alexametrics
24.8 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Butuh Bantuan, Hidup Dirawat Nenek Usai Ayahnya Meninggal Gantung Diri

AKSI solidaritas kini tengah dilakukan warga Buleleng. Tanpa komando, warga dari berbagai elemen saling bergandeng tangan.

Mereka berusaha membantu perekonomian bayi kembar yang lahir prematur. Kedua bayi itu kini berstatus yatim. Mereka diasuh oleh neneknya yang tinggal di Dusun Lebah Pupuan, Desa Tegallinggah, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali.

 

EKA PRASETYA, Buleleng

MENURUT penuturan sang nenek, Luh Yasmini, kedua bayi itu lahir pada 12 Desember 2021 silam.

Si sulung memiliki berat 2,1 kilogram, sementara adiknya memiliki berat 2,4 kilogram. Keduanya berjenis kelamin pria. Sebelum kedua bayi itu lahir, orang tua sang bayi yakni Gede Eri Suandana, 28, dan Luh Merta Sari Dewi, 28, terlibat masalah rumah tangga.

Keduanya memilih pisah ranjang pada November 2021. Konon karena sang ayah, Gede Eri memiliki wanita simpanan.

Sang ibu, Luh Sari pun memilih kembali ke rumah gadis. Sembari mengajak dua orang anaknya. Pada bulan Desember, bayi kembar itu lahir.

Setelah berusia 3 (tiga) hari, kedua bayi itu diserahkan pengasuhannya pada sang ayah.

“Saya tidak tahu pasti masalah anak dan mantu saya itu seperti apa. Karena mereka tidak pernah cerita. Mantu saya pulang ke rumah bajang sama anak pertama dan kedua.

Baca Juga:  Pemkab Buleleng Kewalahan Cari PNS Tenaga Kesehatan

Nah yang kembar ini saya diminta merawat. Karena cucu sendiri, tentu kami terima,” ujar Yasmini saat ditemui di rumahnya, pada Sabtu (12/2).

Pada awal Februari lalu, petaka datang. Ayah bayi kembar tersebut, Gede Eri, memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Dia ditemukan tewas tergantung di sebuah rumah kontrakan yang terletak di Desa Kalibukbuk, Buleleng.

Dulunya Gede Eri bekerja sebagai terapis spa di Irak. Saat pandemi melanda, ia pulang kampung.

Kemudian bekerja sebagai penjaga toko. Sebenarnya Gede Eri dan istrinya sempat berencana bekerja di Jepang. Keduanya malah sudah membayar biaya perjalanan. Namun karena sang istri hamil, rencana itu ditunda.

“Pas anak saya dibilang gantung diri, keluarga di sini semua kaget. Karena tidak ada wasiat apa-apa. Anaknya juga masih kecil-kecil,” ungkap Yasmini.

Lebih lanjut Yasmini mengungkapkan, pihaknya sangat membutuhkan uluran tangan dari donatur. Sebab biaya perawatan kedua bayi itu cukup besar. Pendapatan keluarganya juga pas-pasan dari hasil berdagang kecil-kecilan di rumah.

Apalagi salah satu bayi disebut mengalami gangguan paru. “Saya sudah ke dokter dua kali, katanya ada lendir di paru-parunya. Sekarang sudah ada beberapa donatur yang membantu, ada yang ngasih beberapa susu,” katanya.

Baca Juga:  Bocah 14 Tahun Ikut Dipukul Pakai Linggis hingga Sekarat

Di sisi lain, Kelian Banjar Dinas Lebah Pupuan I Ketut Armawayasa mengungkapkan, pihaknya akan berupaya mendorong agar keluarga tersebut mendapat Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersumber dari dana desa.

Ke depan pihak desa juga akan berupaya agar kedua bayi tersebut mendapat KIS. Namun yang menjadi kendala, bayi tersebut belum tercatat dalam administrasi kependudukan.

“Kami berupaya selesaikan administrasinya dulu. Karena bayi ini belum nelung bulanin, jadi belum ada nama. Nanti kami diskusikan dengan keluarga, mau masuk KK-nya siapa,” kata Armawayasa.

Lebih lanjut Armawayasa menuturkan, pada Jumat (11/2) lalu, kondisi bayi kembar itu dikabarkan melalui media sosial. Pada Jumat sore, bantuan terus mengalir. Bahkan sejumlah pegiat sosial terus berdatangan hingga kemarin.

“Bantuan sekarang sudah datang untuk keluarga ini. Ada yang bantu susu, pampers, uang juga ada. Dari donatur langsung menyerahkan ke keluarga. Mudah-mudahan kedepan bisa kami usulkan masuk DTKS. Sehingga untuk kesehatan dan pendidikannya bisa terjamin,” ujarnya. 



AKSI solidaritas kini tengah dilakukan warga Buleleng. Tanpa komando, warga dari berbagai elemen saling bergandeng tangan.

Mereka berusaha membantu perekonomian bayi kembar yang lahir prematur. Kedua bayi itu kini berstatus yatim. Mereka diasuh oleh neneknya yang tinggal di Dusun Lebah Pupuan, Desa Tegallinggah, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali.

 

EKA PRASETYA, Buleleng

MENURUT penuturan sang nenek, Luh Yasmini, kedua bayi itu lahir pada 12 Desember 2021 silam.

Si sulung memiliki berat 2,1 kilogram, sementara adiknya memiliki berat 2,4 kilogram. Keduanya berjenis kelamin pria. Sebelum kedua bayi itu lahir, orang tua sang bayi yakni Gede Eri Suandana, 28, dan Luh Merta Sari Dewi, 28, terlibat masalah rumah tangga.

Keduanya memilih pisah ranjang pada November 2021. Konon karena sang ayah, Gede Eri memiliki wanita simpanan.

Sang ibu, Luh Sari pun memilih kembali ke rumah gadis. Sembari mengajak dua orang anaknya. Pada bulan Desember, bayi kembar itu lahir.

Setelah berusia 3 (tiga) hari, kedua bayi itu diserahkan pengasuhannya pada sang ayah.

“Saya tidak tahu pasti masalah anak dan mantu saya itu seperti apa. Karena mereka tidak pernah cerita. Mantu saya pulang ke rumah bajang sama anak pertama dan kedua.

Baca Juga:  Empat Bulan Penyelidikan, Pacar Korban Akhirnya Jadi Tersangka Aborsi

Nah yang kembar ini saya diminta merawat. Karena cucu sendiri, tentu kami terima,” ujar Yasmini saat ditemui di rumahnya, pada Sabtu (12/2).

Pada awal Februari lalu, petaka datang. Ayah bayi kembar tersebut, Gede Eri, memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Dia ditemukan tewas tergantung di sebuah rumah kontrakan yang terletak di Desa Kalibukbuk, Buleleng.

Dulunya Gede Eri bekerja sebagai terapis spa di Irak. Saat pandemi melanda, ia pulang kampung.

Kemudian bekerja sebagai penjaga toko. Sebenarnya Gede Eri dan istrinya sempat berencana bekerja di Jepang. Keduanya malah sudah membayar biaya perjalanan. Namun karena sang istri hamil, rencana itu ditunda.

“Pas anak saya dibilang gantung diri, keluarga di sini semua kaget. Karena tidak ada wasiat apa-apa. Anaknya juga masih kecil-kecil,” ungkap Yasmini.

Lebih lanjut Yasmini mengungkapkan, pihaknya sangat membutuhkan uluran tangan dari donatur. Sebab biaya perawatan kedua bayi itu cukup besar. Pendapatan keluarganya juga pas-pasan dari hasil berdagang kecil-kecilan di rumah.

Apalagi salah satu bayi disebut mengalami gangguan paru. “Saya sudah ke dokter dua kali, katanya ada lendir di paru-parunya. Sekarang sudah ada beberapa donatur yang membantu, ada yang ngasih beberapa susu,” katanya.

Baca Juga:  Menunggak Pajak Air Bawah Tanah, Sejumlah Villa Dipasangi Baliho Jumbo

Di sisi lain, Kelian Banjar Dinas Lebah Pupuan I Ketut Armawayasa mengungkapkan, pihaknya akan berupaya mendorong agar keluarga tersebut mendapat Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersumber dari dana desa.

Ke depan pihak desa juga akan berupaya agar kedua bayi tersebut mendapat KIS. Namun yang menjadi kendala, bayi tersebut belum tercatat dalam administrasi kependudukan.

“Kami berupaya selesaikan administrasinya dulu. Karena bayi ini belum nelung bulanin, jadi belum ada nama. Nanti kami diskusikan dengan keluarga, mau masuk KK-nya siapa,” kata Armawayasa.

Lebih lanjut Armawayasa menuturkan, pada Jumat (11/2) lalu, kondisi bayi kembar itu dikabarkan melalui media sosial. Pada Jumat sore, bantuan terus mengalir. Bahkan sejumlah pegiat sosial terus berdatangan hingga kemarin.

“Bantuan sekarang sudah datang untuk keluarga ini. Ada yang bantu susu, pampers, uang juga ada. Dari donatur langsung menyerahkan ke keluarga. Mudah-mudahan kedepan bisa kami usulkan masuk DTKS. Sehingga untuk kesehatan dan pendidikannya bisa terjamin,” ujarnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/