Kamis, 02 Dec 2021
Radar Bali
Home / Dwipa
icon featured
Dwipa

Wow, 2 Sungai di Tabanan Dipasang Jaring, Sebulan Panen 10 Ton Sampah

Sampah Diolah Jadi Pupuk dan Kerajinan

22 September 2021, 15: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

Wow, 2 Sungai di Tabanan Dipasang Jaring, Sebulan Panen 10 Ton Sampah

Thrash barrier atau jaringan pengaman sampah yang dipasang di sejumlah sungai dan saluran irigasi di Kecamatan Kerambitan, Tabanan.   (JULIADI/ RADAR BALI)

Share this      

TABANAN – Pencemaran sampah di sungai, laut dan lahan pertanian menjadi masalah di Bali. Guna mengantisipasi agar tidak terjadi pencemaran lingkungan berupa sampah kiriman, sejumlah sungai dan saluran irigasi di wilayah Kerambitan Tabanan mulai dipasang thrash barrier atau jaring pengaman sampah.

Pemasangan thrash barrier dilakukan pada 11 titik di antaranya berada pada 2 sungai besar di Kerambitan dan 9 titik pada saluran irigasi subak.

Sungai di desa selama ini tidak hanya menjadi lokasi tempat pembuangan sampah rumah tangga. Melainkan pula pengendara motor yang melintas kerap kali membuang sampah di sungai.

Baca juga: Kembali Dibuka, Pura Agung Besakih Mulai Dikunjungi Wisatawan

Meski sudah sering kali dilakukan kerja bakti membersihkan sampah di pinggiran sungai, namun sampah seakan tidak ada habisnya.

“Nah untuk mengurangi pencemaran sampah yang terjadi di sungai dan laut termasuk lahan pertanian. Kami akhirnya memasang thrash barrier,” kata Koordinator Sungai Wacth Desa Kelating, Kerambitan Sagung Made Suryani, Selasa (21/9).

Dia mengaku sebelum dipasang thrash barrier atau jaring pengaman hampir setiap hari sampah yang terbawa oleh derasnya air sungai menumpuk di muara laut dan mengotori sepanjang Pantai Kelating.

Adanya sampah kiriman tersebut berdampak terhadap populasi penyu.

“Cukup banyak anak penyu yang mati,” ucapnya.

Tidak hanya itu pada saluran irigasi dengan berbagai macam sampah plastik justru masuk ke lahan pertanian warga. Pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman padi petani.

“Kebetulan ada Sungai Wacth yang menawarkan secara gratis pemasangan jaring sehingga kami ikut bergabung,” ujarnya perempuan berusia 53 asal Banjar Dinas Kelating, Desa Kelating, Kerambitan

Setelah dilakukan pemasangan 11 titik jaringan pengaman sampah, rata-rata sampah organik dan nonorganik setiap bulannya berhasil dibersihkan pada aliran sungai dan saluran irigasi pertanian mencapai 5 ton.

Itu belum lagi saat musim hujan bisa mencapai 10 ton ditambah dengan sampah berupa bangkai hewan.

Sagung menambahkan kendati sudah dilakukan pemasangan thrash barrier, namun masih kesulitan mengedukasi masyarakat untuk tidak membuang sampah pada saluran irigasi pertanian dan sungai.

“Hingga saat ini kami masih terus mengedukasi masyarakat dibantu aparat Pemerintah Desa Kelating,” ungkapnya.

Sementara untuk sampah-sampah yang dihasilkan dari thrash barrier dilakukan pemilihan. Baru kemudian dikirim ke tempat pengolahan sampah milik Sungai Watch di daerah Badung untuk diolah kembali.

“Kalau sampah organik kami oleh sendiri untuk dibuat pupuk. Sementara ada sampah seperti seperti kayu kami buat kerajinan dan kreasi lainnya. Seperti tempat pot bunga dan lainnya,” pungkasnya.

(rb/jul/yor/JPR)


 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia