Selasa, 30 Nov 2021
Radar Bali
Home / Dwipa
icon featured
Dwipa
Pasca Pembukaan Border Internasional di Bali

Jadwal Penerbangan Internasional di Bandara Ngurah Rai Masih Kosong

Pemerintah Didorong Belajar dari Thailand

18 Oktober 2021, 15: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

Jadwal Penerbangan Internasional di Bandara Ngurah Rai Masih Kosong

SEPI: Situasi di terminal Internasional I Gusti Ngurah Rai, Tuban, Badung, Bali (Dok Radar Bali)

Share this      

MANGUPURA–Pemerintah secara resmi telah membuka kembali penerbangan internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai, pada Kamis (14/10) lalu.

Sayangnya, meski sudah dibuka, namun hingga, Minggu (17/10) kemarin, jadwal penerbangan Internasional di Bandara Ngurah Rai masih kosong alias belum ada satupun wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Bali.

Stakeholder Relation Manager Angkasa Pura I Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Taufan Yudhistira mengakui untuk pengajuan jadwal penerbangan Internasional di Bandara Ngurah Rai hingga kemarin belum ada.

Baca juga: Akibat Gempa, 64 Rumah dan 200 Pura Pribadi di Rendang juga Hancur

“Jadwal penerbangan Internasional masih kosong,” ungkap Taufan

Belum adanya kunjungan wisman pascapembukaan border penerbangan internasional di Bali ini langsung menui sorotan dari praktisi pariwisata Bali asal Badung, Wayan Puspa Negara.

Puspa Negara mendorong agar pemerintah melakukan evaluasi penetapan masa karantina sementara dan menguatkan publik relations serta membuat MoU dengan negara yang open border.

Menurutnya, publik relations dengan bargaining position yang kuat dengan 19 negara terkait perlu dilakukan untuk meng-arrangement kedatangan para touristnya ke Bali.

Hal itu imbuh Puspa Negara guna memastikan government dari negara terkait menyatakan kesediaannya untuk mengirim warga negaranya untuk berlibur ke Bali.

Selama ini, kata Puspa Negara, pemerintah baru memberikan kebijakan untuk membuka peberbangan internasional dengan kesiapan internal, sementara kesiapan eksternal belum jelas diketahui perencanaannya.

“Kita butuh kekuatan publisitas, sosialisasi dan kerjasama dengan 19 negara tersebut. Minimal ada MoU atas ATC (Arrangement Travel Corridor) ini,” terang Puspa Negara.

Pihaknya masih menyangsikan apakah nantinya akan ada maskapai asing yang masuk ke Bali.

Hal itu diumpamakan olehnya, penerbangan internasional ke Bali sudah buka, tapi kesannya masih tertutup.

Sebab sejauh ini belum firm maskapai penerbangan mana yang akan melakukan slot/booking untuk landing di Bali.

Selain itu, masa karantina sementara yang ditetapkan 5 hari tentu menjadi pertimbangan bagi wisatawan untuk berlibur ke Bali.

Sebab perjalanan wisman berdasarkan length of stay di Bali rata-rata berkisar 5 hari. Artinya waktu mereka untuk berlibur akan habis untuk karantina.

Ia menilai, Indonesia harus belajar dari Thailand yang notabene merupakan pesaing bagi Bali. Sebab kebijakan di negara tersebut memberikan wisatawan yang masuk ke Phuket tidak mengenakan karantina, tetapi wajib vaksin lengkap.

“Ide Karantina 5 hari tidak memberikan efek positif bagi wisman dan justru berbanding terbalik dengan upaya membangkitkan pariwisata. Usul saya, karantina tidak diperlukan bagi wisman sejauh sudah vaksin lengkap dan mengikuti prokes ketat ” pungkasnya.

(rb/dwi/pra/JPR)


 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia