Kamis, 02 Dec 2021
Radar Bali
Home / Radar Buleleng
icon featured
Radar Buleleng

Pasien Isoman di Buleleng Meninggal, Satgas Covid-19 Sempat Kelabakan

Relawan pun Dilatih Tangani Jenazah Covid-19

25 Juli 2021, 11: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

Pasien Isoman di Buleleng Meninggal, Satgas Covid-19 Sempat Kelabakan

Pelatihan pemulasaraan jenazah pada relawan covid-19 di Buleleng, Sabtu (24/7). (EKA PRASETYA/ RADAR BALI)

Share this      

SINGARAJA – Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng dibuat kelabakan dalam beberapa hari terakhir. Penyebabnya ada dua orang pasien covid-19 yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri (isoman).

Satgas kelabakan karena belum punya prosedur penanganan jenazah pasien covid-19 yang meninggal saat isolasi mandiri.

Dalam sepekan terakhir, ada dua orang pasien yang dilaporkan meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri. Masing-masing berasal dari Desa Gesing dan Desa Padangbulia.

Baca juga: PPKM Darurat Masih Dilanggar, Kabag Ops Polres Buleleng: Jangan Meboya

Keduanya diketahui memiliki riwayat penyakit bawaan. Namun lebih memilih menjalani isolasi mandiri.

Rupanya saat isolasi mandiri, kondisi pasien justru memburuk. Bahkan dinyatakan meninggal dunia saat sedang isoman.

Saat mendapat laporan dari desa, satgas sempat kebingungan melakukan penanganan. Sebab peristiwa itu baru pertama terjadi selama masa pandemi.

Alhasil satgas berkoordinasi dengan petugas forensik di RSUD Buleleng. Petugas forensik mendatangi rumah duka guna melakukan proses pemulasaraan jenazah. Selanjutnya proses penguburan diserahkan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng.

Tak ingin masalah serupa terulang kembali, satgas melalui BPBD Buleleng memberikan pelatihan pemulasaraan jenazah covid-19. Pelatihan dilakukan di Posko Terpadu Satgas Penanganan Covid-19, pada Sabtu (24/7) pagi.

Dokter spesialis forensik di RSUD Buleleng, dr. Klarisa, Sp.FM mengatakan, relawan harus benar-benar memerhatikan proses pemulasaraan jenazah. Mereka harus patuh dengan tata laksana penanganan jenazah, sehingga potensi penularan covid-19 dari jenazah pada relawan dapat dicegah semaksimal mungkin.

Klarisa menyatakan relawan harus melakukan langkah pencegahan infeksi. Caranya dengan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) yang benar. Selanjutnya relawan harus melakukan proses pemulasaraan sesuai dengan cara yang sudah ditentukan.

“Supaya cairan tubuh atau kondisi permukaan jenazah itu tidak menulari lagi. Baik petugas pemulasaraan, petugas penguburan, maupun keluarga. Pembuangan APD dan alat-alat setelah pemulasaraan juga harus diperhatikan,” kata Klarisa.

Lebih lanjut Klarisa mengatakan, merujuk Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/4834/2021, proses pemulasaraan tak harus dilakukan di ruang jenazah. Pemulasaraan bahkan dapat dilakukan di rumah pasien.

Sementara itu Sekretaris BPBD Buleleng Wayan Duala Arsayasa mengatakan, hingga kini ada 18 orang relawan yang bersedia terlibat dalam proses pemulasaraan jenazah. Relawan itu berasal dari Muhamadiyah, Dinas Sosial Buleleng, Palang Merah Indonesia (PMI), serta BPBD Buleleng.

Ia mengaku pelatihan itu terkait dengan peristiwa pasien covid-19 yang meninggal saat isolasi mandiri.

“Memang ada yang terjadi meninggal di rumah saat isolasi mandiri. Jujur waktu itu kami belum bisa menangani karena belum tahu tekniknya bagaimana. Relawan juga belum punya,” ujar Duala.

Menurut Duala relawan ini hanya menangani pemulasaraan jenazah covid-19, yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri maupun di lokasi karantina.

“Jadi mereka sifatnya on call. Khusus menangani yang di luar rumah sakit. Kalau yang meninggal di rumah sakit, diserahkan pada petugas pemulasaraan di rumah sakit,” katanya.

(rb/eps/yor/JPR)


 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia