alexametrics
25.3 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

Dulu Cuma Dikonsumsi Sendiri, Kini Sering Kewalahan Layani Orderan

BERAWAL dari usaha rumahan biasa dengan skala kecil-kecilan, kini produksi keripik usus ayam yang digeluti Hj. Siti Ruhayana makin berkembang pesat.

 Hanya dengan mengubah kemasan, siapa sangka usaha keripik usus ayam itu kini makin moncer.

 

EKA PRASETYA, Buleleng

SITI Ruhayana, 51, tampak sibuk membersihkan usus ayam. Usus itu baru saja dibeli dari lapak langganan di Pasar Banyuasri. Selanjutnya usus itu dicampur dengan tepung kanji, serta beberapa rempah-rempah.

Hari itu, ia harus mengolah 7 kilogram usus. “Kebetulan ada yang pesan. Jadi sekalian buatnya. Nanti lebihnya dititip ke toko-toko,” ungkap wanita yang akrab disapa Iyung itu.

Siti Ruhayana telah menggeluti usaha pembuatan keripik usus ayam sejak 1999 silam. Awalnya ia hanya coba-coba saja membuat keripik usus ayam. Seorang kerabat yang tinggal di Madura, membagi resep membuat keripik usus ayam.

Ia pun tertarik. Apalagi pada dasarnya Iyung punya hobi memasak. Semula keripik usus itu hanya dikonsumsi untuk kalangan sendiri.

“Kemudian ada sepupu datang ke rumah. Dia bilang rasanya enak. Waktu itu saya disuruh jual keripik ini. Jujur waktu itu saya takut. Ya takut nggak laku,” cerita Iyung saat ditemui di rumahnya yang terletak di Jalan Samudera, Kelurahan Banyuasri, beberapa waktu lalu.

Lambat laun, atas dorongan keluarga, Iyung memberanikan diri menjual keripik tersebut. Semula keripik-keripik itu dikemas dalam wadah plastik kiloan sederhana. Keripik itu kemudian dititipkan di warung-warung sekitar rumah. Saat itu keripik dijual seharga Rp 500 hingga Rp 1.000.

Selama dua dasa warsa, Iyung berada di zona nyaman. Tak pernah ada keluhan dari pelanggan. Usahanya juga lancar-lancar saja. Saat itu Iyung mampu memproduksi 7-8 kilogram usus ayam dalam sepekan. Biasanya produksi dilakukan setelah menuntaskan pekerjaan rumah.

Baca Juga:  Hujan Lebat, Bencana Alam Terjang Sejumlah Wilayah di Buleleng

Pada 2019 silam, menantunya, Aditya al Badari, 36, mengusulkan agar keripik itu dikemas dalam bentuk yang berbeda. Kemasan pun diubah menjadi wadah khusus. Sehingga terlihat seperti produk premium. Siapa sangka perubahan kemasan itu membuat omzet merangkak naik.

“Ibu mertua sebenarnya pintar masak. Cuma kurang percaya diri. Waktu itu saya usul kemasan diubah, karena yakin pasti akan laku,” kata Aditya.

Benar saja. Iyung pun kewalahan memenuhi permintaan. Ia meminta putrinya, Hafifah Mardiani, 36, turut membantu produksi. Kini ia harus memproduksi keripik 3 kali dalam sepekan. Rata-rata ia bisa menghabiskan 5-7 kilogram usus ayam dalam sekali produksi. Berarti dalam sepekan dia bisa mengahbiskan 15-21 kilogram usus ayam. Bahan-bahan itu dibeli dari pedagang ayam di pasar tradisional terdekat.

Lantaran pesanan semakin tumbuh, kini proses produksi dilakukan mulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 16.00 sore. “Mulai dari bersihin usus, siapkan bumbu, goreng, sampai pengemasan. Biasanya selesai jam 4 sore,” ujar Iyung.

Selanjutnya keripik-keripik itu dibawa ke toko-toko sekitar Kota Singaraja. Distribusi itu dilakukan oleh putra dan menantunya. “Saya soalnya nggak bisa bawa motor. Jadi dibantu anak-anak,” imbuhnya.

Tuntas dengan inovasi kemasan, menantunya kembali mengusulkan inovasi lain. Yakni menambah cita rasa. Lantaran modal terbatas, Iyung berinisiatif mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Tatkala itu ia berhasil mendapat KUR sebanyak Rp 5 juta dengan tenor 2 tahun dari BRI Unit Banyuasri. Modal itu digunakan untuk membeli bumbu penyedap rasa, alat pengering, serta sebuah alat segel kemasan.

