alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Viral, Komunitas Waria Joget Saat Pengabenan

SINGARAJA– Sebuah tayangan kini sedang viral di media sosial TikTok. Sejumlah waria, terlihat sedang mejogedan di sela-sela upacara pengabenan. Peristiwa itu ternyata terjadi di Kabupaten Buleleng. Adalah Komunitas Waria dan Gay Singaraja (Wargas) yang melakukan aksi tersebut.

 

Aksi itu berlangsung pada Senin (18/4). Aksi dilakukan di sela-sela upacara pengabenan Putu Arya Santika. Dia adalah anggota Komunitas Wargas. Di komunitas, Putu Arya Santika lebih dikenal dengan nama Tika Inces Widuri.

 

Sesepuh Wargas Singaraja, Sisca D. Panggabean mengungkapkan, Tika merupakan salah seorang waria yang aktif di komunitas. Dia kerap bergiat di ranah kesenian tradisional. Terutama di kesenian jogged. Tika bahkan pernah pentas di sejumlah lokasi di Bali.

 

Menurut Sisca, sejak setahun terakhir Tika sudah sakit-sakitan. Dia punya keluhan pada lambung. Sebab Tika kerap menjalani diet ketat. Sekitar sepekan lalu, Tika kembali jatuh sakit hingga harus diopname di RSUD Buleleng.

 

Tak disangka, Tika menghembuskan nafas terakhir di RSUD Buleleng, pada Kamis (14/4).

 

Setelah meninggal, keluarga Tika di Desa Banjarasem melakukan upacara metuunan. Dalam upacara itu, mendiang meminta agar teman-temannya hadir di upacara pitra yadnya. Sekaligus menghaturkan sesolahan jogged. Teman-temannya maklum dengan permintaan itu. Sebab Tika bergiat di Sekaa Celedu Nginyah – sekaa joged bentukan Wargas.

 

“Kami waktu itu maklum dengan permintaan almarhum. Cuma kami khawatir nanti masyarakat protes. Karena ini kan acara duka, masa sih kami harus ngibing. Kami khawatir keluarga dan banjarnya dikecam. Takutnya dibilang kami yang bencong-bencong ini berulah. Akhirnya kami konsultasi dengan tetua dan beliau-beliau semua mengizinkan, ya sudah,” kata Sisca saat ditemui di Kelurahan Banjar Bali, Selasa (19/4).

 

Sisca menuturkan ada 10 orang penari yang menampilkan joged. Aksi itu dilakukan di sepanjang jalan dari rumah duka menuju setra. Selain itu saat jenazah dibakar, para waria juga melakukan sesolahan joged di sekitar jenazah almarhum.

 

Ia pun tak menyangka bila video itu akan viral di media sosial. “Kami hanya menjalankan permintaan terakhir rekan kami. Supaya almarhum tenang di alam sana. Kalau ada masyarakat yang merasa kurang sependapat, kami memohon maaf,” ujarnya.

 

Lebih lanjut Sisca mengatakan, sosok Tika dikenal sebagai seorang pragina yang andal. Mendiang mempelajari kesenian itu secara otodidak. Sejak 2011, mendiang sudah menggeluti kesenian joged. Hingga berkeliling Bali. Mendiang juga disebut menjadi tulang punggung keluarga.



SINGARAJA– Sebuah tayangan kini sedang viral di media sosial TikTok. Sejumlah waria, terlihat sedang mejogedan di sela-sela upacara pengabenan. Peristiwa itu ternyata terjadi di Kabupaten Buleleng. Adalah Komunitas Waria dan Gay Singaraja (Wargas) yang melakukan aksi tersebut.

 

Aksi itu berlangsung pada Senin (18/4). Aksi dilakukan di sela-sela upacara pengabenan Putu Arya Santika. Dia adalah anggota Komunitas Wargas. Di komunitas, Putu Arya Santika lebih dikenal dengan nama Tika Inces Widuri.

 

Sesepuh Wargas Singaraja, Sisca D. Panggabean mengungkapkan, Tika merupakan salah seorang waria yang aktif di komunitas. Dia kerap bergiat di ranah kesenian tradisional. Terutama di kesenian jogged. Tika bahkan pernah pentas di sejumlah lokasi di Bali.

 

Menurut Sisca, sejak setahun terakhir Tika sudah sakit-sakitan. Dia punya keluhan pada lambung. Sebab Tika kerap menjalani diet ketat. Sekitar sepekan lalu, Tika kembali jatuh sakit hingga harus diopname di RSUD Buleleng.

 

Tak disangka, Tika menghembuskan nafas terakhir di RSUD Buleleng, pada Kamis (14/4).

 

Setelah meninggal, keluarga Tika di Desa Banjarasem melakukan upacara metuunan. Dalam upacara itu, mendiang meminta agar teman-temannya hadir di upacara pitra yadnya. Sekaligus menghaturkan sesolahan jogged. Teman-temannya maklum dengan permintaan itu. Sebab Tika bergiat di Sekaa Celedu Nginyah – sekaa joged bentukan Wargas.

 

“Kami waktu itu maklum dengan permintaan almarhum. Cuma kami khawatir nanti masyarakat protes. Karena ini kan acara duka, masa sih kami harus ngibing. Kami khawatir keluarga dan banjarnya dikecam. Takutnya dibilang kami yang bencong-bencong ini berulah. Akhirnya kami konsultasi dengan tetua dan beliau-beliau semua mengizinkan, ya sudah,” kata Sisca saat ditemui di Kelurahan Banjar Bali, Selasa (19/4).

 

Sisca menuturkan ada 10 orang penari yang menampilkan joged. Aksi itu dilakukan di sepanjang jalan dari rumah duka menuju setra. Selain itu saat jenazah dibakar, para waria juga melakukan sesolahan joged di sekitar jenazah almarhum.

 

Ia pun tak menyangka bila video itu akan viral di media sosial. “Kami hanya menjalankan permintaan terakhir rekan kami. Supaya almarhum tenang di alam sana. Kalau ada masyarakat yang merasa kurang sependapat, kami memohon maaf,” ujarnya.

 

Lebih lanjut Sisca mengatakan, sosok Tika dikenal sebagai seorang pragina yang andal. Mendiang mempelajari kesenian itu secara otodidak. Sejak 2011, mendiang sudah menggeluti kesenian joged. Hingga berkeliling Bali. Mendiang juga disebut menjadi tulang punggung keluarga.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/