alexametrics
23.7 C
Denpasar
Sunday, May 22, 2022

Lagi, Warga Sambangan Digigit Anjing Rabies

SINGARAJA– Kasus rabies belum reda. Utamanya di Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada. Kali ini seorang warga menjadi korban gigitan anjing yang positif rabies. Warga tersebut masih dalam masa pemantauan, pasca mendapat vaksin anti rabies (VAR) dari tim medis.

Dia adalah Kadek Edi Darmawan, 25, warga Banjar Dinas Babakan, Desa Sambangan. Dia digigit oleh anjing peliharaan sendiri pada Selasa (3/5) pekan lalu. Tak disangka anjingnya justru mati beberapa hari setelah mengigit. Setelah dilakukan uji laboratorium, ternyata anjing itu dinyatakan positif rabies.

Edi pun sempat mendatangi Puskesmas Sukasada I untuk melaporkan kasus gigitan tersebut. Sayangnya VAR di sana kondisi kosong. Sehingga dia harus ke Puskesmas Buleleng I. Ia telah mendapat suntikan pertama VAR di puskesmas tersebut.

Menurut Edi, dia baru memelihara anjing ras jenis Golden Retriever pada Jumat (29/4) lalu. Anjing itu baru berusia 5 bulan. Anjing didapat dari salah seorang temannya yang mukim di Desa Baktiseraga.

Sejak dipelihara, anjing disebut telah menunjukkan gelagat mencurigakan. Anjing itu tampak gelisah. Dia tidak pernah curiga bila anjing itu rabies. Saat hendak memberi makan, ternyata anjing itu dalam kondisi gelisah. Anjing langsung mengigit.

Baca Juga:  Lima Anjing Positif Rabies Ternyata Hewan Peliharaan Warga

“Saya mau masukkan kandang. Sempat saya pegang punggungnya. Kemudian tangan saya digigit dua kali. Kena ujung ibu jari sebelah kiri,” ungkap Edi saat ditemui di rumahnya kemarin.

Edi pun gelisah. Sebab kasus rabies sempat terjadi di Desa Sambangan pada akhir April lalu. Bahkan warga tersebut sempat dinyatakan meninggal dunia.

- Advertisement -

“Setelah digigit saya sempat ke puskesmas. Awalnya tidak diberikan vaksin, karena disuruh observasi anjingnya dulu. Selang tiga hari setelah mengigit, ternyata anjingnya mati. Langsung saya balik lapor lagi. Baru akhirnya dapat vaksin. Jujur khawatir sekali,” katanya.

Merujuk data Dinas Pertanian Buleleng, kasus gigitan pada tahun 2022 ini melonjak signifikan. Hingga kemarin, kasus gigitan anjing mencapai 52 kasus.

Dari puluhan kasus itu, sebanyak 39 kasus gigitan dinyatakan positif rabies. Khusus di Desa Sambangan, ada 3 kasus gigitan positif rabies yang menyebabkan seorang warga meninggal dunia.

Baca Juga:  Anjing Gila Kembali Serang Warga, Dinkes Pastikan Positif Rabies

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dinas Pertanian Buleleng, Made Suparma mengatakan, penanganan kasus rabies di Buleleng memang agak tersendat. Sebab pandemi covid-19 menyebabkan cakupan vaksinasi rabies kurang maksimal.

Disamping itu faktor pemeliharaan anjing juga berpengaruh. Dari 93.997 ekor populasi anjing di Buleleng, sebanyak 70 persen di antaranya dipelihara dengan pola lepas liar. Artinya anjing itu tidak diikat, tidak dikandangkan, tidak rutin mendapat suntikan vaksin rabies, bahkan tidak ada kalung penanda kepemilikan.

“Vaksinasi rabies sudah rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Hanya kadang terhambat karena dilapangan tidak ketemu pemilik. Ada juga masyarakat yang tidak mau anjingnya divaksin, tetapi diliarkan tidak dipelihara dengan baik,” ungkap Suparma.

Ia menyatakan pemerintah telah berupaya menggenjot vaksinasi. Caranya menyiagakan 26 orang dokter hewan. Mereka siaga di Dinas Pertanian dan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di seluruh kecamatan, guna memberikan vaksin rabies gratis pada hewan. (eps)

- Advertisement -

SINGARAJA– Kasus rabies belum reda. Utamanya di Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada. Kali ini seorang warga menjadi korban gigitan anjing yang positif rabies. Warga tersebut masih dalam masa pemantauan, pasca mendapat vaksin anti rabies (VAR) dari tim medis.

Dia adalah Kadek Edi Darmawan, 25, warga Banjar Dinas Babakan, Desa Sambangan. Dia digigit oleh anjing peliharaan sendiri pada Selasa (3/5) pekan lalu. Tak disangka anjingnya justru mati beberapa hari setelah mengigit. Setelah dilakukan uji laboratorium, ternyata anjing itu dinyatakan positif rabies.

Edi pun sempat mendatangi Puskesmas Sukasada I untuk melaporkan kasus gigitan tersebut. Sayangnya VAR di sana kondisi kosong. Sehingga dia harus ke Puskesmas Buleleng I. Ia telah mendapat suntikan pertama VAR di puskesmas tersebut.

Menurut Edi, dia baru memelihara anjing ras jenis Golden Retriever pada Jumat (29/4) lalu. Anjing itu baru berusia 5 bulan. Anjing didapat dari salah seorang temannya yang mukim di Desa Baktiseraga.

Sejak dipelihara, anjing disebut telah menunjukkan gelagat mencurigakan. Anjing itu tampak gelisah. Dia tidak pernah curiga bila anjing itu rabies. Saat hendak memberi makan, ternyata anjing itu dalam kondisi gelisah. Anjing langsung mengigit.

Baca Juga:  Ngeri, Anjing Diduga Rabies Terkam Tiga Warga Yehembang

“Saya mau masukkan kandang. Sempat saya pegang punggungnya. Kemudian tangan saya digigit dua kali. Kena ujung ibu jari sebelah kiri,” ungkap Edi saat ditemui di rumahnya kemarin.

Edi pun gelisah. Sebab kasus rabies sempat terjadi di Desa Sambangan pada akhir April lalu. Bahkan warga tersebut sempat dinyatakan meninggal dunia.

“Setelah digigit saya sempat ke puskesmas. Awalnya tidak diberikan vaksin, karena disuruh observasi anjingnya dulu. Selang tiga hari setelah mengigit, ternyata anjingnya mati. Langsung saya balik lapor lagi. Baru akhirnya dapat vaksin. Jujur khawatir sekali,” katanya.

Merujuk data Dinas Pertanian Buleleng, kasus gigitan pada tahun 2022 ini melonjak signifikan. Hingga kemarin, kasus gigitan anjing mencapai 52 kasus.

Dari puluhan kasus itu, sebanyak 39 kasus gigitan dinyatakan positif rabies. Khusus di Desa Sambangan, ada 3 kasus gigitan positif rabies yang menyebabkan seorang warga meninggal dunia.

Baca Juga:  Budidaya Lebah Trigona secara Otodidak, Awalnya Tak Tahu Nama Latin

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dinas Pertanian Buleleng, Made Suparma mengatakan, penanganan kasus rabies di Buleleng memang agak tersendat. Sebab pandemi covid-19 menyebabkan cakupan vaksinasi rabies kurang maksimal.

Disamping itu faktor pemeliharaan anjing juga berpengaruh. Dari 93.997 ekor populasi anjing di Buleleng, sebanyak 70 persen di antaranya dipelihara dengan pola lepas liar. Artinya anjing itu tidak diikat, tidak dikandangkan, tidak rutin mendapat suntikan vaksin rabies, bahkan tidak ada kalung penanda kepemilikan.

“Vaksinasi rabies sudah rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Hanya kadang terhambat karena dilapangan tidak ketemu pemilik. Ada juga masyarakat yang tidak mau anjingnya divaksin, tetapi diliarkan tidak dipelihara dengan baik,” ungkap Suparma.

Ia menyatakan pemerintah telah berupaya menggenjot vaksinasi. Caranya menyiagakan 26 orang dokter hewan. Mereka siaga di Dinas Pertanian dan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di seluruh kecamatan, guna memberikan vaksin rabies gratis pada hewan. (eps)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/