Kini keripik usus ayam Rembo yang diproduksi Iyung, telah menghasilkan 6 jenis rasa. Yakni rasa original, barbekyu, rumput laut, balado, pedas gurih, dan jagung bakar. Dari 6 jenis rasa itu, produk original dan balado yang paling banyak dicari.

Baca Juga:  Dulu Chef Hotel Bintang Lima, Kini Rela Jadi Pedagang Kaki Lima

Biasanya satu kemasan berukuran 105 gram, dijual seharga Rp 10 ribu per buah. “Tapi kalau ada yang mau beli kiloan, ya saya layani juga. Saya jual Rp 90 ribu sekilo,” katanya.

Berbekal inovasi kemasan dan inovasi rasa, usaha keripik usus ayam Rembo milik Iyung makin melejit. Kini produk itu tak hanya menembus penjualan di toko-toko seantero Kabupaten Buleleng. Tapi juga mengalir hingga ke Semarang, Bandung, dan Pontianak.

“Banyak yang pesan untuk oleh-oleh. Makanya kadang sampai ke luar Bali. Padahal kalau promosi, ya menantu saya cuma lewat medsos saja. Tapi reseller itu yang jalan,” jelas ibu dari 4 anak itu.

Iyung bersama keluarga sebenarnya sudah memiliki beberapa rencana untuk ekspansi usaha. Namun rencana itu masih ditunda. Sembari menanti ekonomi pulih pasca-pandemi. Apalagi kini masih terjadi fluktuasi harga daging ayam.

Sementara ini ia masih puas dengan produksi yang telah berjalan. Apalagi dalam sebulan, ia bisa mengedarkan 200 bungkus dalam sebulan. Bahkan pada momen-momen tertentu, seperti hari raya Idul Fitri, dia bisa mengedarkan lebih banyak lagi.

“Nanti setelah pandemi, mungkin mau jualan online juga biar masuk aplikasi. Sekalian tambah reseller juga,” katanya lagi.

Sementara itu Regional CEO BRI Denpasar, Rudy Andimono mengungkapkan, BRI selalu mendorong UMKM tumbuh dan berkembang. Rudy mengatakan, UMKM keripik ayam Rembo juga sudah terlibat dalam pelatihan digitalisasi keuangan yang melibatkan BRI Cabang Singaraja.

“Kami selalu mendorong sektor UMKM tumbuh dan berkembang. Dalam era digital ini, kami juga harap pengelola UMKM dapat melakukan pengelolaan keuangan yang lebih profesional, melalui aplikasi digital yang sudah kami siapkan,” tukas Rudy. 



BERAWAL dari usaha rumahan biasa dengan skala kecil-kecilan, kini produksi keripik usus ayam yang digeluti Hj. Siti Ruhayana makin berkembang pesat.

 Hanya dengan mengubah kemasan, siapa sangka usaha keripik usus ayam itu kini makin moncer.

 

EKA PRASETYA, Buleleng

SITI Ruhayana, 51, tampak sibuk membersihkan usus ayam. Usus itu baru saja dibeli dari lapak langganan di Pasar Banyuasri. Selanjutnya usus itu dicampur dengan tepung kanji, serta beberapa rempah-rempah.

Hari itu, ia harus mengolah 7 kilogram usus. “Kebetulan ada yang pesan. Jadi sekalian buatnya. Nanti lebihnya dititip ke toko-toko,” ungkap wanita yang akrab disapa Iyung itu.

Siti Ruhayana telah menggeluti usaha pembuatan keripik usus ayam sejak 1999 silam. Awalnya ia hanya coba-coba saja membuat keripik usus ayam. Seorang kerabat yang tinggal di Madura, membagi resep membuat keripik usus ayam.

Ia pun tertarik. Apalagi pada dasarnya Iyung punya hobi memasak. Semula keripik usus itu hanya dikonsumsi untuk kalangan sendiri.

“Kemudian ada sepupu datang ke rumah. Dia bilang rasanya enak. Waktu itu saya disuruh jual keripik ini. Jujur waktu itu saya takut. Ya takut nggak laku,” cerita Iyung saat ditemui di rumahnya yang terletak di Jalan Samudera, Kelurahan Banyuasri, beberapa waktu lalu.

Lambat laun, atas dorongan keluarga, Iyung memberanikan diri menjual keripik tersebut. Semula keripik-keripik itu dikemas dalam wadah plastik kiloan sederhana. Keripik itu kemudian dititipkan di warung-warung sekitar rumah. Saat itu keripik dijual seharga Rp 500 hingga Rp 1.000.

Selama dua dasa warsa, Iyung berada di zona nyaman. Tak pernah ada keluhan dari pelanggan. Usahanya juga lancar-lancar saja. Saat itu Iyung mampu memproduksi 7-8 kilogram usus ayam dalam sepekan. Biasanya produksi dilakukan setelah menuntaskan pekerjaan rumah.

Baca Juga:  Dulu Bolak-Balik Ditolak Jadi Karyawati, Kini Omzet Rp200 Juta Sebulan

Pada 2019 silam, menantunya, Aditya al Badari, 36, mengusulkan agar keripik itu dikemas dalam bentuk yang berbeda. Kemasan pun diubah menjadi wadah khusus. Sehingga terlihat seperti produk premium. Siapa sangka perubahan kemasan itu membuat omzet merangkak naik.

“Ibu mertua sebenarnya pintar masak. Cuma kurang percaya diri. Waktu itu saya usul kemasan diubah, karena yakin pasti akan laku,” kata Aditya.

Benar saja. Iyung pun kewalahan memenuhi permintaan. Ia meminta putrinya, Hafifah Mardiani, 36, turut membantu produksi. Kini ia harus memproduksi keripik 3 kali dalam sepekan. Rata-rata ia bisa menghabiskan 5-7 kilogram usus ayam dalam sekali produksi. Berarti dalam sepekan dia bisa mengahbiskan 15-21 kilogram usus ayam. Bahan-bahan itu dibeli dari pedagang ayam di pasar tradisional terdekat.

Lantaran pesanan semakin tumbuh, kini proses produksi dilakukan mulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 16.00 sore. “Mulai dari bersihin usus, siapkan bumbu, goreng, sampai pengemasan. Biasanya selesai jam 4 sore,” ujar Iyung.

Selanjutnya keripik-keripik itu dibawa ke toko-toko sekitar Kota Singaraja. Distribusi itu dilakukan oleh putra dan menantunya. “Saya soalnya nggak bisa bawa motor. Jadi dibantu anak-anak,” imbuhnya.

Tuntas dengan inovasi kemasan, menantunya kembali mengusulkan inovasi lain. Yakni menambah cita rasa. Lantaran modal terbatas, Iyung berinisiatif mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Tatkala itu ia berhasil mendapat KUR sebanyak Rp 5 juta dengan tenor 2 tahun dari BRI Unit Banyuasri. Modal itu digunakan untuk membeli bumbu penyedap rasa, alat pengering, serta sebuah alat segel kemasan.

Kini keripik usus ayam Rembo yang diproduksi Iyung, telah menghasilkan 6 jenis rasa. Yakni rasa original, barbekyu, rumput laut, balado, pedas gurih, dan jagung bakar. Dari 6 jenis rasa itu, produk original dan balado yang paling banyak dicari.

Baca Juga:  Suasana Mencekam, Terdengar Ledakan Berkali-kali

Biasanya satu kemasan berukuran 105 gram, dijual seharga Rp 10 ribu per buah. “Tapi kalau ada yang mau beli kiloan, ya saya layani juga. Saya jual Rp 90 ribu sekilo,” katanya.

Berbekal inovasi kemasan dan inovasi rasa, usaha keripik usus ayam Rembo milik Iyung makin melejit. Kini produk itu tak hanya menembus penjualan di toko-toko seantero Kabupaten Buleleng. Tapi juga mengalir hingga ke Semarang, Bandung, dan Pontianak.

“Banyak yang pesan untuk oleh-oleh. Makanya kadang sampai ke luar Bali. Padahal kalau promosi, ya menantu saya cuma lewat medsos saja. Tapi reseller itu yang jalan,” jelas ibu dari 4 anak itu.

Iyung bersama keluarga sebenarnya sudah memiliki beberapa rencana untuk ekspansi usaha. Namun rencana itu masih ditunda. Sembari menanti ekonomi pulih pasca-pandemi. Apalagi kini masih terjadi fluktuasi harga daging ayam.

Sementara ini ia masih puas dengan produksi yang telah berjalan. Apalagi dalam sebulan, ia bisa mengedarkan 200 bungkus dalam sebulan. Bahkan pada momen-momen tertentu, seperti hari raya Idul Fitri, dia bisa mengedarkan lebih banyak lagi.

“Nanti setelah pandemi, mungkin mau jualan online juga biar masuk aplikasi. Sekalian tambah reseller juga,” katanya lagi.

Sementara itu Regional CEO BRI Denpasar, Rudy Andimono mengungkapkan, BRI selalu mendorong UMKM tumbuh dan berkembang. Rudy mengatakan, UMKM keripik ayam Rembo juga sudah terlibat dalam pelatihan digitalisasi keuangan yang melibatkan BRI Cabang Singaraja.

“Kami selalu mendorong sektor UMKM tumbuh dan berkembang. Dalam era digital ini, kami juga harap pengelola UMKM dapat melakukan pengelolaan keuangan yang lebih profesional, melalui aplikasi digital yang sudah kami siapkan,” tukas Rudy. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/