UPAYA pemanfaatan dan pengolahan limbah kulit kopi menjadi pakan ternak kambing menjadi salah satu upaya dalam mengimplementasikan ekonomi sirkular dalam industri kopi di Bali. Saat masa panen kopi limbah kulit kopi sangat melimpah dan dapat menimbulkan permasalahan lingkungan jika tidak diolah
“Kulit kopi juga biasanya dikeringkan dan kemudian diberikan pada ternak kambing sebagai tambahan pakan, tanpa ada perlakuan khusus," kata Dosen Prodi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa Ni Ketut Mardewi, saat dihubungi kemarin (27/5/2023).
Lebih lanjut dijelaskan kandungan selulosanya, ini dapat menurunkan daya cernanya. Maka perlu sentuhan teknologi pengolahan melalui fermentasi. Dengan mengolah kulit kopi menjadi pilihan ketikan makanan hijauan terbatas.
Dijelaskan berdasar teknologi fermentasi kandungan selulosa atau serat kasar dari kulit kopi akan lebih rendah. Sementara daya cernanya meningkat dan masa simpan lebih lama. Kulit kopi fermentasi dapat dijadikan sebagai sumber konsentrat bagi ternak kambing.
Mardewi mengungkapkan produksi kulit kopi dapat mencapai 40-50 persen dari volume panen, dan biasanya akan ditumpuk di bawah pohon kopi dengan maksud sebagai pupuk. Namun, kulit kopi sangat mudah ditumbuhi jamur karena kandungan airnya tinggi dan ini sangat berbahaya bagi tanaman kopi.
Dari beberapa kajian kebutuhan pakan hijauan untuk seekor kambing dalam sehari adalah 10 persen dari bobot badannya dan penting pula memberikan pakan konsentrat sebanyak 1 persen dari bobot badan sebagai pakan penguat. Artinya pada satu kandang dengan jumlah kambing 25 – 50 ekor dan bobot badan rata – rata 25 kg, peternak harus menyediakan hijauan sekitar 75 – 125 kg setiap hari.
Ia mengakui upaya pemanfaatan dan pengolahan limbah kulit kopi sebagai pakan melalui fermentasi telah disosialisasikan kepada Kelompok Ternak Sami Mupu Desa Wanagiri.
Pakan dari olahan kulit kopi dapat menjadi pakan alternatif saat peternak menghadapi keterbatasan pakan hijauan. Jika pada saat ada upacara keagamaan peternak menghadapi masalah berkaitan dengan penyediaan pakan hijau-hijauan untuk ternaknya.
Karena waktu yang terbatas dan pada musim hujan dapat menghambat peternak untuk mencari hijauan pakan menyebabkan hijauan yang didapatkan terbatas, hijauan menjadi basah dan kandungan airnya tinggi.
“Persedian terbatas tentu merugikan peternak karena kambing akan kekurangan pakan. Kalau hijauan yang basah dimakan menyebabkan kembung perut” tandas Mardewi. [ni kadek novi febriani/radar bali]
Editor : Hari Puspita