Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Awas! Sudah Memasuki Musim Kemarau, Buleleng Punya 13 Desa Rawan Karhutla

F
Penulis: Francelino Junior❯
PERLU WASPADA : Kebakaran hutan dan lahan di Banyupoh,Gerokgak, Buleleng,  tahun lalu. (dok.radar bali)
PERLU WASPADA : Kebakaran hutan dan lahan di Banyupoh,Gerokgak, Buleleng, tahun lalu. (dok.radar bali)

SINGARAJA, Radar Bali.id -Ancaman kebakaran hutan dan lahan selalu mengancam Buleleng tiap tahun. Memasuki musim kemarau, sebanyak 13 desa di Kabupaten Buleleng  berpotensi atau rawan mengalami Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla).


Advertisement

Sebanyak 13 desa itu tersebar di tiga kecamatan yang hutan dan lahannya berada di bawah pengelolaan UPTD KPH Bali Utara. 

Ketiga belas desa itu yakni Desa Sumberklampok, Pejarakan, Sumberkima, Pemuteran, Banyupoh, Musi, Patas dan Pengulon di Kecamatan Gerokgak. Kemudian Desa Pangkung Paruk dan Unggahan di Kecamatan Seririt. Lalu Desa Tejakula, Les dan Tembok di Kecamatan Tejakula.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng, Putu Ariadi Pribadi menyebutkan Bali utara memang rawan terjadi karhutla di tahun 2024 ini. 

Advertisement

Apalagi berdasarkan data, Buleleng memiliki 37.159.21 hektar luasan kawasan hutan di bawah pengelolaan UPTD. Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Utara. Sementara luasan kawasan hutan di bawah pengelolaan Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sebanyak 19.026,97 hektar.

“13 desa itu semua berpotensi. Sangat rawan. Di Buleleng luas hutannya banyak. Contoh di Gerokgak, kalau musim kemarau, semua kering sekali. Sangat berpotensi terjadi kebakaran,” ujar Ariadi pada Sabtu (18/5/2024).

Menurutnya, faktor alam dan manusia bisa menjadi penyebab terjadinya karhutla. Ariadi mencontohkan kebiasaan masyarakat membuang puntung rokok sembarangan, juga menjadi faktor karhutla.

Advertisement

Selain dengan pemakaian api dan asap dalam pencarian madu di hutan.

Juga faktor angin yang menyebabkan timbulnya gesekan antar ranting kayu di hutan, yang juga menjadi penyebab kebakaran. Juga sambaran petir sampai kenaikan suhu di hutan.

“Jadi harus dipastikan, kalau menggunakan api di hutan, dipastikan dulu benar-benar mati baru ditinggalkan. Mari kita seluruh masyarakat menjaga kegiatan di sekitar hutan untuk kurangi dampak karhutla,” lanjutnya.

Ariadi menambahkan, pihaknya kini sudah membentuk komunitas relawan untuk membantu dalam menangani karhutla. Komunitas itu disebut masyarakat peduli api, yang dibentuk bersama dengan KPH Bali Utara dan TNBB.

Ke depannya, relawan-relawan itu akan ikut membantu penanganan karhutla, bila terjadi di 13 desa tersebut.. “Relawan-relawan itu akan bantu penanganan secara kolaboratif,” tandasnya. [*]

 

Advertisement
Editor : Hari Puspita
Sumber : Radar Bali

Artikel Terkait

Aksi Simbol Tiga Jari di CFD Mengajak Masyarakat Sadar, Sorotan Karhutla Membesar 

Aksi Simbol Tiga Jari di CFD Mengajak Masyarakat Sadar, Sorotan Karhutla Membesar 

Aksi menyoroti ketidakadilan terus bergulir di Bali. Kali ini, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Udayana menggelar aksi simpati di arena Car Free Day (CFD) Renon

Sisa Bakar Sampah Merembet, 10 Are Kebun Kebun Pisang dan Kakao di Melaya Ludes 

Sisa Bakar Sampah Merembet, 10 Are Kebun Kebun Pisang dan Kakao di Melaya Ludes 

Amuk si jago merah diduga dipicu sisa pembakaran sampah sehari sebelumnya yang belum sepenuhnya padam lalu kembali membesar.

Cuaca Lagi Terik-Teriknya, TPA Sente Malah Terbakar,  Petugas Berjibaku Padamkan Api

Cuaca Lagi Terik-Teriknya, TPA Sente Malah Terbakar,  Petugas Berjibaku Padamkan Api

Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sente di Desa Pikat, Kecamatan Dawan, Klungkung, terbakar sejak Sabtu (24/10/2026).

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer