alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, July 3, 2022

Covid Landai, Umat Buddha di Buleleng Lega Bisa Beribadah Normal saat Waisak

SINGARAJA – Setelah Covid-19 melandai, Umat Buddha di Buleleng akhirnya bernapas lega. Mereka bisa melaksanakan ibadah dengan kondisi normal. Apalagi selama dua tahun terakhir, diberlakukan pembatasan kegiatan sebagai upaya pencegahan Covid-19. Selama dua tahun terakhir, hanya pengurus vihara yang mengikuti proses ibadah. Sementara umat lainnya mengikuti proses ibadah dari rumah masing-masing.

Di Vihara Giri Manggala Desa Alasangker misalnya. Umat sudah datang sejak pukul 09.00 pagi. Umat datang dengan mengenakan pakaian adat Bali, dengan bagian atas berwarna putih. Mereka menghaturkan canang sari di beberapa altar Buddha yang ada di penjuru vihara. Pemanfaatan canang sari tetap diadopsi, karena mereka berasal dari suku Bali asli.

“Kami orang Bali pribumi. Jadi kalau adat istiadat masih diadopsi. Datang ke vihara tetap pakai pakaian adat, bawa persembahan seperti orang Bali. Tapi kalau ritus dan lantunan puja itu tetap sesuai dengan agama Buddha,” kata Ketua Dayaka Saba Vihara Giri Manggala, Gede Riasa.

Usai menghaturkan persembahan di altar, umat langsung masuk ke gedung utama. Mereka mengikuti proses ibadah, sembari menanti detik-detik waisak yang jatuh pada pukul 12.13 WITA. Umat juga sempat melakukan meditasi, hingga bel tanda waisak dibunyikan.

Menurut Riasa umat Buddha di Desa Alasangker telah melakukan serangkaian kegiatan. Mereka sempat melakukan kegiatan pendalaman dhamma yang berlangsung sejak 16 April hingga Sabtu (14/5) lalu. Selanjutnya umat juga mengikuti kegiatan donor darah, jalan santai, hingga kegiatan lomba. Selain itu umat juga akan melakukan kegiatan pradaksina pada pukul 16.00.

“Kami merasa bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa pada tahun ini bisa berkumpul kembali merayakan waisak. Jadi tradisi yang sudah kami bangun sejak dulu, bisa dilaksanakan kembali,” demikian Riasa. (eps)



SINGARAJA – Setelah Covid-19 melandai, Umat Buddha di Buleleng akhirnya bernapas lega. Mereka bisa melaksanakan ibadah dengan kondisi normal. Apalagi selama dua tahun terakhir, diberlakukan pembatasan kegiatan sebagai upaya pencegahan Covid-19. Selama dua tahun terakhir, hanya pengurus vihara yang mengikuti proses ibadah. Sementara umat lainnya mengikuti proses ibadah dari rumah masing-masing.

Di Vihara Giri Manggala Desa Alasangker misalnya. Umat sudah datang sejak pukul 09.00 pagi. Umat datang dengan mengenakan pakaian adat Bali, dengan bagian atas berwarna putih. Mereka menghaturkan canang sari di beberapa altar Buddha yang ada di penjuru vihara. Pemanfaatan canang sari tetap diadopsi, karena mereka berasal dari suku Bali asli.

“Kami orang Bali pribumi. Jadi kalau adat istiadat masih diadopsi. Datang ke vihara tetap pakai pakaian adat, bawa persembahan seperti orang Bali. Tapi kalau ritus dan lantunan puja itu tetap sesuai dengan agama Buddha,” kata Ketua Dayaka Saba Vihara Giri Manggala, Gede Riasa.

Usai menghaturkan persembahan di altar, umat langsung masuk ke gedung utama. Mereka mengikuti proses ibadah, sembari menanti detik-detik waisak yang jatuh pada pukul 12.13 WITA. Umat juga sempat melakukan meditasi, hingga bel tanda waisak dibunyikan.

Menurut Riasa umat Buddha di Desa Alasangker telah melakukan serangkaian kegiatan. Mereka sempat melakukan kegiatan pendalaman dhamma yang berlangsung sejak 16 April hingga Sabtu (14/5) lalu. Selanjutnya umat juga mengikuti kegiatan donor darah, jalan santai, hingga kegiatan lomba. Selain itu umat juga akan melakukan kegiatan pradaksina pada pukul 16.00.

“Kami merasa bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa pada tahun ini bisa berkumpul kembali merayakan waisak. Jadi tradisi yang sudah kami bangun sejak dulu, bisa dilaksanakan kembali,” demikian Riasa. (eps)



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/