31.8 C
Denpasar
Thursday, December 8, 2022

Nyepi Desa di Desa Banyuning:Pertokoan,Kantor Tutup, Motor Masih Bisa Jalan

Desa Adat Banyuning melaksanakan tradisi nyepi desa. Hal itu diyakini sebagai dresta di desa adat setempat. Mereka menjalankan tradisi dengan waktu yang berbeda.

KALI ini ritual itu terasa beda. Ruas Jalan Gempol yang membelah Lingkungan Banyuning Tengah dan Banyuning Barat, terlihat lebih lengang dari biasanya. Padahal pada jam pulang sekolah, sekitar pukul 12.30 siang, ruas jalan tersebut sangat padat kendaraan. Demikian pula saat jam pulang kantor.

Tapi berbeda dengan Kamis (24/11). Saat Jawa Pos Radar Bali melintas, jalanan lebih lengang. Beberapa toko dan pusat perbelanjaan tutup. Di sepanjang Jalan Gempol, Jalan Setiabudi, Jalan Pulau Komodo, serta Jalan Pulau Menjangan, tak ada satu pun toko yang buka. Entah itu toko modern, warung, serta apotek tidak buka.

Bukan hanya tempat perbelanjaan, unit perkantoran dan sekolah juga tidak buka. Ada enam SD di kelurahan tersebut, tak ada satu pun yang buka. Demikian pula dengan SMKN 3 Singaraja dan STAH Negeri Mpu Kuturan juga tidak melakukan proses belajar mengajar.

Baca Juga:  Toko Berjaringan Banyak Tak Berizin Lengkap

Begitu pula dengan instansi pemerintahan juga tutup. Yakni Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng. Kantor DLH dalam kondisi sepi, tidak ada staf yang berkantor. Kecuali yang berurusan dengan pelayanan umum.

Kepala DLH Buleleng Gede Melandrat mengatakan hanya kegiatan administrasi perkantoran saja yang terhenti sementara. Sedangkan kegiatan pelayanan umum, seperti pengangkutan sampah, tetap berjalan.

“Prosesnya sama seperti work from home. Jadi sudah bisa jalan seperti biasa, tidak ada masalah. Kami juga sudah koordinasi dengan desa adat. Supaya pengangkutan sampah tidak terganggu. Karena kami berkantor di wewidangan Desa Adat Banyuning, maka kami harus menghormati dresta setempat,” kata Melandrat.

Bendesa Adat Banyuning Wayan Suweta mengungkapkan, nyepi desa merupakan dresta dari Desa Adat Banyuning. Nyepi dilaksanakan sehari setelah tawur serangkaian ngusaba desa.

“Tawur ini pingit dan diagungkan krama. Karena ngusaba desa ini diawali dengan banten yang begitu besar, maka dilanjutkan dengan nyepi desa. Jadi nyepi ini bagian dari ngusaba desa,” kata Suweta.

Seperti nyepi pada umumnya, krama Desa Adat Banyuning juga wajib menjalani tapa brata penyepian. Seperti amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan.

“Sama seperti sipeng saat tahun baru saka. Tapa brata juga sama. Tapi hanya mengikat bagi krama Desa Adat Banyuning saja. Malah dulu waktu saya kecil, setelah nyepi desa itu ada nyakan diwang. Jadi semua masak di tegalan, di pinggir pangkung atau sungai, tidak boleh masak di rumah,” katanya.

Baca Juga:  Meski Tak Ada Sanksi, Warga Tak Berani Melanggar Nyepi Segara

Lebih lanjut Suweta mengungkapkan, karena Desa Adat Banyuning berada di tengah kawasan perkotaan, pihaknya tak bisa melaksanakan proses penyepian dengan optimal.

Sebut saja wilayah Banyuning Utara yang berbatasan langsung dengan Jalan Surapati. Itu merupakan ruas utama Jalan Raya Singaraja-Kubutambahan. Sementara Jalan Pulau Menjangan, merupakan jalur utama menuju Desa Petandakan dan Pegadungan.

“Kami tidak bisa menutup jalan. Tapi kami harap krama desa adat Banyuning bisa mengikuti dan menghormati dresta. Tapi kalau bukan krama desa adat, kami tidak bisa mengikat,” demikian Suweta. (eka prasetya/radar bali)



Desa Adat Banyuning melaksanakan tradisi nyepi desa. Hal itu diyakini sebagai dresta di desa adat setempat. Mereka menjalankan tradisi dengan waktu yang berbeda.

KALI ini ritual itu terasa beda. Ruas Jalan Gempol yang membelah Lingkungan Banyuning Tengah dan Banyuning Barat, terlihat lebih lengang dari biasanya. Padahal pada jam pulang sekolah, sekitar pukul 12.30 siang, ruas jalan tersebut sangat padat kendaraan. Demikian pula saat jam pulang kantor.

Tapi berbeda dengan Kamis (24/11). Saat Jawa Pos Radar Bali melintas, jalanan lebih lengang. Beberapa toko dan pusat perbelanjaan tutup. Di sepanjang Jalan Gempol, Jalan Setiabudi, Jalan Pulau Komodo, serta Jalan Pulau Menjangan, tak ada satu pun toko yang buka. Entah itu toko modern, warung, serta apotek tidak buka.

Bukan hanya tempat perbelanjaan, unit perkantoran dan sekolah juga tidak buka. Ada enam SD di kelurahan tersebut, tak ada satu pun yang buka. Demikian pula dengan SMKN 3 Singaraja dan STAH Negeri Mpu Kuturan juga tidak melakukan proses belajar mengajar.

Baca Juga:  Meski Tak Ada Sanksi, Warga Tak Berani Melanggar Nyepi Segara

Begitu pula dengan instansi pemerintahan juga tutup. Yakni Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng. Kantor DLH dalam kondisi sepi, tidak ada staf yang berkantor. Kecuali yang berurusan dengan pelayanan umum.

Kepala DLH Buleleng Gede Melandrat mengatakan hanya kegiatan administrasi perkantoran saja yang terhenti sementara. Sedangkan kegiatan pelayanan umum, seperti pengangkutan sampah, tetap berjalan.

“Prosesnya sama seperti work from home. Jadi sudah bisa jalan seperti biasa, tidak ada masalah. Kami juga sudah koordinasi dengan desa adat. Supaya pengangkutan sampah tidak terganggu. Karena kami berkantor di wewidangan Desa Adat Banyuning, maka kami harus menghormati dresta setempat,” kata Melandrat.

Bendesa Adat Banyuning Wayan Suweta mengungkapkan, nyepi desa merupakan dresta dari Desa Adat Banyuning. Nyepi dilaksanakan sehari setelah tawur serangkaian ngusaba desa.

“Tawur ini pingit dan diagungkan krama. Karena ngusaba desa ini diawali dengan banten yang begitu besar, maka dilanjutkan dengan nyepi desa. Jadi nyepi ini bagian dari ngusaba desa,” kata Suweta.

Seperti nyepi pada umumnya, krama Desa Adat Banyuning juga wajib menjalani tapa brata penyepian. Seperti amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan.

“Sama seperti sipeng saat tahun baru saka. Tapa brata juga sama. Tapi hanya mengikat bagi krama Desa Adat Banyuning saja. Malah dulu waktu saya kecil, setelah nyepi desa itu ada nyakan diwang. Jadi semua masak di tegalan, di pinggir pangkung atau sungai, tidak boleh masak di rumah,” katanya.

Baca Juga:  Warga Turki yang Terdampar di Laut Bali Segera Dipulangkan

Lebih lanjut Suweta mengungkapkan, karena Desa Adat Banyuning berada di tengah kawasan perkotaan, pihaknya tak bisa melaksanakan proses penyepian dengan optimal.

Sebut saja wilayah Banyuning Utara yang berbatasan langsung dengan Jalan Surapati. Itu merupakan ruas utama Jalan Raya Singaraja-Kubutambahan. Sementara Jalan Pulau Menjangan, merupakan jalur utama menuju Desa Petandakan dan Pegadungan.

“Kami tidak bisa menutup jalan. Tapi kami harap krama desa adat Banyuning bisa mengikuti dan menghormati dresta. Tapi kalau bukan krama desa adat, kami tidak bisa mengikat,” demikian Suweta. (eka prasetya/radar bali)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/