alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Pengiriman Sapi Dihentikan, Peternak dan Pedagang Sapi di Jembrana Resah

NEGARA – Merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi dan kambing, membuat resah peternak dan pengepul di Jembrana. Karena dengan merebaknya penyakit tersebut, para peternak dan pengepul bisa mengalami kerugian.

Seperti yang diungkapkan pengepul kambing dan peternak sapi di Jembrana.Karena merebaknya PMK di wilayah Jawa Timur, pengepul kambing tidak bisa menerima dari Jawa Timur karena sudah dihentikan sementara. Begitu juga dengan pengiriman sapi keluar Bali yang juga dihentikan sementara.

Ketut Artawa, salah satu peternak sapi dan kambing di Desa Banyubiru mengungkapkan, peternak resah karena khawatir tertular PMK. Meski saat ini belum merebak di Jembrana, peternak tetap konsultasi dengan dokter hewan.

“Kalau terus seperti ini. Kita sebagai peternak dirugikan. Menjual kita susah,” ungkapnya, Kamis (12/5).

Karena biasanya, sapi Bali banyak yang dikirim keluar Bali. Termasuk sapi hasil ternaknya distribusinya ke Jawa, apalagi dalam waktu dekat pesanan sapi Bali akan meningkat karena sudah mendekati hari Raya Idul Adha.

“Karena tidak bisa kirim keluar Bali, bisa rugi,” ungkapnya.

Terpisah, pengepul kambing di Desa Banyubiru juga dirugikan dengan merebaknya PMK. Karena tidak bisa menerima kiriman kambing dari Jawa. Setiap bulan, biasa menerima tiga kali kiriman kambing dengan jumlah setiap pengiriman hingga 30 ekor sapi.

Baca Juga:  Lansia Miskin Ini Tertimpa Rumah Ambruk saat akan Pergi Salat Subuh

“Karena sudah tidak ada kiriman dari Jawa. Sekarang maksimalkan kambing lokal saja,” kata Fathul Mubin, pengepul kambing.

Apabila larangan lalu lintas pengiriman kambing dari Jawa dihentikan sementara, khawatirnya populasi kambing di Jembrana berkurang drastis dan mempengaruhi harga kambing. Pedagang kambing ini berharap, ada solusi mengenai pengiriman kambing ke Bali.

Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Wayan Widarsa mengatakan, menindaklanjuti rapat mengenai PMK di provinsi Bali, pihaknya melakukan monitoring dan surveilans ke peternak dan pengepul.

“Kegiatan ini untuk kesiapsiagaan dan antisipasi terhadap PMK yang merebak di tujuh kabupaten Jawa Timur,” jelasnya.

Menurutnya, sebelum masyarakat Jembrana dan Bali suplai kebutuhan kambing kebanyakan dari Jawa Timur. Karena itu, pihaknya mengimbau kepada pedagang untuk tidak menerima kiriman dari Jawa.

“Karena wabah penyakit ini mengganas di Jawa Timur. Takutnya nanti, karena penyakit ini sangat akut dan penularannya sangat cepat pada hewan ternak yang menyebabkan kerugian bagi peternak dan pengepul,” terangnya.

Baca Juga:  Warung Milik Warga Pendem Diamuk Api saat Hari Raya Nyepi

Dari hasil monitoring dan surveilans ke peternak dan pengepul di Jembrana, dipastikan tidak ada PMK di Jembrana. Karena kambing merupakan kambing lokal saja sejak penghentian pengiriman masuk Bali. Begitu juga dengan pengiriman sapi keluar Bali dihentikan sementara untuk menekan penyebaran penyakit.

Menurut dokter hewan ini, penyakit ini bersifat akut dan penyebaran cepat. Sehingga, jika ada satu ekor hewan saja yang terjangkit, maka akan cepat menular. Dampaknya menyebabkan kerugian ekonomi akan tambah besar.

“PMK ini karena virus tidak ada obat. Yang ada sangat vaksin. Langkah awal yang kita pakai, jika ada tanda-tanda yang menyerupai kita lakukan tindakan isolasi hewan dan mensucihamakan kandang, peralatan hewan serta penguat daya tahan tubuh hewan,” terangnya.

Uniknya penyakit ini, lanjutnya, angka sakit sangat tinggi dan kematian rendah. Sehingga bisa menyebabkan kerugian besar bagi peternak dan pedagang sapi. (bas)

- Advertisement -
- Advertisement -

NEGARA – Merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi dan kambing, membuat resah peternak dan pengepul di Jembrana. Karena dengan merebaknya penyakit tersebut, para peternak dan pengepul bisa mengalami kerugian.

Seperti yang diungkapkan pengepul kambing dan peternak sapi di Jembrana.Karena merebaknya PMK di wilayah Jawa Timur, pengepul kambing tidak bisa menerima dari Jawa Timur karena sudah dihentikan sementara. Begitu juga dengan pengiriman sapi keluar Bali yang juga dihentikan sementara.

Ketut Artawa, salah satu peternak sapi dan kambing di Desa Banyubiru mengungkapkan, peternak resah karena khawatir tertular PMK. Meski saat ini belum merebak di Jembrana, peternak tetap konsultasi dengan dokter hewan.


“Kalau terus seperti ini. Kita sebagai peternak dirugikan. Menjual kita susah,” ungkapnya, Kamis (12/5).

Karena biasanya, sapi Bali banyak yang dikirim keluar Bali. Termasuk sapi hasil ternaknya distribusinya ke Jawa, apalagi dalam waktu dekat pesanan sapi Bali akan meningkat karena sudah mendekati hari Raya Idul Adha.

“Karena tidak bisa kirim keluar Bali, bisa rugi,” ungkapnya.

Terpisah, pengepul kambing di Desa Banyubiru juga dirugikan dengan merebaknya PMK. Karena tidak bisa menerima kiriman kambing dari Jawa. Setiap bulan, biasa menerima tiga kali kiriman kambing dengan jumlah setiap pengiriman hingga 30 ekor sapi.

Baca Juga:  Suka Cita Jumat Agung Jemaat Gereja Rock Negara, Jembrana

“Karena sudah tidak ada kiriman dari Jawa. Sekarang maksimalkan kambing lokal saja,” kata Fathul Mubin, pengepul kambing.

Apabila larangan lalu lintas pengiriman kambing dari Jawa dihentikan sementara, khawatirnya populasi kambing di Jembrana berkurang drastis dan mempengaruhi harga kambing. Pedagang kambing ini berharap, ada solusi mengenai pengiriman kambing ke Bali.

Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Wayan Widarsa mengatakan, menindaklanjuti rapat mengenai PMK di provinsi Bali, pihaknya melakukan monitoring dan surveilans ke peternak dan pengepul.

“Kegiatan ini untuk kesiapsiagaan dan antisipasi terhadap PMK yang merebak di tujuh kabupaten Jawa Timur,” jelasnya.

Menurutnya, sebelum masyarakat Jembrana dan Bali suplai kebutuhan kambing kebanyakan dari Jawa Timur. Karena itu, pihaknya mengimbau kepada pedagang untuk tidak menerima kiriman dari Jawa.

“Karena wabah penyakit ini mengganas di Jawa Timur. Takutnya nanti, karena penyakit ini sangat akut dan penularannya sangat cepat pada hewan ternak yang menyebabkan kerugian bagi peternak dan pengepul,” terangnya.

Baca Juga:  Ini Alasan Pelaku Pelecehan Seksual Diangkat Jadi Kadis di Jembrana

Dari hasil monitoring dan surveilans ke peternak dan pengepul di Jembrana, dipastikan tidak ada PMK di Jembrana. Karena kambing merupakan kambing lokal saja sejak penghentian pengiriman masuk Bali. Begitu juga dengan pengiriman sapi keluar Bali dihentikan sementara untuk menekan penyebaran penyakit.

Menurut dokter hewan ini, penyakit ini bersifat akut dan penyebaran cepat. Sehingga, jika ada satu ekor hewan saja yang terjangkit, maka akan cepat menular. Dampaknya menyebabkan kerugian ekonomi akan tambah besar.

“PMK ini karena virus tidak ada obat. Yang ada sangat vaksin. Langkah awal yang kita pakai, jika ada tanda-tanda yang menyerupai kita lakukan tindakan isolasi hewan dan mensucihamakan kandang, peralatan hewan serta penguat daya tahan tubuh hewan,” terangnya.

Uniknya penyakit ini, lanjutnya, angka sakit sangat tinggi dan kematian rendah. Sehingga bisa menyebabkan kerugian besar bagi peternak dan pedagang sapi. (bas)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/