alexametrics
26.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Buleleng Masih Koleksi 8,9 Persen Anak Stunting, Mulai Genjot Penanggulangan

SINGARAJA, Radar Bali Kabupaten Buleleng masih mengoleksi 8,9 persen anak stunting. Pemkab Buleleng pun kini menggenjot program penanggulangan stunting. Bukan hanya instansi setingkat dinas saja. Kelurahan dan desa juga diminta gotong royong menyiapkan program penanggulangan.

Prevalensi kasus stunting di Buleleng kini menyentuh angka 8,9 persen. Secara angka, jumlah kasus stunting di Buleleng mencapai 1.004 orang dari total jumlah balita sebanyak 28.065 orang.

Selain itu pemerintah juga mencatat ada keluarga yang beresiko masuk dalam kasus stunting. Sebanyak 9.630 keluarga diantaranya di Kecamatan buleleng.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKBP3A) Buleleng, Ni Made Dwi Priyanti Putri Koriawan mengatakan, stunting kini menjadi salah satu isu strategis di pemerintahan. Secara nasional, angka stunting ditargetkan turun menjadi 14 persen pada tahun 2024 mendatang.

“Saat ini di Buleleng masih di angka 8,9 persen. Lebih rendah dari angka rata-rata nasional. Tapi targetnya adalah menurunkan angka ini menjadi 7 persen pada tahun 2022,” kata Dwi Priyanti.

Menurutnya pemerintah telah menyiapkan sejumlah program. Program itu tersebar di 12 dinas yang ada di Buleleng. Selain itu desa/kelurahan juga diminta menyiapkan program penanggulangan. Sehingga penanganan lebih optimal.

Lebih lanjut Dwi mengatakan, masalah stunting tidak bisa dilihat secara parsial. Baik itu dari sisi kesehatan maupun keluarga berencana. “Pemberian layanan kesehatan dan makanan tambahan itu penting. Tapi ada hal yang tidak kalah penting. Seperti penyediaan air bersih dan sanitasi yang layak. Makanya ada program intervensi di bidang kesehatan, dan ada di bidang infrastruktur,” katanya.

Dwi juga mengklaim langkah pencegahan tak kalah penting. Sebab kasus stunting juga beresiko pada keluarga yang tidak memperhatikan kesehatan reproduksi.

“Misalnya hamil di usia muda, itu pengaruh dengan kasus stunting. Jarak kehamilan yang terlalu dekat juga berpotensi menyebabkan stunting. Karena asupan gizi anak tidak optimal. Sehingga langkah pencegahan melalui upaya kesehatan reproduksi dan keluarga berencana juga penting dilakukan,” demikian Dwi Priyanti. (eps)



SINGARAJA, Radar Bali Kabupaten Buleleng masih mengoleksi 8,9 persen anak stunting. Pemkab Buleleng pun kini menggenjot program penanggulangan stunting. Bukan hanya instansi setingkat dinas saja. Kelurahan dan desa juga diminta gotong royong menyiapkan program penanggulangan.

Prevalensi kasus stunting di Buleleng kini menyentuh angka 8,9 persen. Secara angka, jumlah kasus stunting di Buleleng mencapai 1.004 orang dari total jumlah balita sebanyak 28.065 orang.

Selain itu pemerintah juga mencatat ada keluarga yang beresiko masuk dalam kasus stunting. Sebanyak 9.630 keluarga diantaranya di Kecamatan buleleng.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKBP3A) Buleleng, Ni Made Dwi Priyanti Putri Koriawan mengatakan, stunting kini menjadi salah satu isu strategis di pemerintahan. Secara nasional, angka stunting ditargetkan turun menjadi 14 persen pada tahun 2024 mendatang.

“Saat ini di Buleleng masih di angka 8,9 persen. Lebih rendah dari angka rata-rata nasional. Tapi targetnya adalah menurunkan angka ini menjadi 7 persen pada tahun 2022,” kata Dwi Priyanti.

Menurutnya pemerintah telah menyiapkan sejumlah program. Program itu tersebar di 12 dinas yang ada di Buleleng. Selain itu desa/kelurahan juga diminta menyiapkan program penanggulangan. Sehingga penanganan lebih optimal.

Lebih lanjut Dwi mengatakan, masalah stunting tidak bisa dilihat secara parsial. Baik itu dari sisi kesehatan maupun keluarga berencana. “Pemberian layanan kesehatan dan makanan tambahan itu penting. Tapi ada hal yang tidak kalah penting. Seperti penyediaan air bersih dan sanitasi yang layak. Makanya ada program intervensi di bidang kesehatan, dan ada di bidang infrastruktur,” katanya.

Dwi juga mengklaim langkah pencegahan tak kalah penting. Sebab kasus stunting juga beresiko pada keluarga yang tidak memperhatikan kesehatan reproduksi.

“Misalnya hamil di usia muda, itu pengaruh dengan kasus stunting. Jarak kehamilan yang terlalu dekat juga berpotensi menyebabkan stunting. Karena asupan gizi anak tidak optimal. Sehingga langkah pencegahan melalui upaya kesehatan reproduksi dan keluarga berencana juga penting dilakukan,” demikian Dwi Priyanti. (eps)



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/