Hadapi Stigma Miring dengan Karya, Mahasiswa Flores yang Tergabung Dalam Himflor Buleleng Unjuk Aksi Positif

SINGARAJA, Radar Bali.id – Himpunan Mahasiswa Flores (Himflor) Buleleng kini tengah bergerak masif untuk mengikis stigma negatif bermuatan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) yang kerap membayangi para perantau asal Indonesia Timur.
Di tengah munculnya sorotan terhadap oknum-oknum di wilayah Bali Selatan, komunitas mahasiswa ini memilih jalur pengabdian dan peningkatan kualitas diri sebagai jawaban.
Eksistensi mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di Bumi Panji Sakti diarahkan untuk tidak sekadar menempuh pendidikan, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga kebhinnekaan, kerukunan, serta keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
Anggota DPRD Buleleng, Nyoman Dhukajaya, dalam pernyataannya menekankan pentingnya wadah organisasi sebagai sarana pembinaan yang efektif.
"Dengan berkumpul dalam organisasi, komunikasi dan pembinaan menjadi lebih mudah. Mahasiswa harus sadar bahwa mereka mengenyam pendidikan di sini dan memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga kondusivitas Buleleng. Dengan begitu, stigma negatif akan hilang dengan sendirinya melalui pembuktian nyata," tegasnya.
Aksi Nyata di Pura Taman Sari
Salah satu langkah konkret yang dilakukan Himflor Buleleng adalah dengan menggelar kegiatan gotong royong di areal Pura Taman Sari, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Buleleng.
Aksi bersih-bersih ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya mendalam untuk mempererat tali persaudaraan dan membaur langsung dengan krama lokal.
Himpunan ini terus mendorong anak muda rantau untuk bergerak bersama dan membangun harmonisasi dengan lingkungan sekitar.
Langkah-langkah kecil yang konsisten ini diharapkan mampu mengubah cara pandang masyarakat luas terhadap para pendatang dari Timur.



