24.8 C
Denpasar
Sunday, June 4, 2023

Jelang Nyepi Berlangsung, Masyarakat Tabanan Nunas Tirta Tawur Kesanga

TABANAN,radarbali.id – Ritual rangkaian upacara sebelum Nyepi Tahun Baru Saka 1945 yakni upacara Tawur Kesanga. Ritual ini telah dilakukan oleh Umat Hindu Tabanan di Catus Pata Perempatan Kota Tabanan, Selasa (21/3).

Saat ritual Tawur Kesanga dilaksanakan yang dipuput oleh empat Sulinggih. Diantaranya Ida Pedanda Griya Jadi, Ida Pedanda Griya Tarik, Ida Pedanda Griya Taman Sari, dan Ida Pedanda Pangkung Prabu tampak hadir pula Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama para kepala OPD dan masyarakat Tabanan.

Menariknya usai ritual tawur kesanga digelar, secara bergiliran warga, pejabat, Bendesa adat se-kabupaten nunas Tirta tawur atau mengambil air yang terisi dalam sebuah wadah gentong.

Ada dua Tirta yang berada di wadah gentong diminta warga untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing. Yakni Tirta pada gentong berwarna kuning dan Tirta pada gentong berwarna putih.

Baca Juga:  Temuan Jasad Warga Beraban,Kediri, Tabanan:Kondisi Sudah Membusuk,Mengapung di Pantai Batu Mejan

Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Tabanan I Wayan Tontra menyebut nunas tirta tawur yang dilakukan warga Tabanan usai ritual tawur kesanga adalah untuk dibagikan kepada masyarakat desa.

Tirta tawur ini dipakai untuk mupuhan caru dan segehan-segehan yang dihanturkan masyarakat.

“Tirta tawur itulah yang pemupuk terakhir digunakan sebelum perayaan Nyepi Tahun Saka 1945 berlangsung,” ungkap pria yang juga Ketua FKUB Kabupaten Tabanan.

Tontra menjelaskan ada dua Tirta yang diminta warga Tabanan beragama Hindu usai tawur kesanga. Untuk Tirta pada gentong berwarna kuning berfungsi untuk menetralisir buthakala di lingkungan rumah warga sekitar. Kemudian Tirta pada gentong berwarna putih untuk diri manusia.

“Dua tirta inilah yang dibagikan kepada Bendesa Majelis Alitan, kemudian kepada Bendesa adat, banjar adat dan warga. Termasuk ada Tirta yang dibagikan kepada warga dari Pura Luhur Besakih,” jelasnya.

Baca Juga:  Gianyar Danai Tawur Kesanga di Catus Pata, Misa Digelar Dini Hari

Sedangkan untuk nasi tawur sebagai pelengkap dari pada proses pecaruan dimasing-masing rumah warga. Sehingga memberikan kesejahteraan buat warga dan sejagat alam raya.

“Secara mendalam agar kehidupan ini selaras serasi dan seimbang,” ucapnya.

Tontra menambahkan ritual lainnya sebelum Nyepi berlangsungĀ  ritual mebuhu-buhu. Ritual ini dilakukan setelah proses pecaruan di muka rumah warga masing-masing usai digelar.

Ritual mebuhu-buhu dengan ngetisan Tirta atau memercikkan air yang didapat dari tawur kesange dan Tirta dari Besakih.

Ritual mebuhu-buhu membunyikan kul-kul atau kentongan diikuti dengan membakar serabut kepala atau membakar daun-daunan. Dengan prosesinya mengelilingi rumah masing-masing.

“Tujuan ritual mebuhu-buhu ini memposisikan buthakala pada tempatnya masing-masing. Artinya tidak berada pada rumah warga,” pungkasnya. (uli/rid)



TABANAN,radarbali.id – Ritual rangkaian upacara sebelum Nyepi Tahun Baru Saka 1945 yakni upacara Tawur Kesanga. Ritual ini telah dilakukan oleh Umat Hindu Tabanan di Catus Pata Perempatan Kota Tabanan, Selasa (21/3).

Saat ritual Tawur Kesanga dilaksanakan yang dipuput oleh empat Sulinggih. Diantaranya Ida Pedanda Griya Jadi, Ida Pedanda Griya Tarik, Ida Pedanda Griya Taman Sari, dan Ida Pedanda Pangkung Prabu tampak hadir pula Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama para kepala OPD dan masyarakat Tabanan.

Menariknya usai ritual tawur kesanga digelar, secara bergiliran warga, pejabat, Bendesa adat se-kabupaten nunas Tirta tawur atau mengambil air yang terisi dalam sebuah wadah gentong.

Ada dua Tirta yang berada di wadah gentong diminta warga untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing. Yakni Tirta pada gentong berwarna kuning dan Tirta pada gentong berwarna putih.

Baca Juga:  Temuan Jasad Warga Beraban,Kediri, Tabanan:Kondisi Sudah Membusuk,Mengapung di Pantai Batu Mejan

Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Tabanan I Wayan Tontra menyebut nunas tirta tawur yang dilakukan warga Tabanan usai ritual tawur kesanga adalah untuk dibagikan kepada masyarakat desa.

Tirta tawur ini dipakai untuk mupuhan caru dan segehan-segehan yang dihanturkan masyarakat.

“Tirta tawur itulah yang pemupuk terakhir digunakan sebelum perayaan Nyepi Tahun Saka 1945 berlangsung,” ungkap pria yang juga Ketua FKUB Kabupaten Tabanan.

Tontra menjelaskan ada dua Tirta yang diminta warga Tabanan beragama Hindu usai tawur kesanga. Untuk Tirta pada gentong berwarna kuning berfungsi untuk menetralisir buthakala di lingkungan rumah warga sekitar. Kemudian Tirta pada gentong berwarna putih untuk diri manusia.

“Dua tirta inilah yang dibagikan kepada Bendesa Majelis Alitan, kemudian kepada Bendesa adat, banjar adat dan warga. Termasuk ada Tirta yang dibagikan kepada warga dari Pura Luhur Besakih,” jelasnya.

Baca Juga:  Jurus Desa Bengkel, Kediri,Tabanan, Mengelola Sampah : Ada Imbalan Insentif Kehatan hingga Sekolah

Sedangkan untuk nasi tawur sebagai pelengkap dari pada proses pecaruan dimasing-masing rumah warga. Sehingga memberikan kesejahteraan buat warga dan sejagat alam raya.

“Secara mendalam agar kehidupan ini selaras serasi dan seimbang,” ucapnya.

Tontra menambahkan ritual lainnya sebelum Nyepi berlangsungĀ  ritual mebuhu-buhu. Ritual ini dilakukan setelah proses pecaruan di muka rumah warga masing-masing usai digelar.

Ritual mebuhu-buhu dengan ngetisan Tirta atau memercikkan air yang didapat dari tawur kesange dan Tirta dari Besakih.

Ritual mebuhu-buhu membunyikan kul-kul atau kentongan diikuti dengan membakar serabut kepala atau membakar daun-daunan. Dengan prosesinya mengelilingi rumah masing-masing.

“Tujuan ritual mebuhu-buhu ini memposisikan buthakala pada tempatnya masing-masing. Artinya tidak berada pada rumah warga,” pungkasnya. (uli/rid)


Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru