Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kelola dan Sulap Ban Bekas Jadi Produk Unggulan Bernilai Ekonomis

Didik Dwi Pratono • Jumat, 18 Februari 2022 | 01:15 WIB
kelola-dan-sulap-ban-bekas-jadi-produk-unggulan-bernilai-ekonomis
kelola-dan-sulap-ban-bekas-jadi-produk-unggulan-bernilai-ekonomis

BERAWAL dari pengelolaan sampah, Komunitas Balawa di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, kini memproduksi kerajinan dari ban bekas.


Produk itu pun banjir pesanan di seantero Buleleng. Seperti apa?


EKA PRASETYA, Buleleng


SEJUMLAH ban bekas terlihat menumpuk di tepi jalan Dusun Lambo, Desa Pedawa. Tumpukan ban bekas itu terlihat mencolok. Karena difungsikan sebagai pot tanaman.


Di seberangnya, terlihat sebuah gubuk bambu berukuran sekitar 3x5 meter. Ban bekas berbagai jenis terlihat menumpuk di dalamnya.


Gubuk itu merupakan Rumah Produksi Olah Sampah yang dibuat Komunitas Balawa (Bali Aga Pedawa). Komunitas ini memang bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan lingkungan. Pengelolaan sampah merupakan salah satu kegiatan yang dilakoni komunitas ini.


Di rumah produksi itu, Gede Suardana, 36, sibuk berkegiatan. Sejak 2019 lalu, Suardana menggeluti daur ulang sampah. Khususnya ban bekas. Ban-ban dari penjuru desa, diolah sedemikian rupa menjadi produk kerajinan.


Menurut Suardana ide melakukan daur ulang ban bekas itu muncul begitu saja. Komunitas Balawa saat itu memiliki bank sampah.


Berbagai jenis sampah kertas dan plastik, bisa dijual kembali. Sedangkan ban bekas jarang tak pernah diserap pengepul barang bekas.


“Dari sana akhirnya berpikir, gimana caranya biar bernilai. Akhirnya saya inisiatif buat produk kerajinan berbahan dasar ban bekas,” kata Suardana saat ditemui di Desa Pedawa belum lama ini.


Awalnya ia membuat lampu meja. Respon pasar tak terlalu bagus kala itu. Ia pun terus berinovasi mulai dari membuat tas, keranjang air mineral, sampai akhirnya dia membuat pot. Ide membuat pot itu muncul saat demam bonsai terjadi di Bali. Akhirnya pot itu dilirik konsumen.


“Malah waktu itu produknya dikirim sampai ke Kintamani. Malah kewalahan sama bahan baku,” ujar pria yang mukim di Dusun Lambo, Desa Pedawa itu.


Dari membuat pot, dia terus berinovasi. Seperti membuat bak sampah, pot khusus teratai, ayunan, hingga meja dan kursi. Hingga kini, proses produksi masih berlangsung dengan lancar. Bahkan dia kewalahan menyiapkan bahan baku.


Biasanya bahan baku didapat dari bengkel-bengkel sepeda motor di penjuru Desa Pedawa. Terkadang ban bekas itu bisa didapat percuma. Terkadang dia harus merogoh uang Rp 1.000 hingga Rp 5.000 untuk mendapatkan sebuah ban.


Lain waktu, ayah tiga anak itu harus datang ke Seririt maupun ke Singaraja untuk mencari ban bekas. Bila keluar desa, biasanya dia memburu ban mobil atau ban truk. Untuk ban mobil, biasanya ia beli seharga Rp 3 ribu hingga Rp 10 ribu. Sementara ban truk dibeli Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu.


“Kadang saya datang ke bengkel vulkanisir ban. Di sana banyak ban yang dibuang-buang. Ya saya ambil, bawa ke rumah produksi,” ujar Suardana.


Lebih lanjut Suardana menjelaskan, dia membuat produk-produk kerajinan itu secara manual. Dia hanya mengandalkan pisau cutter dan gergaji besi. Semuanya dilakukan seorang diri. Terkadang bila pesanan melonjak, dia melibatkan dua orang pekerja lepas.


Biasanya dia baru memulai produksi pada pukul 10.00 pagi. Setelah menuntaskan pekerjaannya sebagai pedagang. Proses produksi ia lakukan hingga pukul 15.00 sore. Usai memproduksi kerajinan, baru kemudian dia mengurus kebun.


Dalam sehari, ia bisa menghasilkan 5-8 buah pot bunga. Terkadang dia hanya bisa menghasilkan 1-2 buah bak sampah.


“Karena buat bak sampah lebih rumit dari pot bunga. Apalagi kalau yang dipesan ukuran besar. Sehari itu hanya bisa buat satu buah saja,” imbuh pria yang juga nasabah tabungan simpedes di Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Banjar itu.


Saat berproduksi, Suardana berusaha sebisa mungkin tak menghasilkan limbah. Sisa ban yang tak terpakai, biasanya digunakan sebagai kaki kursi dan meja. Terkadang limbah ban juga dia gunakan sebagai pagar di kebun miliknya.


“Intinya biar kami tidak menghasilkan limbah. Apalagi kami kan berusaha mengelola limbah,” ujar pria yang juga sempat menjadi nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI tersebut.


Kini produk kerajinan yang dihasilkan Rumah Produksi Olah Sampah Balawa dijual dengan harga variatif. Untuk ayunan misalnya, dijual seharga Rp 75 ribu.


Sementara ayunan dijual Rp 120 ribu per buah, meja Rp 150 ribu per buah, bak sampah Rp 60 ribu sampai Rp 150 ribu tergantung ukuran, sementara pot bunga dijual Rp 30 ribu hingga Rp 75 ribu tergantung ukuran.


Sementara itu Pembina Komunitas Balawa, Made Arya Kekan mengungkapkan, produk-produk dari Rumah Produksi Olah Sampah biasanya dipasarkan melalui media sosial. Pesanan kini datang dari seluruh penjuru Buleleng.


Arya mengaku kini proses produksi sangat terbatas. Lantaran seluruh proses dilakukan secara manual. “Saat ini kami belum memiliki mesin. Kami masih berusaha mencari pendampingan dan dukungan. Supaya proses produksi bisa lebih lancar lagi,” kata Arya.


Sementara itu Regional CEO BRI Denpasar, Rudy Andimono mengungkapkan, BRI selalu mendukung UMKM untuk tumbuh dan berkembang. Terutama UMKM yang melakukan proses pelestarian dan daur ulang.


“UMKM yang bergerak di bidang ini memberikan dampak ganda. Di satu sisi dapat menggerakkan ekonomi masyarakat, di lain sisi juga menjaga kelestarian lingkungan. Kedepannya kami akan memberikan pendampingan yang lebih intens pada UMKM ini,” tukasnya.

Editor : Didik Dwi Pratono
#produksi ban bekas #umkm #barang ekonomis #produksi olah sampah #bali aga pedawa #bak sampah #produk unggulan #kisah inspiratif