alexametrics
28.7 C
Denpasar
Tuesday, July 5, 2022

Banser di Celukan Bawang Bantu Pecalang Menjaga Nyepi Tetap Khidmat

Toleransi umat beragama di Bali Utara benar-benar teruji. Seperti saat hari raya Nyepi, Kamis (3/3) lalu. Umat Muslim dan Hindu saling bergandeng tangan. Menjaga agar suasana Nyepi tetap berjalan dengan khusyuk dan khidmat.

 

EKA PRASETYA, Singaraja

SEJUMLAH pria berpakaian loreng, khas seragam Barisan Ansor Serbaguna (Banser), tampa berdiri menghadap ke jalan raya. Pandangan mereka awas. Memperhatikan kendaraan yang melintas. Di belakang mereka, puluhan warga yang mengenakan pakai adat Bali tengah khusyuk beribadah.

Momen itu terekam dalam sebuah foto yang diunggah Kepala Satuan Koordinasi Kelompok (Satkorkel) Banser Celukan Bawang, Fiqi Sakera. Foto itu diambil pada Rabu (2/3) lalu saat momen pengerupukan.

“Itu kami sedang pengamanan di pertigaan Desa Adat Celukan Bawang. Memang dari Desa Adat Celukan Bawang meminta kami ikut melakukan pengamanan ibadah kawan-kawan Hindu,” kata Fiqi saat dihubungi pada Jumat (4/3).

Menurutnya itu bukan pertama kalinya Banser terlibat dalam pengamanan kegiatan keagamaan umat Hindu. Dalam berbagai kegiatan keagamaan juga mereka turut dilibatkan. Seperti saat melasti, persembahyangan Galungan dan Kuningan, serta beberapa kegiatan lainnya.

Banser dikenal sebagai perangkat organisasi dari Gerakan Pemuda Ansor – organisasi pemuda di bawah Nahdlatul Ulama. Banser menjadi penggerak program-program GP Ansor. Mereka juga melakukan pengamanan dalam program-program kemasyarakatan yang dilakukan oleh Ansor.

Di Bali, Banser tak hanya melakukan pengamanan terhadap kegiatan-kegiatan internal. Baik itu GP Ansor maupun Nahdlatul Ulama. Tapi meluas dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan secara umum. Banser kerap terlibat dalam mengamankan kegiatan hajatan warga. Baik umat muslim maupun Hindu.

Khusus hari raya Nyepi di Buleleng, Banser juga kerap dilibatkan. “Memang sejak lama kami dilibatkan. Tiap momentum hari besar agama, termasuk salah satunya Nyepi. Jadi dari aparatur desa dinas dan desa adat, meminta kami ikut terlibat melakukan pengamanan,” kata Ketua Pengurus Cabang GP Ansor Buleleng, Abdul Karim Abraham.

Lebih lanjut diungkapkan, saat hari raya Nyepi, Banser biasanya terlibat dalam momen melasti, persembahyangan tawur kesanga, pengarakan ogoh-ogoh, serta pengamanan saat sipeng. Khusus pada sipeng atau hari H Nyepi, Banser tak mau bergerak sendiri. Mereka harus bergerak bersama pecalang.

“Kawan-kawan Banser wajib bergerak bersama Pecalang. Karena otoritas tertinggi ada di tangan pecalang. Kalau ada pelanggaran di umat muslim, misalnya bepergian saat Nyepi, itu banser yang bergerak. Tapi kalau di umat Hindu, pecalang yang menindak,” jelas pria yang akrab disapa Iboy itu.

Pada momen hari raya Nyepi tahun ini, juga terjadi momen tak terduga di Desa Banyupoh. Salah satu umat muslim meninggal dunia. Sesuai dengan keyakinan dalam agama Islam, umat yang meninggal harus segera dimakamkan.

Satkorkel Banser Banyupoh langsung berkoordinasi dengan Desa Adat Banyupoh. “Kami diizinkan melakukan pemakaman. Memang ada pembatasan. Hanya keluarga, tetangga terdekat, dan Banser yang memakamkan. Dari pecalang juga membantu pengawalan,” ungkap Iboy.

Saat ini tercatat ada 28 Satkorkel Banser di seantero Buleleng. Satuan koordinasi itu tersebar di 6 kecamatan yang ada di Buleleng. Minus Kecamatan Tejakula, Busungbiu, dan Sawan. Iboy menyatakan Banser selalu siap membantu kegiatan masyarakat.

“Tanpa memandang agamanya. Selama dibutuhkan Banser selalu siap. Karena kami sudah berkomitmen, menjaga situasi tetap aman demi kenyamanan bersama,” tukasnya.



