Kamis, 02 Dec 2021
Radar Bali
Home / Radar Buleleng
icon featured
Radar Buleleng

Komoditas Kopi Buleleng Potensial, Petani Perlu Pertanian Terintegrasi

17 Oktober 2021, 03: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

Komoditas Kopi Buleleng Potensial, Petani Perlu Pertanian Terintegrasi

Petani kopi di Desa Wanagiri saat panen kopi. (Eka Prasetya/Radar Bali)

Share this      

SINGARAJA– Komoditas kopi di Buleleng dianggap memiliki pasar yang cukup potensial. Hanya saja para petani kesulitan menembus pasar, karena terkendala penanganan komoditas setelah panen. Sistem pertanian terintegrasi diharapkan bisa menjadi jalan keluar bagi para petani.

Mengacu data Dinas Pertanian Buleleng, saat ini luas lahan perkebunan kopi mencapai 11.033,87 hektare. Dari luasan tersebut, sebanyak 9.422,87 hektare merupakan lahan perkebunan kopi robusta dan 1.611 hektare lainnya digunakan untuk menanam kopi arabika.

Potensi produksi biji kopi juga cukup tinggi. Saban tahun, produksi kopi arabika diperkirakan mencapai angka 583,26 ton. Sementara kopi robusta diperkirakan mencapai 4.524,38 ton.

Baca juga: Lima Tahun Rusak, Warga Sangket Terpaksa Iuran Perbaiki Jalan Sendiri

Kepala Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta mengatakan, mengacu dari data statistik, Buleleng memang sangat potensial jika mengembangkan komoditas kopi. Hanya saja tak semua petani kopi memiliki kemampuan dalam melakukan produksi. Utamanya setelah panen.

“Petani belum memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk mengelola sendiri. Sehingga masih mengandalkan pihak ketiga dalam mengolah,” kata Sumiarta.

Menurutnya Dinas Pertanian telah meminta para petani berserikat. Baik dalam bentuk koperasi maupun kelompok tani. Sehingga mereka memiliki daya tawar lebih baik di hadapan pihak ketiga.

Selain itu pemerintah juga berkomitmen memberikan peningkatan kapasitas pada kelompok tani. “Kelompok tani dan koperasi tani ini kami dorong melakukan penanganan pasca-panen. Jadi mereka yang mengurus produksi, pengemasan, sampai pemasaran. Sehingga tidak tergantung pada tengkulak. Jadi ujungnya akan tercipta pasar yang berkeadilan,” kata Sumiarta.

Lebih lanjut Sumiarta mengatakan, saat ini pihaknya masih fokus menyelesaikan masalah di hulu. Yakni mendorong petani melakukan pengelolaan lahan secara profesional. Mereka diminta melakukan budidaya dengan mengedepankan kualitas.

“Pengelolaan lahan sebisa mungkin dilakukan secara organik. Buah kopi yang dipetik juga sebisa mungkin petik merah. Sehingga nilai jualnya juga lebih tinggi,” katanya.

Sementara petani melakukan pembenahan dalam pengelolaan lahan, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Perusahaan Daerah Swatantra. Dengan harapan PD Swatantra bersedia menjadi distributor kopi produksi para petani. Sekaligus menyerap hasil panen petani dengan harga yang berkeadilan.

(rb/eps/don/yor/JPR)


 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia