Selasa, 30 Nov 2021
Radar Bali
Home / Dwipa
icon featured
Dwipa

Gubernur Koster Dorong Garam Tradisional Bali Dikonsumsi Lebih Masif

Tinjau Petani Garam di Amed

18 Oktober 2021, 11: 45: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

Gubernur Koster Dorong Garam Tradisional Bali Dikonsumsi Lebih Masif

PANEN GARAM: Gubernur Bali Wayan Koster beserta Ketua Dekranasda Bali, Ny. Putri Koster memanen garam Amed yang dikenal punya cita rasa gurih, Minggu (17/10). (Humas Pemprov Bali for Radar Bali)

Share this      

KARANGASEM, Radar Bali- Gubernur Bali Wayan Koster kembali menegaskan kualitas garam yang diproduksi secara tradisional di kawasan Amed, Kabupaten Karangasem, Tejakula, Kabupaten Buleleng, dan beberapa daerah lain sangat baik bahkan diekspor ke berbagai negara.

"Kita punya tempat produksi garam yang punya hasil bagus, berkualitas dimanfaatkan sejak turun temurun. Utamakan dulu untuk konsumsi (lokal,red) kita," tandas Gubernur Koster saat kunjungan kerja ke sentra produksi garam Amed, Desa Purwakerthi, Kabupaten Karangasem, Minggu (17/10) pagi.

Gubernur Koster yang didampingi Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster mengungkapkan selama ini garam tradisional Bali cukup terganggu pemasarannya di tingkat lokal karena gempuran garam impor.

Baca juga: Fakta-Fakta di Balik Gempa di Bali Timur yang Perlu Diketahui

"Lalu ada alasan SNI yang mewajibkan kandungan yodium. Padahal bicara kandungan mineral lain garam kita luar biasa, punya rasa khas yang tidak bisa disamakan produk daerah lain. Untuk itu saya terbitkan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 17/2021 tentang Pemanfaatan Garam Tradisional Lokal Bali," tutur Gubernur asal Sembiran, Kabupaten Buleleng tersebut.

Terkait hal tersebut pula, gubernur menekankan bahwa ke depan produksi garam lokal Bali akan terus didorong agar bisa masuk ke pasar dan konsumen lokal Bali.

"Apalagi garam Amed sudah ada HAKI dengan indikasi geografis. Saya dorong agar Kadis Kelautan agar garam tradisional segera punya HAKI semua. Gunakan produk kita sendiri jangan malah banggakan produk luar. Kalau 4,3 juta penduduk Bali konsumsi, pasti terserap semua produk kita," tegasnya.

"Saya dorong juga bapak Bupati Karangasem untuk sosialisasi penggunaan garam tradisional untuk masyarakat," imbuhnya lagi.

Sementara itu, Ketua Koperasi Petani Garam Amed Karangasem, I Nengah Suanda memuji Gubernur Koster sebagai pemimpin yang benar-benar Satya Wacana dan terbukti.

"Ini pemimpin sebenarnya untuk Bali. Langsung datang ke sini untuk melihat petani kita," katanya.

Diuraikannya, garam hasil produksi dari Bali pengerjaannya lebih kompleks tanpa penambahan bahan kimia sehingga harganya lebih tinggi. "Kita di Amed bisa produksi 30 ton garam per tahun dengan 4 kali panen," ujarnya.

Suanda juga menjelaskan bahwa sejatinya garam Amed dan garam tradisional lokal Bali lain telah memperoleh pengakuan dan diminati di dunia kuliner serta telah dipasarkan secara nasional dan internasional.

Di samping itu juga telah diekspor ke Jepang, Korea, Thailand, Prancis, Swiss, Rusia, dan Amerika Serikat.

Gubernur Koster beserta Ny. Putri Koster yang dalam kesempatan tersebut disertai pula oleh Kapolda Bali Irjen Pol Putu Jayan Danu Putra, Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra, Bupati Karangasem I Gede Dana juga mencoba memanen garam yang dikenal punya cita rasa gurih khas tersebut.

Tampak pula mendampingi Kadisperindag Provinsi Bali, I Wayan Jarta, dan Kadis Kelautan dan perikanan Provinsi Bali, Made Sudarsana.(rba)

Tampak pula mendampingi Kadisperindag Provinsi Bali, I Wayan Jarta, dan Kadis Kelautan dan perikanan Provinsi Bali, Made Sudarsana. (rba

(rb/ken/pra/JPR)




 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia