lagi jadi 9 orang. Sampai akhirnya jadi 11 orang, saya bingung. Ini gimana mau ngajarnya,” tuturnya. (bersambung)

- Advertisement -

Rumah Belajar Bangah di Desa Panji, Buleleng, Bali, menyediakan pendidikan gratis bagi anak-anak di dusun setempat. Uniknya, bimbel gratis ini berawal dari ketidakmampuan orang tua yang tak mampu membayar bimbel.  

 

EKA PRASETYA, Singaraja

 

SORE itu, suasana di rumah milik Putu Agus Suarsana, 34, begitu riuh. Bangunan yang dulunya jadi arena permainan biliar, dipadati anak-anak bersusia tujuh sampai dua belas tahun. Mereka tengah menanti relawan guru yang datang ke lokasi tersebut.

 

Sejak beberapa bulan terakhir, bangunan itu disulap menjadi lokasi bimbingan belajar. Warga menyebutnya Rumah Belajar Bangah. Tiap sore, puluhan anak datang mengenyam pendidikan gratis di lokasi tersebut. Sore itu, mereka mendapat pendidikan agama hindu dari penyuluh agama di desa setempat.

 

Rumah Belajar Bangah dirintis oleh Putu Agus Suarsana, sejak April 2020 lalu. Dia hanya seorang petani yang juga pengepul kunyit. Tiap malam biasanya ia membuka jasa penyewaan odong-odong di Simpang Empat Galiran.

Baca Juga:  Truk Tangki BBM Hancur usai Tabrak Jembatan, Minyak Tumpah di Tejakula

 

Ide rumah belajar itu berawal dari hal yang sangat sederhana. Selama masa pandemi, putri sulungnya, Putu Ayu Adeva Suar Sampoerna Putri tertinggal dalam hal pelajaran formal.

 

“Waktu zoom, teman-temannya sudah jauh perkembangannya. Sedangkan anak saya tidak, karena tidak pernah belajar tatap muka. Sempat anak saya ngambul, tidak mau ikut zoom,” ungkap Agus saat ditemui pada Senin (3/1) sore.

 

Putu Agus Suarsana pun berinisiatif melibatkan anaknya dalam bimbingan belajar. Ketika itu ia merekrut seorang guru privat dengan bayaran Rp20 ribu tiap pertemuan. Tapi hal itu hanya bertahan selama tiga minggu. Penyebabnya ia kehabisan dana. Belakangan ia melibatkan anaknya pada bimbingan belajar di Desa Panji dengan biaya Rp5 ribu tiap pertemuan. Lagi-lagi hal itu berhenti di tengah jalan, karena kehabisan uang.

 

Baca Juga:  Pemerintah Desak Pengembang Perumahan Serahkan Fasilitas Umum

“Kondisi saya waktu itu benar-benar parah. Punya rombong roti bakar, saya jual. Punya odong-odong tiga, saya jual dua. Biar bisa bertahan. Saya hampir tidak bisa bertahan. Kunyit tidak ada yang beli, odong-odong kena PPKM. Waktu itu sama sekali tidak pegang uang,” katanya.

 

Akhirnya dia berinisiatif mendidik anaknya sendiri. Dengan kemampuan yang ia miliki. Ternyata hal itu tidak mudah. Terkadang ia emosi, karena anaknya tidak mampu menyerap penjelasan yang diberikan. Lain waktu, anaknya yang emosi karena penjelasan dari ayahnya tak sesuai.

 

Belakangan putrinya mengajak teman-temannya belajar bersama. Saat itu putrinya mulai tekun belajar. Ia pun berusaha menyempatkan waktu. Memberikan pelajaran sebisa mungkin.

 

“Awalnya hanya 2 orang. Anak saya dan temannya. Selang beberapa hari, tambah jadi 4 orang. Selang beberapa hari, tambah lagi jadi 9 orang. Sampai akhirnya jadi 11 orang, saya bingung. Ini gimana mau ngajarnya,” tuturnya. (bersambung)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/