DENPASAR, Radar Bali.id-Rencana pembanguna Bandara Bali Utara saat ini masih menimbulkan pro kontra. Selain dianggap bisa menyetarakan roda perekonomian Bali Selatan dan Bali Utara, rencana pembanguan bandara tersebut juga dianggap berpotensi berdampak buruk pada lingkungan.
Hal ini disampaikan oleh Pakar Ekonomi dan Akademisi I Made Sara. Dia mengatakan, rencana pembangunan tersebut perlu mendapatkan beberapa pertimbangan dan tantangan.
"Pembangunan bandara di Bali Utara dapat bedampak pada lingkungan seperti hilangnya habitat flora an fauna, pencemaran air, lahan perkebunan yang produktif, dan kebisingan," katanya kepada Jawa Pos Radar Bali, di Denpasar Sabtu (13/7/2024).
Lanjut dia, pembangunan bandara pasti akan menggusur masyarakat yang sudah memanfaatkan lahan-lahan yang subur di sektor perkebunan sudah pernah direncanakan untuk pengembangan wilayah organik serta sumber pendanaan yang sangat besar yang belum jelas.
"Pendapat saya, jika kita ingin mengembangkan Bali Utara dengan melihat banyaknya potensi wisata yang dimiliki oleh Bali Utara, peningkatan aksesibilitas, meningkatkan pertumbuhan pariwisata, dan menciptakan lapangan kerja tidak harus membuat bandara baru," sambungnya.
Dia mengajak masyarakat untuk kembali melihat pola pemangunan Bali yang sudah dari dulu ada dalam blue print pembangunan Bali dengan empat wilayah pengembangan sesuai potensi yang dimiliki. Wilayah Bali Selatan, sudah menjadi wilayah pengembangan pariwisata modern dengan gemerlapan yang dimiliki. Lalu, wilayah Bali Timur, yang menjadi kiblat masyarakat Bali sesuai ajaran Agama Hindu sebagai wilayah pengembangan Wisata Spiritual.
Kemudian, Bali Utara dengan potensi perkebunan dan budayanya sebagai wilayah pengembangan Argro Tourism, dan Bali Barat dengan potensi flora dan faunanya potensial untuk dikembangkan menjadi Adventure Tourism. "Untuk aksesibelitas sudah sedang dibangun Shortcut, dan tol Denpasar -Gilimanuk. Sedangkan untuk bandara tinggal menata kembali Bandara atau lapangan Udara Letkol Wisnu yang sudah ada, sesuaikan dengan kebutuhan," tandasnya.
Sementara itu, sebelumnya Direktur Utama PT Bali Internasional Bali Utara (BIBU) Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko mengatakan, bahwa saat ini proses ground breaking rencana pembangunan bandara tersebug menunggu jadwal dari presiden. Dia menjelaskan, target pembanguna Bandara Bali Utara ini harus rampung di tahun 2026 mendatang.
Bukan tanpa alasan, hal itu disesuaikan dengan kondisi Bali saat ini. Dimana bandara I Gusti Ngurah Rai, yang saat ini ada di Bali Selatan menurut dia sudah cukup krodit. Terkait rencana pembangunan ini, lokasinya tetap akan berada di Kubutambahan, Buleleng. Lokasi pembangunan dipastikan dilakukan di atas laut. Adiatmoko juga menyebut jika saat ini Parabowo dipastikan sudah menyetujui.
"Di laut (lokasi pembangunan) dan beliau pastikan oke. Kan Prabowo memang memastikan membangun bandara ini sudah mendukung dari awal," imbuhnya. Menurutnya, PT BIBU Panji Sakti selaku pemrakarsa selama ini didukung penuh oleh masyarakat Bali. Hal itu karena pembangunan bandara di Bali Utara tersebut adalah kebutuhan Bali saat ini.
Terutama guna pemerataan ekonomi Bali yang selama ini terlalu tertumpu di Bali Selatan. Sehingga dengan adanya rencana pembangunan tersebut bisa menumbuhkan perekonomian di Bali Utara. [*]
Editor : Hari Puspita