Toleransi umat beragama di Bali Utara benar-benar teruji. Seperti saat hari raya Nyepi, Kamis (3/3) lalu. Umat Muslim dan Hindu saling bergandeng tangan. Menjaga agar suasana Nyepi tetap berjalan dengan khusyuk dan khidmat.

 

EKA PRASETYA, Singaraja

SEJUMLAH pria berpakaian loreng, khas seragam Barisan Ansor Serbaguna (Banser), tampa berdiri menghadap ke jalan raya. Pandangan mereka awas. Memperhatikan kendaraan yang melintas. Di belakang mereka, puluhan warga yang mengenakan pakai adat Bali tengah khusyuk beribadah.

Momen itu terekam dalam sebuah foto yang diunggah Kepala Satuan Koordinasi Kelompok (Satkorkel) Banser Celukan Bawang, Fiqi Sakera. Foto itu diambil pada Rabu (2/3) lalu saat momen pengerupukan.

“Itu kami sedang pengamanan di pertigaan Desa Adat Celukan Bawang. Memang dari Desa Adat Celukan Bawang meminta kami ikut melakukan pengamanan ibadah kawan-kawan Hindu,” kata Fiqi saat dihubungi pada Jumat (4/3).

Menurutnya itu bukan pertama kalinya Banser terlibat dalam pengamanan kegiatan keagamaan umat Hindu. Dalam berbagai kegiatan keagamaan juga mereka turut dilibatkan. Seperti saat melasti, persembahyangan Galungan dan Kuningan, serta beberapa kegiatan lainnya.

Banser dikenal sebagai perangkat organisasi dari Gerakan Pemuda Ansor – organisasi pemuda di bawah Nahdlatul Ulama. Banser menjadi penggerak program-program GP Ansor. Mereka juga melakukan pengamanan dalam program-program kemasyarakatan yang dilakukan oleh Ansor.

Di Bali, Banser tak hanya melakukan pengamanan terhadap kegiatan-kegiatan internal. Baik itu GP Ansor maupun Nahdlatul Ulama. Tapi meluas dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan secara umum. Banser kerap terlibat dalam mengamankan kegiatan hajatan warga. Baik umat muslim maupun Hindu.

Khusus hari raya Nyepi di Buleleng, Banser juga kerap dilibatkan. “Memang sejak lama kami dilibatkan. Tiap momentum hari besar agama, termasuk salah satunya Nyepi. Jadi dari aparatur desa dinas dan desa adat, meminta kami ikut terlibat melakukan pengamanan,” kata Ketua Pengurus Cabang GP Ansor Buleleng, Abdul Karim Abraham.

Lebih lanjut diungkapkan, saat hari raya Nyepi, Banser biasanya terlibat dalam momen melasti, persembahyangan tawur kesanga, pengarakan ogoh-ogoh, serta pengamanan saat sipeng. Khusus pada sipeng atau hari H Nyepi, Banser tak mau bergerak sendiri. Mereka harus bergerak bersama pecalang.

“Kawan-kawan Banser wajib bergerak bersama Pecalang. Karena otoritas tertinggi ada di tangan pecalang. Kalau ada pelanggaran di umat muslim, misalnya bepergian saat Nyepi, itu banser yang bergerak. Tapi kalau di umat Hindu, pecalang yang menindak,” jelas pria yang akrab disapa Iboy itu.

Pada momen hari raya Nyepi tahun ini, juga terjadi momen tak terduga di Desa Banyupoh. Salah satu umat muslim meninggal dunia. Sesuai dengan keyakinan dalam agama Islam, umat yang meninggal harus segera dimakamkan.

Satkorkel Banser Banyupoh langsung berkoordinasi dengan Desa Adat Banyupoh. “Kami diizinkan melakukan pemakaman. Memang ada pembatasan. Hanya keluarga, tetangga terdekat, dan Banser yang memakamkan. Dari pecalang juga membantu pengawalan,” ungkap Iboy.

Saat ini tercatat ada 28 Satkorkel Banser di seantero Buleleng. Satuan koordinasi itu tersebar di 6 kecamatan yang ada di Buleleng. Minus Kecamatan Tejakula, Busungbiu, dan Sawan. Iboy menyatakan Banser selalu siap membantu kegiatan masyarakat.

“Tanpa memandang agamanya. Selama dibutuhkan Banser selalu siap. Karena kami sudah berkomitmen, menjaga situasi tetap aman demi kenyamanan bersama,” tukasnya.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/