Selasa, 30 Nov 2021
Radar Bali
Home / Dwipa
icon featured
Dwipa
Dari Gempa Bumi 4,8 Magnitudo di Bali Timur

Akibat Gempa, 64 Rumah dan 200 Pura Pribadi di Rendang juga Hancur

18 Oktober 2021, 14: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

Akibat Gempa, 64 Rumah dan 200 Pura Pribadi di Rendang juga Hancur

I Nyoman Puja saat menunjukkan lokasi tidur mendiang putrinya yang menjadi korban gempa pada Sabtu dini hari lalu. (Zulfika Rahman)

Share this      

KARANGASEM-Selain di Desa Ban, kerusakan parah akibat gempa bumi berkekuatan 4,8 magnitudo yang terjadi di wilayah Bali Timur juga mengakibatkan kerusakan bangunan rumah dan pura di Desa Pempatan, Kecamatan Rendang.

Sesuai catatan, akibat dampak gempa, terdapat 64 kerusakan rumah dengan kategori berat dan 200 lebih pura pribadi yang hancur di Kecamatan Rendang.

Hal ini juga menjadi atensi pihak terkait.

Baca juga: Pengusaha Optimistis Harga Porang Bali Bakal Meroket Lagi

“Awalnya mau buat posko induk di Amlapura. Tapi kejauhan. Karena ada dua titik yang mesti kita tangani. Untun itu posko induknya kami tempatkan di kantor desa Ban ini. Karena akses distribusi logistik dekat dari keduanya,” kata Kepala BPBD Karangasem, IB Ketut Arimbawa

Hingga saat ini, imbuhnya, sejumlah instansi bahu membahu melakukan pembukaan akses jalan yang tertutup material longsor.

Terutama akses jalan menuju rumah warga sehingga distribusi sembako bisa berjalan lancar.

“Tidak semua bisa dilalui alat berat, untuk itu ada yang dilakukan pembersihan secara manual. Gotong royong. Termasuk jalur yang ke rumah penduduk dengan kondisi jalan kecil,” ucapnya.

Terkait bantuan rehabilitasi rumah bagi korban bencana, pejabat asal Buleleng ini memastikan sudah melakukan koordinasi dengan BNPB pusat melalui penggunaan Dana Siap Pakai (DSP) sehingga masyarakat yang terdampak rumahnya bisa dengan cepat diperbaiki.

“Kami kawal sampai tuntas. Saat ini tim BNPB sudah memetakan kerusakan rumah warga. Mungkin untuk estimasi maksimal sekitar Rp 50 juta. Tergantung kerusakan,” tandasnya. 

Sementara itu, I Nyoman Puja salah seorang korban bencana gempa di Banjar Jatituhu mengaku masih trauma.

Pria yang kehilangan anak perempuan berusia 3 tahun itu menuturkan sudah tiga kali ini merasakan dahsyatnya gempa bumi dengan skala besar.

“Tapi yang sekaran ini langsung besar. Saat kejadian itu seperti ledakan. Rumah saya langsung rubuh hingga membuat anak saya meninggal,” ucapnya.

Pihak keluarga pun sudah mengikhlaskan kepergian Ni Luh Meriani. Minggu kemarin, Meriani sudah dikubur di dekat areal rumahnya yang berada di wilayah perbukitan. 

(rb/zul/pra/JPR)


 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia