alexametrics
30.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Rabies Kian Menggila, Desa di Buleleng Diminta Buat Perarem Rabies

SINGARAJA, radarbali.id Dinas Pertanian Buleleng meminta agar seluruh desa membuat perarem rabies yang mengatur tentang tata laksana pemeliharaan hewan. Penyusunan perarem dianggap efektif. Karena masyarakat cenderung tunduk pada hukum adat ketimbang hukum positif yang diatur dalam peraturan daerah (perda).

Kepala Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta mengungkapkan, penyusunan perarem merupakan salah satu langkah pencegahan yang dilakukan. Ada beberapa desa yang memiliki perarem tersebut. seperti Bondalem, Julah, dan Bengkala. Namun hanya di Desa Bengkala saja perarem itu berlaku dengan efektif.

“Kami selalu menganjurkan agar desa dinas dan desa adat bekerjasama menyusun perarem. Karena masyarakat cenderung lebih takut dengan hukum adat,” kata Sumiarta.

Baca Juga:  Pemerintah Siap Gratiskan Pementasan, Belum Banyak Sanggar Mendaftar

Di sisi lain, Perbekel Bengkala I Made Astika mengungkapkan, perarem sudah disahkan sejak 2018 lalu. Perarem disahkan oleh Desa Adat Bengkala dan berlaku mengikat bagi seluruh masyarakat yang melakukan aktivitas di wilayah Desa Adat Bengkala.

Menurutnya perarem rabies tersebut dibuat lantaran kasus rabies sempat muncul di Bengkala pada 2017 lalu. Kasus tersebut cukup meresahkan warga.

“Untungnya kan setelah digigit anjing rabies, cepat dapat pertolongan. Jadi orangnya masih sehat sampai hari ini,” kata Astika.

Ada beberapa aturan yang mengikat. Warga yang tidak disiplin dalam memelihara anjing, akan dikenakan sanksi denda berupa beras serta wajib membiayai pengobatan.

- Advertisement -

Contohnya, bila warga memiliki anjing dan menggigit orang lain, maka pemilik anjing wajib menanggung biaya pengobatan. Bila kelak anjing itu terbukti rabies, maka pemilik anjing dikenakan denda sebanyak 500 kilogram beras hingga 1 ton beras.

Baca Juga:  7 Tujuh Warga Tabanan Digigit Anjing Rabies, 5 Anjing Dibunuh

Apabila ada ada yang membuang anak anjing sembarangan, akan dikenakan denda berupa 50 kilogram beras. Sementara bila yang membuang anjing berasal dari luar desa, maka dikenakan denda 100 kilogram beras.

“Kalau sampai ada yang meninggal, malah sanksinya itu harus menanggung biaya upacara ngaben. Yang menanggung itu pemilik anjingnya. Ini cukup efektif. Sampai sekarang tidak ada kasus lagi yang muncul di desa kami,” kata Astika. (eps)

- Advertisement -

SINGARAJA, radarbali.id Dinas Pertanian Buleleng meminta agar seluruh desa membuat perarem rabies yang mengatur tentang tata laksana pemeliharaan hewan. Penyusunan perarem dianggap efektif. Karena masyarakat cenderung tunduk pada hukum adat ketimbang hukum positif yang diatur dalam peraturan daerah (perda).

Kepala Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta mengungkapkan, penyusunan perarem merupakan salah satu langkah pencegahan yang dilakukan. Ada beberapa desa yang memiliki perarem tersebut. seperti Bondalem, Julah, dan Bengkala. Namun hanya di Desa Bengkala saja perarem itu berlaku dengan efektif.

“Kami selalu menganjurkan agar desa dinas dan desa adat bekerjasama menyusun perarem. Karena masyarakat cenderung lebih takut dengan hukum adat,” kata Sumiarta.

Baca Juga:  Perkuat Desa Adat, Pemprov Bali Rancang Raperda Baga Utsaha Padruwen

Di sisi lain, Perbekel Bengkala I Made Astika mengungkapkan, perarem sudah disahkan sejak 2018 lalu. Perarem disahkan oleh Desa Adat Bengkala dan berlaku mengikat bagi seluruh masyarakat yang melakukan aktivitas di wilayah Desa Adat Bengkala.

Menurutnya perarem rabies tersebut dibuat lantaran kasus rabies sempat muncul di Bengkala pada 2017 lalu. Kasus tersebut cukup meresahkan warga.

“Untungnya kan setelah digigit anjing rabies, cepat dapat pertolongan. Jadi orangnya masih sehat sampai hari ini,” kata Astika.

Ada beberapa aturan yang mengikat. Warga yang tidak disiplin dalam memelihara anjing, akan dikenakan sanksi denda berupa beras serta wajib membiayai pengobatan.

Contohnya, bila warga memiliki anjing dan menggigit orang lain, maka pemilik anjing wajib menanggung biaya pengobatan. Bila kelak anjing itu terbukti rabies, maka pemilik anjing dikenakan denda sebanyak 500 kilogram beras hingga 1 ton beras.

Baca Juga:  Yanti Pernah Berkali-Kali Jatuh dan Digagalkan Orang Lain

Apabila ada ada yang membuang anak anjing sembarangan, akan dikenakan denda berupa 50 kilogram beras. Sementara bila yang membuang anjing berasal dari luar desa, maka dikenakan denda 100 kilogram beras.

“Kalau sampai ada yang meninggal, malah sanksinya itu harus menanggung biaya upacara ngaben. Yang menanggung itu pemilik anjingnya. Ini cukup efektif. Sampai sekarang tidak ada kasus lagi yang muncul di desa kami,” kata Astika. (eps)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/