alexametrics
26.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Babi Sudah Diperbolehkan Keluar Bali Lewat Gilimanuk, Tapi Sapi Belum Boleh

NEGARA, Radar Bali – Setelah sempat dilarang untuk mengantisipasi penularan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak, pengiriman hewan seperti babi dari Bali ke Jawa melalui Pelabuhan Gilimanuk, mulai diperbolehkan lagi. Namun, untuk yang masuk Bali masih tetap dilarang untuk mencegah masuknya PMK masuk Bali.

Penanggungjawab Karantina Pertanian Wilker Gilimanuk Nyoman Ludra mengatakan, untuk pengiriman hewan ternak keluar dan masuk Bali sebelumnya memang dilarang untuk mencegah penyebaran PMK. Tetapi sejak 25 Mei untuk pengiriman babi dari Bali sudah mulai dibolehkan yang keluar Bali, tetapi yang masuk Bali masih dilarang. “Kalau yang keluar Bali boleh, masuknya masih dilarang,” tegasnya.

Dibolehkan pengiriman keluar Bali melalui Pelabuhan Gilimanuk tersebut berdasarkan surat dari Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian kepada kepala balai karantina  pertanian kelas I Denpasar. Namun, syarat-syarat karantina sebelum menyeberang dari Pelabuhan Gilimanuk harus dipenuhi.

Ludra mengutip surat dibolehkan pengiriman babi keluar Bali. Dijelaskan, merespon surat Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Nomor: B.33.524/32443/PKH/DISTANPANGAN Tangga 25 Mei 2022 dan Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali Nomor: 015/GUPBI/V/2022 Tanggal 25 Mei 2022.

Serta permintaan pengusaha babi dengan mempertimbangkan kesulitan transportasi laut untuk mengangkut babi dari Bali langsung menuju Jakarta, serta belum ditemukannya kasus PMK pada babi di Indonesia. Maka sambil mencari alternatif pengangkutan melalui transportasi laut, untuk sementara waktu membolehkan pengangkutan babi dari Bali langsung menuju Jakarta mempergunakan transportasi darat.

Namun, ketentuan harus dipatuhi. Diantaranya, babi telah dilakukan masa karantina 14 hari di IKH di Bali dan dinyatakan sehat atau tidak menunjukkan gejala PMK.

Pengiriman babi dilengkapi dengan  SKKH atau Sertifikat Veteriner dari Otoritas Veteriner kabupaten atau kota di daerah asal yang menyatakan babi berasal dari daerah bebas  daerah yang tidak ditemukan gejala klinis PMK. Rekomendasi pemasukan dari dinas provinsi tujuan yang membidangi Peternakan dan Kesehatan Hewan dan rekomendasi pengeluaran dari dinas provinsi asal yang membidangi.

Sebelumnya, pengiriman babi Keluar Bali dilarang. Sehingga sebanyak tiga truk berisi masing-masing 70 ekor ditolak Karantina Ketapang karena ada larangan masuk wilayah Jawa Timur. Larangan tersebut untuk mengantipasi penularan PMK pada hewan.

Sementara untuk pengiriman sapi keluar Bali, masih tetap sesuai aturan sebelumnya, lalu lintas melalui Pelabuhan Gilimanuk masih dilarang. Padahal sapi Bali, salah satu komoditas yang lebih banyak dikirim keluar Bali. Sementara pengiriman masih melalui Celukan Bawang, langsung menuju Jakarta. (bas)



NEGARA, Radar Bali – Setelah sempat dilarang untuk mengantisipasi penularan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak, pengiriman hewan seperti babi dari Bali ke Jawa melalui Pelabuhan Gilimanuk, mulai diperbolehkan lagi. Namun, untuk yang masuk Bali masih tetap dilarang untuk mencegah masuknya PMK masuk Bali.

Penanggungjawab Karantina Pertanian Wilker Gilimanuk Nyoman Ludra mengatakan, untuk pengiriman hewan ternak keluar dan masuk Bali sebelumnya memang dilarang untuk mencegah penyebaran PMK. Tetapi sejak 25 Mei untuk pengiriman babi dari Bali sudah mulai dibolehkan yang keluar Bali, tetapi yang masuk Bali masih dilarang. “Kalau yang keluar Bali boleh, masuknya masih dilarang,” tegasnya.

Dibolehkan pengiriman keluar Bali melalui Pelabuhan Gilimanuk tersebut berdasarkan surat dari Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian kepada kepala balai karantina  pertanian kelas I Denpasar. Namun, syarat-syarat karantina sebelum menyeberang dari Pelabuhan Gilimanuk harus dipenuhi.

Ludra mengutip surat dibolehkan pengiriman babi keluar Bali. Dijelaskan, merespon surat Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Nomor: B.33.524/32443/PKH/DISTANPANGAN Tangga 25 Mei 2022 dan Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali Nomor: 015/GUPBI/V/2022 Tanggal 25 Mei 2022.

Serta permintaan pengusaha babi dengan mempertimbangkan kesulitan transportasi laut untuk mengangkut babi dari Bali langsung menuju Jakarta, serta belum ditemukannya kasus PMK pada babi di Indonesia. Maka sambil mencari alternatif pengangkutan melalui transportasi laut, untuk sementara waktu membolehkan pengangkutan babi dari Bali langsung menuju Jakarta mempergunakan transportasi darat.

Namun, ketentuan harus dipatuhi. Diantaranya, babi telah dilakukan masa karantina 14 hari di IKH di Bali dan dinyatakan sehat atau tidak menunjukkan gejala PMK.

Pengiriman babi dilengkapi dengan  SKKH atau Sertifikat Veteriner dari Otoritas Veteriner kabupaten atau kota di daerah asal yang menyatakan babi berasal dari daerah bebas  daerah yang tidak ditemukan gejala klinis PMK. Rekomendasi pemasukan dari dinas provinsi tujuan yang membidangi Peternakan dan Kesehatan Hewan dan rekomendasi pengeluaran dari dinas provinsi asal yang membidangi.

Sebelumnya, pengiriman babi Keluar Bali dilarang. Sehingga sebanyak tiga truk berisi masing-masing 70 ekor ditolak Karantina Ketapang karena ada larangan masuk wilayah Jawa Timur. Larangan tersebut untuk mengantipasi penularan PMK pada hewan.

Sementara untuk pengiriman sapi keluar Bali, masih tetap sesuai aturan sebelumnya, lalu lintas melalui Pelabuhan Gilimanuk masih dilarang. Padahal sapi Bali, salah satu komoditas yang lebih banyak dikirim keluar Bali. Sementara pengiriman masih melalui Celukan Bawang, langsung menuju Jakarta. (bas)



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/