alexametrics
26.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Pernah Digigit Anjing, Istri Pensiunan Polisi Meninggal

NEGARA- Seorang warga dari Lingkungan Satria, Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana, meninggal dengan riwayat pernah digigit anjing, Jumat (20/5). Korban meninggal bernama I Gusti Ayu Parwati, 65. Sebelumnya korban mendapat perawatan sekitar delapan jam di rumah sakit.

 

Menurut suami korban, I Ketut Gari, 72, istrinya sempat mengeluhkan sakit pinggul dan sering buang air kecil. Sehingga dibawa ke salah satu rumah sakit swasta dan langsung menjalani rawat inap, Kamis (19/5) sore. “Istri tiba -tiba mengeluhkan sakit, kencing terus,” ungkapnya.

 

Awalnya tidak menduga gejala rabies, karena istrinya menderita tensi tinggi. Namun dari keterangan dokter yang memeriksa, istrinya meninggal karena komplikasi. Selain karena serangan jantung dan diabetes, diduga karena rabies. “Dokter tidak bisa memastikan rabies, tapi melihat gejalanya sepertinya rabies,” jelasnya.

 

Pensiunan polisi ini mengingat bahwa istrinya pernah digigit anjing pada hari Minggu 13 Februari 2022. Saat itu, istrinya hendak belanja ke pasar pagi di Lingkungan Satria dengan mengendarai motor seorang diri.

 

Sekitar 25 meter arah barat rumahnya. Ada tiga anjing di jalan, salah satunya di tengah jalan, sehingga korban memacu motornya pelan. Namun tiba-tiba, anjing yang berada di tengah jalan menggigit korban pada jari kelingking kaki kiri. “Pulang dari pasar sempat dibersihkan dengan air,” jelasnya.

 

Gigitan anjing milik tetangganya itu, membuat jari kelingking kaki kiri korban mengalami luka. Sempat keluar darah sedikit. Sehingga suaminya mengajak istrinya ke klinik untuk diperiksa, karena klinik tutup disarankan untuk ke Puskesmas terdekat.

Namun istrinya menolak diajak ke puskesmas karena merasa sehat, bekas gigitan tidak sakit.  Serta istrinya mengaku takut disuntik. “Sudah diajak ke puskemas, tapi bilang tidak apa-apa, tidak usah ke puskesmas,” ujarnya.

 

Karena khawatir dengan kondisi istrinya, Gari sempat mendatangi pemilik anjing. Saat itu, anaknya mengatakan anjing masih ada di rumah. Namun beberapa hari kemudian saat ditanya lagi, anjing yang menggigit korban sudah hilang. Pemiliknya tidak mengetahui anjingnya dimana.

Selang tiga bulan kemudian, Kamis (19/5) lalu, korban mengeluhkan sakit pinggul dan sering kencing. Setelah menjalani rawat inap sekitar delapan jam, Jumat (20/5) pagi dinyatakan meninggal.

 

Jenazah korban kemudian dibawa kampung halamannya di Kabupaten Karangasem untuk dilakukan upacara pengabenan.

 

Kepala Dinas Kesehatan Jembrana I Made Dwipayana, saat dikonfirmasi mengatakan, setelah mendapat informasi mengenai kabar meninggalnya warga dengan riwayat pernah digigit anjing langsung mengutus tim medis melakukan penelusuran ke rumah sakit tempat dirawat dan rumah pasien yang meninggal.

 

Menurutnya, dari keterangan dokter yang melakukan pemeriksaan karena ada radang otak. Dari gejala ini memang mengarah pada rabies, namun penyebabnya harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap pasien.

 

Karena pasien juga ada penyakit jantung dan diabetes. Namun untuk memastikan bahwa pasien karena infeksi rabies, harus melihat gejala – gejala lain yang dialami. “Sementara radang otaknya yang mengarah rabies, tidak ada gejala lain mengarah rabies,” jelasnya.

 

Sementara itu, saat petugas menelusuri kepada keluarga pasien tidak ada informasi yang didapat, termasuk kepada pemilik anjing karena ke Karangasem ikut mengantar jenazah pasien. Akan tetapi, infomasi dari pihak kelurahan memang ada riwayat gigitan anjing awal bulan Februari lalu. “Setelah terjadi gigitan tidak melapor ke puskesmas,” jelasnya.

 

Anjing yang menggigit juga dilaporkan hilang, sehingga tidak bisa dilakukan observasi untuk memastikan infeksi rabies pada anjing. Karena itu, pihaknya mengimbau pada masyarakat untuk segera melapor jika digigit anjing agar bisa dilakukan observasi. Apabila anjing positif rabies, maka korban gigitan bisa disuntik vaksin anti rabies. (bas)

 



NEGARA- Seorang warga dari Lingkungan Satria, Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana, meninggal dengan riwayat pernah digigit anjing, Jumat (20/5). Korban meninggal bernama I Gusti Ayu Parwati, 65. Sebelumnya korban mendapat perawatan sekitar delapan jam di rumah sakit.

 

Menurut suami korban, I Ketut Gari, 72, istrinya sempat mengeluhkan sakit pinggul dan sering buang air kecil. Sehingga dibawa ke salah satu rumah sakit swasta dan langsung menjalani rawat inap, Kamis (19/5) sore. “Istri tiba -tiba mengeluhkan sakit, kencing terus,” ungkapnya.

 

Awalnya tidak menduga gejala rabies, karena istrinya menderita tensi tinggi. Namun dari keterangan dokter yang memeriksa, istrinya meninggal karena komplikasi. Selain karena serangan jantung dan diabetes, diduga karena rabies. “Dokter tidak bisa memastikan rabies, tapi melihat gejalanya sepertinya rabies,” jelasnya.

 

Pensiunan polisi ini mengingat bahwa istrinya pernah digigit anjing pada hari Minggu 13 Februari 2022. Saat itu, istrinya hendak belanja ke pasar pagi di Lingkungan Satria dengan mengendarai motor seorang diri.

 

Sekitar 25 meter arah barat rumahnya. Ada tiga anjing di jalan, salah satunya di tengah jalan, sehingga korban memacu motornya pelan. Namun tiba-tiba, anjing yang berada di tengah jalan menggigit korban pada jari kelingking kaki kiri. “Pulang dari pasar sempat dibersihkan dengan air,” jelasnya.

 

Gigitan anjing milik tetangganya itu, membuat jari kelingking kaki kiri korban mengalami luka. Sempat keluar darah sedikit. Sehingga suaminya mengajak istrinya ke klinik untuk diperiksa, karena klinik tutup disarankan untuk ke Puskesmas terdekat.

Namun istrinya menolak diajak ke puskesmas karena merasa sehat, bekas gigitan tidak sakit.  Serta istrinya mengaku takut disuntik. “Sudah diajak ke puskemas, tapi bilang tidak apa-apa, tidak usah ke puskesmas,” ujarnya.

 

Karena khawatir dengan kondisi istrinya, Gari sempat mendatangi pemilik anjing. Saat itu, anaknya mengatakan anjing masih ada di rumah. Namun beberapa hari kemudian saat ditanya lagi, anjing yang menggigit korban sudah hilang. Pemiliknya tidak mengetahui anjingnya dimana.

Selang tiga bulan kemudian, Kamis (19/5) lalu, korban mengeluhkan sakit pinggul dan sering kencing. Setelah menjalani rawat inap sekitar delapan jam, Jumat (20/5) pagi dinyatakan meninggal.

 

Jenazah korban kemudian dibawa kampung halamannya di Kabupaten Karangasem untuk dilakukan upacara pengabenan.

 

Kepala Dinas Kesehatan Jembrana I Made Dwipayana, saat dikonfirmasi mengatakan, setelah mendapat informasi mengenai kabar meninggalnya warga dengan riwayat pernah digigit anjing langsung mengutus tim medis melakukan penelusuran ke rumah sakit tempat dirawat dan rumah pasien yang meninggal.

 

Menurutnya, dari keterangan dokter yang melakukan pemeriksaan karena ada radang otak. Dari gejala ini memang mengarah pada rabies, namun penyebabnya harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap pasien.

 

Karena pasien juga ada penyakit jantung dan diabetes. Namun untuk memastikan bahwa pasien karena infeksi rabies, harus melihat gejala – gejala lain yang dialami. “Sementara radang otaknya yang mengarah rabies, tidak ada gejala lain mengarah rabies,” jelasnya.

 

Sementara itu, saat petugas menelusuri kepada keluarga pasien tidak ada informasi yang didapat, termasuk kepada pemilik anjing karena ke Karangasem ikut mengantar jenazah pasien. Akan tetapi, infomasi dari pihak kelurahan memang ada riwayat gigitan anjing awal bulan Februari lalu. “Setelah terjadi gigitan tidak melapor ke puskesmas,” jelasnya.

 

Anjing yang menggigit juga dilaporkan hilang, sehingga tidak bisa dilakukan observasi untuk memastikan infeksi rabies pada anjing. Karena itu, pihaknya mengimbau pada masyarakat untuk segera melapor jika digigit anjing agar bisa dilakukan observasi. Apabila anjing positif rabies, maka korban gigitan bisa disuntik vaksin anti rabies. (bas)

 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/