alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Setiap Hari 50 Warga Digigit Anjing, Stok Vaksin di Jembrana Hampir Habis

NEGARA – Kasus rabies di Jembrana masih menjadi yang tertinggi di Bali. Sebanyak 94 kasus dalam lima bulan terakhir. Jumlah kasus ini bisa bertambah setiap harinya, karena jumlah kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) yang bisa mencapai 50 kasus setiap harinya. Sementara itu, jumlah vaksin rabies untuk HPR hampir habis. Hanya cukup digunakan untuk respons cepat jika ada kasus gigitan anjing yang sudah dipastikan positif rabies.

Padahal setiap harinya, Dinas Pertanian dan Pangan melalui Bidang Kesehatan Hewan Dan Kesehatan Masyarakat Veteriner gencar melakukan vaksinasi massal terhadap HPR, terutama anjing. Sepeti vaksinasi yang dilakukan di Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo, Kamis (12/5).

Vaksinasi tersebut selain sudah terjadwal, sebagai respon karena adanya warga meninggal dengan riwayat digigit anjing. Semua tim vaksinasi dikerahkan, sehingga vaksinasi bisa maksimal menjangkau semua HPR terutama anjing.

“Vaksinasi ini untuk pengendalian penyakit rabies. Kebetulan hari ini jadwal vaksinasi massal di Banjar Petapan Kelod, Desa Pergung,” ujar I Gusti Ngurah Bagus Rai Mulyawan, sub koordinator kesehatan hewan bidang Kesehatan Hewan Dan Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana.

Baca Juga:  Terus Terulang, Ratusan Rumah Warga Pengambengan Terendam Banjir

Tingginya kasus rabies di Jembrana, membuat vaksin cepat habis. Bahkan saat ini jumlah terbatas. Padahal fokus vaksinasi pada 22 desa dan kelurahan se-Jembrana yang masuk zona merah.

“Dengan perkembangan kasus rabies saat ini, kita kekurangan vaksin rabies. Sehingga tentu menjadi perimbangan kita untuk melakukan langka ke depan mengendalikan rabies,” terangnya.

Menurutnya, jumlah vaksin rabies yang dimiliki dari awal tahun 2022 yang merupakan sisa tahun 2021 sebanyak 6000 viral. Kemudian mendapat pinjaman vaksin rabies dari Badung 1000 vial dan vaksin dari Buleleng 3500 vial. Sehingga total yang ada sebanyak 10500 vial vaksin rabies. Saat ini sisa sekitar 500 vial vaksin yang khusus untuk respon cepat jika ada kasus gigitan positif rabies.

Padahal jumlah populasi anjing di Jembrana estimasinya sebanyak 46 ribu ekor anjing. Sehingga dari jumlah yang bisa divaksin tahun ini sekitar 10 ribu ekor anjing. Masih ada 36 ribu yang belum bisa divaksin tahun ini.

“Sambil masih menunggu juga vaksin yang dari provinsi,” jelasnya.

Mengenai zona merah rabies, dari 5 Kecamatan di Jembrana sampai bulan Maret lalu hanya 4 kecamatan yang masuk zona merah. Kecamatan Pekutatan yang sebelumnya tidak ada kasus, mulai ada kasus rabies. Sehingga sampai bulan April, seluruh kecamatan di Jembrana saat ini sudah masuk zona merah.

Baca Juga:  Baleganjur Iringi Prosesi Ibadah Paskah di GKPB Desa Blimbingsari

“Sekitar 50, persen desa dan kelurahan yang sudah masuk zona entah dari 51 desa dan kelurahan,” ungkapnya.

Selain itu, tren kasus rabies di Jembrana berdasarkan kecamatan sudah berubah. Awalnya, Kecamatan Melaya tertinggi kasus rabies, saat ini yang tertinggi Kecamatan Mendoyo.

Sedangan jumlah kasus positif rabies, sebanyak 94 kasus dari bulan Januari hingga 9 Mei lalu. Rata-rata kasus gigitan, berdasarkan informasi dari 10 puskesmas di Jembrana setiap harinya sebanyak 50 kasus gigitan. Namun dari jumlah kasus gigitan tersebut tidak semua positif rabies.

Karena banyak kasus gigitan, setiap harinya banyak sampel anjing yang dikirim ke laboratorium di Denpasar untuk diteliti lebih lanjut.

“Kebetulan hari ini juga, ada dari balai besar veteriner yang melakukan surveilans. Kami sudah titipkan sampel hari ini dan kemarin, hasilnya belum kelar,” tandasnya. (bas)

NEGARA – Kasus rabies di Jembrana masih menjadi yang tertinggi di Bali. Sebanyak 94 kasus dalam lima bulan terakhir. Jumlah kasus ini bisa bertambah setiap harinya, karena jumlah kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) yang bisa mencapai 50 kasus setiap harinya. Sementara itu, jumlah vaksin rabies untuk HPR hampir habis. Hanya cukup digunakan untuk respons cepat jika ada kasus gigitan anjing yang sudah dipastikan positif rabies.

Padahal setiap harinya, Dinas Pertanian dan Pangan melalui Bidang Kesehatan Hewan Dan Kesehatan Masyarakat Veteriner gencar melakukan vaksinasi massal terhadap HPR, terutama anjing. Sepeti vaksinasi yang dilakukan di Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo, Kamis (12/5).

Vaksinasi tersebut selain sudah terjadwal, sebagai respon karena adanya warga meninggal dengan riwayat digigit anjing. Semua tim vaksinasi dikerahkan, sehingga vaksinasi bisa maksimal menjangkau semua HPR terutama anjing.

“Vaksinasi ini untuk pengendalian penyakit rabies. Kebetulan hari ini jadwal vaksinasi massal di Banjar Petapan Kelod, Desa Pergung,” ujar I Gusti Ngurah Bagus Rai Mulyawan, sub koordinator kesehatan hewan bidang Kesehatan Hewan Dan Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana.

Baca Juga:  Punya Penyakit Ginjal, Satpam RS Negara Meninggal Terkonfirmasi Covid

Tingginya kasus rabies di Jembrana, membuat vaksin cepat habis. Bahkan saat ini jumlah terbatas. Padahal fokus vaksinasi pada 22 desa dan kelurahan se-Jembrana yang masuk zona merah.

“Dengan perkembangan kasus rabies saat ini, kita kekurangan vaksin rabies. Sehingga tentu menjadi perimbangan kita untuk melakukan langka ke depan mengendalikan rabies,” terangnya.

Menurutnya, jumlah vaksin rabies yang dimiliki dari awal tahun 2022 yang merupakan sisa tahun 2021 sebanyak 6000 viral. Kemudian mendapat pinjaman vaksin rabies dari Badung 1000 vial dan vaksin dari Buleleng 3500 vial. Sehingga total yang ada sebanyak 10500 vial vaksin rabies. Saat ini sisa sekitar 500 vial vaksin yang khusus untuk respon cepat jika ada kasus gigitan positif rabies.

Padahal jumlah populasi anjing di Jembrana estimasinya sebanyak 46 ribu ekor anjing. Sehingga dari jumlah yang bisa divaksin tahun ini sekitar 10 ribu ekor anjing. Masih ada 36 ribu yang belum bisa divaksin tahun ini.

“Sambil masih menunggu juga vaksin yang dari provinsi,” jelasnya.

Mengenai zona merah rabies, dari 5 Kecamatan di Jembrana sampai bulan Maret lalu hanya 4 kecamatan yang masuk zona merah. Kecamatan Pekutatan yang sebelumnya tidak ada kasus, mulai ada kasus rabies. Sehingga sampai bulan April, seluruh kecamatan di Jembrana saat ini sudah masuk zona merah.

Baca Juga:  Undangan Pelantikan Bupati-Wabup Jembrana harus Rapid Test Antigen

“Sekitar 50, persen desa dan kelurahan yang sudah masuk zona entah dari 51 desa dan kelurahan,” ungkapnya.

Selain itu, tren kasus rabies di Jembrana berdasarkan kecamatan sudah berubah. Awalnya, Kecamatan Melaya tertinggi kasus rabies, saat ini yang tertinggi Kecamatan Mendoyo.

Sedangan jumlah kasus positif rabies, sebanyak 94 kasus dari bulan Januari hingga 9 Mei lalu. Rata-rata kasus gigitan, berdasarkan informasi dari 10 puskesmas di Jembrana setiap harinya sebanyak 50 kasus gigitan. Namun dari jumlah kasus gigitan tersebut tidak semua positif rabies.

Karena banyak kasus gigitan, setiap harinya banyak sampel anjing yang dikirim ke laboratorium di Denpasar untuk diteliti lebih lanjut.

“Kebetulan hari ini juga, ada dari balai besar veteriner yang melakukan surveilans. Kami sudah titipkan sampel hari ini dan kemarin, hasilnya belum kelar,” tandasnya. (bas)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/