alexametrics
30.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Warga Mendoyo Meninggal, Diduga Terinfeksi Rabies

NEGARA-  Seorang warga Banjar Petapan Kelod, Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo, meninggal diduga karena terinfeksi rabies, Rabu (11/5). Korban I Nyoman Suwena, 65, memiliki riwayat digigit anjing dan sebelum meninggal bergejala seperti terinfeksi rabies.

 

Informasi yang dihimpun, korban digigit anjing kecil peliharaan keluarganya. Korban digigit anjing empat bulan lalu. Namun korban menolak ke puskesmas untuk mendapat pengobatan. “Sudah disuruh ke puskesmas, tapi bapak tidak mau,” kata I Ketut Darma Semadi, 19, anak bungsu korban.

 

Menurut Semadi, selain bapaknya, anjing yang belum pernah mendapat vaksin juga menggigit tetangga korban sekitar enam hari kemudian. Tetapi tetangga korban sempat dibawa ke puskesmas untuk mendapat vaksin. Bahkan Nyoman Suwena yang mengantar tetangganya ke puskesmas.

 

Mengenai lokasi gigitan, menurut Semadi, sebelum meninggal bapaknya mengaku digigit pada kaki. Sementara menurut keterangan istri korban, Ketut Winten, korban mengaku digigit pada bagian jari tangan kanan. Korban sempat membilas dengan air dan diolesi cairan lidah buaya.

- Advertisement -

 

Sekitar tiga hari setelah anjing menggigit tetangga korban, anjing mati dengan sendirinya. Karena korban tidak berobat ke puskesmas dan kematian anjing tidak dilaporkan untuk diteliti sampelnya, tidak bisa dipastikan bahwa anjing memang positif rabies.

Baca Juga:  Waspada! Puluhan Desa di Buleleng Masuk Zona Merah Rabies, Anjing Gila

 

Sebelum korban meninggal, mengalami gejala yang dicurigai rabies. Korban sempat mengalami sesak nafas, sulit menelan makanan serta gelisah dan sering berontak.

 

Saat dibawa ke rumah sakit swasta, Senin (9/5), sesak nafas sudah hilang, tetapi kondisi korban gelisah dan tidak tenang. Korban yang selalu berontak sempat dua kali disuntik agar lebih tenang, tetapi tetap tidak bisa tenang. “Karena terus melawan dan mengamuk. Dibawa pulang paksa,” kata anak kedua korban kepada petugas dari puskesmas dan medivet yang melakukan investigasi.

 

Korban yang sudah dibawa pulang ke rumah, tetap sering mengamuk. Bahkan korban tidak mau makan karena sulit menelan, tubuhnya dingin dan sulit menelan makan. Sehingga korban dibawa lagi ke rumah sakit swasta pada Selasa (10/5). Setelah sempat diperiksa, disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit umum negara.

 

Saat masuk mobil untuk dibawa ke rumah sakit umum negara, korban tidak sadarkan diri sehingga dibawa masuk lagi masuk ke rumah sakit swasta. Korban mendapat penanganan medis lagi sebelum akhirnya meninggal kemarin siang.

Baca Juga:  Setelah Covid-19, Fokus Tangani Kasus Rabies

 

Kematian korban langsung didatangi petugas puskesmas 1 Mendoyo dan Bidang Kesehatan Hewan Dan Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana. Investigasi untuk menelusuri kronologi gigitan, gejala hingga korban meninggal.

 

Kepala Puskesmas 1 Mendoyo Kadek Ayu Dewi Damayanti mengatakan, pihaknya baru mendapat laporan adanya warga Petapan Kelod, Desa Pergung, meninggal dengan riwayat pernah digigit anjing rabies. Sehingga langsung melakukan investigasi ke rumah korban dengan mencari informasi detail mengenai riwayat gigitan anjing yang dialami korban. “Kami belum berani juga memastikan secara pasti, apakah benar- benar rabies,” jelasnya.

 

Karena menurutnya, mengenai meninggalnya korban harus ditelusuri dari awal, mulai pemeriksaan fisik dan gejalanya. Dari keterangan keluarga korban, memang ada mengarah terinfeksi rabies, karena punya riwayat pernah digigit anjing. Tetapi tidak bisa dipastikan. “Memang pernah digigit, tapi tidak ada luka dan pasien tidak pernah melapor ke puskemas,” jelasnya. (bas)

- Advertisement -

NEGARA-  Seorang warga Banjar Petapan Kelod, Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo, meninggal diduga karena terinfeksi rabies, Rabu (11/5). Korban I Nyoman Suwena, 65, memiliki riwayat digigit anjing dan sebelum meninggal bergejala seperti terinfeksi rabies.

 

Informasi yang dihimpun, korban digigit anjing kecil peliharaan keluarganya. Korban digigit anjing empat bulan lalu. Namun korban menolak ke puskesmas untuk mendapat pengobatan. “Sudah disuruh ke puskesmas, tapi bapak tidak mau,” kata I Ketut Darma Semadi, 19, anak bungsu korban.

 

Menurut Semadi, selain bapaknya, anjing yang belum pernah mendapat vaksin juga menggigit tetangga korban sekitar enam hari kemudian. Tetapi tetangga korban sempat dibawa ke puskesmas untuk mendapat vaksin. Bahkan Nyoman Suwena yang mengantar tetangganya ke puskesmas.

 

Mengenai lokasi gigitan, menurut Semadi, sebelum meninggal bapaknya mengaku digigit pada kaki. Sementara menurut keterangan istri korban, Ketut Winten, korban mengaku digigit pada bagian jari tangan kanan. Korban sempat membilas dengan air dan diolesi cairan lidah buaya.

 

Sekitar tiga hari setelah anjing menggigit tetangga korban, anjing mati dengan sendirinya. Karena korban tidak berobat ke puskesmas dan kematian anjing tidak dilaporkan untuk diteliti sampelnya, tidak bisa dipastikan bahwa anjing memang positif rabies.

Baca Juga:  Waspada! Puluhan Desa di Buleleng Masuk Zona Merah Rabies, Anjing Gila

 

Sebelum korban meninggal, mengalami gejala yang dicurigai rabies. Korban sempat mengalami sesak nafas, sulit menelan makanan serta gelisah dan sering berontak.

 

Saat dibawa ke rumah sakit swasta, Senin (9/5), sesak nafas sudah hilang, tetapi kondisi korban gelisah dan tidak tenang. Korban yang selalu berontak sempat dua kali disuntik agar lebih tenang, tetapi tetap tidak bisa tenang. “Karena terus melawan dan mengamuk. Dibawa pulang paksa,” kata anak kedua korban kepada petugas dari puskesmas dan medivet yang melakukan investigasi.

 

Korban yang sudah dibawa pulang ke rumah, tetap sering mengamuk. Bahkan korban tidak mau makan karena sulit menelan, tubuhnya dingin dan sulit menelan makan. Sehingga korban dibawa lagi ke rumah sakit swasta pada Selasa (10/5). Setelah sempat diperiksa, disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit umum negara.

 

Saat masuk mobil untuk dibawa ke rumah sakit umum negara, korban tidak sadarkan diri sehingga dibawa masuk lagi masuk ke rumah sakit swasta. Korban mendapat penanganan medis lagi sebelum akhirnya meninggal kemarin siang.

Baca Juga:  Masuk Zona Merah Rabies, Petugas Makin Gencar Buru Anjing di Kubu

 

Kematian korban langsung didatangi petugas puskesmas 1 Mendoyo dan Bidang Kesehatan Hewan Dan Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana. Investigasi untuk menelusuri kronologi gigitan, gejala hingga korban meninggal.

 

Kepala Puskesmas 1 Mendoyo Kadek Ayu Dewi Damayanti mengatakan, pihaknya baru mendapat laporan adanya warga Petapan Kelod, Desa Pergung, meninggal dengan riwayat pernah digigit anjing rabies. Sehingga langsung melakukan investigasi ke rumah korban dengan mencari informasi detail mengenai riwayat gigitan anjing yang dialami korban. “Kami belum berani juga memastikan secara pasti, apakah benar- benar rabies,” jelasnya.

 

Karena menurutnya, mengenai meninggalnya korban harus ditelusuri dari awal, mulai pemeriksaan fisik dan gejalanya. Dari keterangan keluarga korban, memang ada mengarah terinfeksi rabies, karena punya riwayat pernah digigit anjing. Tetapi tidak bisa dipastikan. “Memang pernah digigit, tapi tidak ada luka dan pasien tidak pernah melapor ke puskemas,” jelasnya. (bas)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/