alexametrics
28.7 C
Denpasar
Tuesday, July 5, 2022

Sejumlah Sekolah Diprediksi Overload dalam PPDB 2022/2023 di Buleleng

SINGARAJA, Radar Bali Sejumlah sekolah di Buleleng diprediksi akan mengalami overload atau kelebihan daya tampung. Mengingat jumlah penduduk terus tumbuh. Sedangkan penambahan sekolah untuk menampung siswa, tak kunjung dilakukan.

Hal itu tak pelak menjadi potensi masalah pada proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2022/2023. Apalagi jadwal PPDB akan dimulai pada tanggal 20 Juni mendatang.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali, ada beberapa sekolah yang terancam overload. Diantaranya SDN 1 Baktiseraga, SDN 5 Sangsit, serta SMPN 2 Gerokgak.

Saat ini SDN 1 Baktiseraga menjadi satu-satunya sekolah dasar negeri di Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng. Padahal desa itu memiliki 4 dusun. Sekolah telah menambah rombongan belajar, namun belum mampu menampung siswa.

Hal serupa terjadi di SDN 5 Sangsit. Sekolah itu menampung siswa dari penjuru Desa Giri Emas. Sedangkan SMPN 2 Gerokgak, harus menampung siswa dari 3 desa. Yakni Desa Pejarakan, Desa Sumberkima, dan Desa Pemuteran.

Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata saat dikonfirmasi, tak menampik hal tersebut. Menurutnya Disdikpora telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menampung para siswa.

Strategi pertama ialah mengoptimalkan ruang kelas. Sesuai aturan, satu ruang kelas hanya bisa menampung 28 orang siswa untuk jenjang sekolah dasar, dan 32 orang siswa pada jenjang SMP. Disdik akan berusaha mengoptimalkan menjadi 30 orang siswa untuk jenjang SD dan 40 siswa untuk jenjang SMP.

Bila belum memadai, pihaknya menyiapkan strategi lain. Yakni menyiapkan sekolah double shift. “Sepanjang bisa dioptimalkan untuk satu shift, ya kami optimalkan. Kalau tidak, terpaksa double shift. Kalau melihat kondisi kepadatan kurikulum, kami rasa double shift memungkinkan,” katanya.

Pihaknya juga tengah menyiapkan kajian kepada pemerintah daerah. Kajian itu berkaitan dengan rencana penambahan sekolah. Baik di jenjang SD maupun SMP. Mengingat kepadatan siswa terus tumbuh.

“Seperti di Baktiseraga, Giri Emas, dan Pejarakan itu ada harapan dari masyarakat agar membangun sekolah baru. Ini akan kami kaji dulu dari sisi pertumbuhan jumlah penduduk sampai kesiapan anggaran. Kami yakin tahun ini semua siswa bisa mendapat sekolah,” tegasnya. (eps)



SINGARAJA, Radar Bali Sejumlah sekolah di Buleleng diprediksi akan mengalami overload atau kelebihan daya tampung. Mengingat jumlah penduduk terus tumbuh. Sedangkan penambahan sekolah untuk menampung siswa, tak kunjung dilakukan.

Hal itu tak pelak menjadi potensi masalah pada proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2022/2023. Apalagi jadwal PPDB akan dimulai pada tanggal 20 Juni mendatang.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali, ada beberapa sekolah yang terancam overload. Diantaranya SDN 1 Baktiseraga, SDN 5 Sangsit, serta SMPN 2 Gerokgak.

Saat ini SDN 1 Baktiseraga menjadi satu-satunya sekolah dasar negeri di Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng. Padahal desa itu memiliki 4 dusun. Sekolah telah menambah rombongan belajar, namun belum mampu menampung siswa.

Hal serupa terjadi di SDN 5 Sangsit. Sekolah itu menampung siswa dari penjuru Desa Giri Emas. Sedangkan SMPN 2 Gerokgak, harus menampung siswa dari 3 desa. Yakni Desa Pejarakan, Desa Sumberkima, dan Desa Pemuteran.

Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata saat dikonfirmasi, tak menampik hal tersebut. Menurutnya Disdikpora telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menampung para siswa.

Strategi pertama ialah mengoptimalkan ruang kelas. Sesuai aturan, satu ruang kelas hanya bisa menampung 28 orang siswa untuk jenjang sekolah dasar, dan 32 orang siswa pada jenjang SMP. Disdik akan berusaha mengoptimalkan menjadi 30 orang siswa untuk jenjang SD dan 40 siswa untuk jenjang SMP.

Bila belum memadai, pihaknya menyiapkan strategi lain. Yakni menyiapkan sekolah double shift. “Sepanjang bisa dioptimalkan untuk satu shift, ya kami optimalkan. Kalau tidak, terpaksa double shift. Kalau melihat kondisi kepadatan kurikulum, kami rasa double shift memungkinkan,” katanya.

Pihaknya juga tengah menyiapkan kajian kepada pemerintah daerah. Kajian itu berkaitan dengan rencana penambahan sekolah. Baik di jenjang SD maupun SMP. Mengingat kepadatan siswa terus tumbuh.

“Seperti di Baktiseraga, Giri Emas, dan Pejarakan itu ada harapan dari masyarakat agar membangun sekolah baru. Ini akan kami kaji dulu dari sisi pertumbuhan jumlah penduduk sampai kesiapan anggaran. Kami yakin tahun ini semua siswa bisa mendapat sekolah,” tegasnya. (eps)



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/