Dolar Tembus Rp 18.000, BI Rate Resmi Naik Jadi 5,5 Persen

RADAR BALI – Pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah terus menunjukkan tren penguatan yang signifikan.
Berdasarkan data terkini pada perdagangan Selasa (9/6/2026), mata uang negeri paman sam tersebut terpantau nyaman bergerak di atas level psikologis baru, yakni Rp 18.000 per dolar AS.
Merujuk pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, mata uang Garuda berada di kisaran Rp 18.171 per dolar AS.
Sementara di pasar spot, rupiah sempat menyentuh level Rp 18.188 per dolar AS sebelum menunjukkan pergerakan fluktuatif di rentang Rp 18.020 hingga Rp 18.134 per dolar AS menjelang siang hari.
Lonjakan ini juga langsung berdampak pada meroketnya harga penukaran valuta asing (valas) di sejumlah perbankan nasional. Bagi masyarakat yang ingin melakukan transaksi, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menetapkan kurs e-Rate di angka Rp 18.185 per dolar AS untuk harga beli dan Rp 18.205 per dolar AS untuk harga jual.
Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mematok Special Rate di posisi Rp 18.160 per dolar AS untuk harga beli dan Rp 18.190 per dolar AS untuk harga jual.
Tidak ketinggalan, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menetapkan kurs Bank Notes mereka di level Rp 18.170 per dolar AS untuk harga beli, sedangkan harga jualnya mencapai angka tertinggi di pos Rp 18.250 per dolar AS.
Bank Indonesia Naikkan BI Rate
Menyikapi amukan dolar AS yang kian menekan mata uang Garuda, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah tegas. Hari ini, bank sentral menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan BI dan memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,5%.



