Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dilema Serbuan Lalat di Area Pariwisata Kintamani Belum Ada Solusi yang Cespleng

D
Ilustrasi lalat di Kintamani. (gambar digital gemini/radar bali)
Ilustrasi lalat di Kintamani. (gambar digital gemini/radar bali)

Advertisement

KINTAMANI, Radar Bali.id - Sektor pariwisata dan pertanian selama ini menjadi dua motor penggerak utama sekaligus sumber pendapatan terbesar bagi warga di wilayah Kecamatan Kintamani, Bangli.

 Namun, belakangan ini kedua sektor unggulan tersebut justru saling berbenturan. Pemicunya adalah penggunaan kotoran ternak atau limbah mentah sebagai pupuk penyubur tanaman oleh para petani, yang memicu kedatangan kerumunan lalat dalam jumlah masif.

Imbasnya, kenyamanan sektor pariwisata pun menjadi terganggu dan tidak kondusif.

Persoalan klasik ini tampaknya belum menemui titik terang yang konkret hingga saat ini. Pasalnya, para petani setempat masih memegang keyakinan kuat bahwa kotoran ternak atau limbah mentah jauh lebih manjur dalam memberikan hasil panen pertanian yang maksimal dan cepat dibandingkan pupuk jenis lain.

Advertisement

Melihat situasi yang kian pelik, instansi terkait akhirnya berinisiatif menggelar Focus Group Discussion (FGD) atau diskusi kelompok terarah hingga beberapa kali.

Langkah ini dilakukan untuk merumuskan formula-formula solutif yang bisa diterima oleh para petani untuk mengatasi fenomena serbuan lalat tersebut. Targetnya, produktivitas pertanian tetap berjalan maksimal tanpa harus mengorbankan kenyamanan sektor pariwisata.

”Di Kintamani ini, pertanian dan pariwisata sama-sama kuat. Untuk itu harus segera dicarikan solusi. Kalau kami hanya mengutamakan pertanian, bagaimana dengan sektor pariwisatanya? Kalau hanya murni pariwisata, terus sektor pertanian yang menjadi sektor unggulan kami dikemanakan lagi,” ujar Wakil Bupati Bangli, I Wayan Diar, saat memberikan pandangannya.

Pemerintah daerah mengakui tidak heran jika proses pencarian solusi terbaik atas persoalan ini memakan waktu yang cukup lama. Sebab, ada dua kepentingan masyarakat yang harus diselamatkan bersamaan.

”Karena keinginannya, antara pariwisata dan pertanian ini tumbuh bersama-sama menguntungkan petani dan pelaku pariwisata secara keseluruhan di Kabupaten Bangli,” imbuh I Wayan Diar.

Dalam forum FGD tersebut, muncul sejumlah opsi solusi untuk menjembatani masalah ini. Salah satunya adalah dengan menggencarkan sosialisasi secara masif mengenai dampak buruk serbuan lalat akibat pemanfaatan kotoran ternak yang tidak diolah terlebih dahulu.

Advertisement

Artikel Terkait

Truk Muatan Pasir Oleng Rebah di Kintamani, Jalur Singaraja Sempat Tersendat

Truk Muatan Pasir Oleng Rebah di Kintamani, Jalur Singaraja Sempat Tersendat

Aksi kecelakaan tunggal terjadi di jalur utama utara-selatan. Sebuah truk putih bernomor polisi N 8020 UY yang dikemudikan oleh Harianto

Jenazah PMI Asal Songan Tiba dari Amerika, Pemakaman Menunggu Hari Baik

Jenazah PMI Asal Songan Tiba dari Amerika, Pemakaman Menunggu Hari Baik

Hingga Kamis (29/10/2026), jenazah almarhumah masih disemayamkan di rumah duka sembari menunggu hari baik untuk prosesi pemakaman.

Ditinggal Bekerja, Rumah Petani di Kintamani Ludes Dilalap Api

Ditinggal Bekerja, Rumah Petani di Kintamani Ludes Dilalap Api

Musibah kebakaran melanda kediaman I Wayan Arnaya, 32, seorang petani asal Desa Subaya, Kecamatan Kintamani, Bangli pada Sabtu (17/10/2026) sekitar pukul 13.00 Wita.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer