Selasa, 30 Nov 2021
Radar Bali
Home / Dwipa
icon featured
Dwipa
Dari Gempa Bumi 4,8 Magnitudo di Bali Timur

1039 Rumah dan 111 Tempat Ibadah Rusak, Korban Gempa Akui Masih Trauma

18 Oktober 2021, 11: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

1039 Rumah dan 111 Tempat Ibadah Rusak, Korban Gempa Akui Masih Trauma

I Nyoman Puja saat menunjukkan lokasi tidur mendiang putrinya yang menjadi korban gempa pada Sabtu dini hari lalu. (Zulfika Rahman)

Share this      

SEHARI pascagempa berkekuatan 4,8 magnitudo yang mengguncang wilayah Karangasem pada Sabtu dini hari (16/10) menyisakan duka dan trauma bagi  warga.

Trauma dan rasa cemas terutama dirasakan bagi warga yang dampak langsung akibat gempa, seperti di Desa Ban, Kecamatan Kubu dan Desa Pempatan Kecamatan Rendang.

ZULFIKA RAHMAN, Karangasem

Baca juga: Balap Liar, Puluhan Remaja Kabur saat Digerebek, Dua Gadis Tertinggal

KEPALA Desa Ban Kubu I Gede Tamu Sugiantara mengungkapkan, update data terbaru perkembangan pascagempa, untuk di wilayah Ban yang memiliki 15 banjar Dinas dan 9 banjar Adat itu hampir 70 persen terimbas.

Dari data yang diperoleh, jumlah keluarga yang menjadi korban mencapai 1039 KK. Jumlah korban luka sebanyak 96 orang, dan meninggal dunia satu orang.

Sementara untuk kerusakan ringan bangunan rumah mencapai 636 unit, sedangkan rumah dengan kerusakan berat mencapai 403 unit.

Untuk kerusakan pada rumah ibadah mencapai 111 tempat ibadah.

“Kami bahu membahu untuk melakukan penanganan bencana secara terus menerus. Membantu evakuasi korban untuk mendapat pengobatan,” ujar Sugiantara saat melaporkan perkembangan bencana gempa bumi dihadapan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Ganip Warsito saat berkunjung ke Desa Ban, Minggu (17/10) kemarin.

Kepada awak media, Ganip Warsito menuturkan dalam konteks bencana ini meski skala gempa hanya 4,8 magnitudo namun menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap masyarakat.

“Ada 15 banjar yang terdampak di Desa Ban ini,. Dengan korban yang cukup banyak” tuturnya.

Namun dengan adanya langkah cepat yang dilakukan semua pihak, mitigasi pada korban bisa dilakukan dengan baik.

“Dengan gotong royong dari TNI Polri, desa , relawan dan berbagai elemen lainnya yang terlibat dalam penanganan,” imbuhnya.

Dia menambahkan, dalam konteks bencana yang pertama harus dilakukan adalah langkah penyelamatan korban. “Dan hal itu sudah dilakukan. Kami dari BNPB menyampaikan rasa duka cita mendalam atas korban yang terdampak. Saat ini kami melakukan uoaya memenuhi kebutuhan hidup masyarakat,” ucap Ganip.

Langkah lainnya yang dilakukan yakni dengan mendirikan tenda-tenda di areal rumah.

Sementara untuk rehabilitasi rumah-rumah warga yang terdampak, nantinya akan dilakukan sesuai tahapan.

“Daerah ini kan rawan bencana. Baik tanah longsor dan gempa bumi. Karena berada pada cesar yang bergerak setiap saat,” terangnya. 

Untuk itu, pihaknya meminta perlu dilakukan mitigasi bencana agar mengurangi dampak ke depan apabila terjadi bencana alam seperti saat ini.

Disinggung soal pemasangan alat early warning system (EWS), Ganip mengungkapkan pihak BNPB telah melakukan kerjasama dengan BMKG sebelumnya sudah memasang dua alat EWS di Desa Ban untuk mendeteksi pergerakan tanah.

Terlebih Desa Ban berada di tengah-tengah antara Gunung Batur dan Gunung Agung. “Sudah dilakukan dan Bali akan menjadi percontohan dunia dalam hal mitigasi bencana,” jelasnya.

Selain itu, Desa Ban menjadi wilayah yang paling sering mengalami dampak parah akibat bencana gempa, hal ini membuat sebagian warga trauma.

Untuk itu ke depan pihaknya telah membentuk tim melakukan pendampingan psikolog dalam melakukan trauma healing terhadap korban yang saat ini masih diselimuti rasa takut.

“Dengan begitu masyarakat bisa beraktivitas kembali seperti biasa,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Karangasem, IB Ketut Arimbawa menambahkan, bantuan dari berbagai pihak terus mengalir sehari pascabencana.

Seperti bantuan sembako, terpal, matras dan kebutuhan lainnya bagi warga. “Untuk sembako kami langsung koordinasikan kepada penyumbang,” jelasnya.

Hingga saat ini kata Arimbawa tidak ada pos pengungsian terpusat. Masyarakat lebih memilih bergeser di dekat rumah dengan mendirikan tenda berupa terpal. Namun bagi rumah warga yang mengalami kerusakan berat, penghuni rumah memilih mengungsi ke rumah kerabat. “Yang mereka harapkan saat ini tenda ukuran 4x6. TNI Polri sudah mendirikan dari kemarin (Sabtu). Pengungsian bersifat personal, karena jarak antara satu daerah dengan lainnya cukup jauh dengan wilayah perbukitan,” paparnya.

Selain itu, demi keamanan rumah dan juga hewan ternak juga menjadi pertimbangan mengapa warga enggan disatukan dalam satu posko pengungsian.

“Distribusi sembako juga bukan yang sudah jadi tetapi mentahan. Nanti masing-masing diolah sendiri,” tambah Arimbawa.

(rb/zul/pra/JPR)




 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia