Kamis, 02 Dec 2021
Radar Bali
Home / Dwipa
icon featured
Dwipa
Menilik Kondisi Pasar Ubud Gianyar Terkini

Miris, Masih Banyak Tutup, Kalaupun Buka Biar Barang Tak Jamuran

02 Oktober 2021, 04: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

Miris, Masih Banyak Tutup, Kalaupun Buka Biar Barang Tak Jamuran

Kondisi Ubud terkini yang masih sepi meski pariwisata mulai dibuka (IB Indra Prasetya)

Share this      

GIANYAR-Pedagang di Pasar Umum Ubud masih memilih menutup dagangan mereka. Jumlah yang buka hanya 15 persen saja. Itu pun buka supaya jualan mereka tidak jamuran.

Situasi itu diungkapkan oleh Kepala UPT Pasar Umum Ubud, I Wayan Sukadana. Di pasar yang dipimpin, terdapat 1.151 pedang. Terdiri dari pelataran, los dan kios.

"Secara umum pedagang suvenir yang buka sekitar 15 persen saja. Ini sudah dua tahun sepi pengunjung, kami semua berharap segera berjalan normal dan perekonomian segera bergulir," ujarnya, Jumat (1/10).

Baca juga: Disdik Tabanan Bentuk Tim Monev Khusus Pelototi Prokes Saat PTM

Kata dia, pedagang yang masih buka adalah pasar tradisional.

Dan itupun dengan skala terbatas. "Pasar tradisionalnya masih buka seperti biasa, namun pedagang biasanya tutup lebih awal, karena sepi pembeli," ujarnya.

Sedangkan untuk kios atau art shop pedagang suvenir di Pasar Ubud, yang berjualan bisa dihitung dengan jari.

"Yang buka selain mengadu peruntungan juga menjaga toko agar selalu bersih," ujarnya.

Dijelaskan kunjungan wisatawan domestik memang sudah tampak. Namun terlihat beberapa saja di Pasar Ubud.

"Mungkin karena toko-toko pada tutup, wisatawan juga enggan masuk. Pedagang kerajinan saat ini lebih memilih wait and see. Kalau sudah ramai, dengan sendirinya juga buka,"  terangnya.

Lanjut dia, hal tersebut bukan saja berlaku di kawasan Pasar Ubud, kawasan luar pasar juga belum buka. Namun nampak satu dua pegawai yang berjaga sekadar bersih-bersih.

Sementara itu, salah satu pedagang, Jero Setia, asal Banjar Taman, Kelurahan Ubud, mengaku buka supaya pakaian yang dia jual tidak jamuran.

"Kalau didiamkan terus, apek dia. Makanya saya gelar di depan," ungkapnya.

Meski sudah buka, pembeli sangat sedikit. "Sekarang dapat jualan sedikit. Kemarin, nol. Sama sekali tidak ada yang beli," ungkapnya.

Diakui, situasi ini berbanding terbalik saat sebelum pandemi Covid-19. "Kalau dulu, rata-rata sehari jualan Rp 1 juta. Sekarang ada beli satu saja sudah syukur," pungkasnya. 

(rb/dra/pra/JPR)


 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia