alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Krisis Pasokan, Dewan Kaji Industri Garam di Bali

RadarBali.com – Krisis garam yang terjadi hampir di seluruh Indonesia akibat la nina (curah hujan tinggi) membuat produksi garam merosot.

Hampir di semua wilayah termasuk Bali mengalami dampak tersebut. Bahkan, karena pasokan yang sangat minim, harga garam meroket tajam.

Dengan kondisi ini, dewan menginginkan agar di Bali dibangun industri garam dengan skala lebih besar dari home industri.

Keberadaan industri garam di Bali sekaligus untuk meminimalisir permintaan garam dari luar daerah Bali.

Pasalnya, selama ini Bali masih ditopang produksi garam dari luar terutama Jawa dan Madura. Ketua Komisi II DPRD Provinsi Bali Ketut Suwandi mengatakan, kondisi krisis garam yang terjadi di Indonesia khususnya Bali merupakan hal yang sangat lucu.

Makin lucu kalau Indonesia akhirnya harus impor garam. Padahal, Indonesia memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Potensi yang besar menjadi penghasil garam terbesar di dunia.

Baca Juga:  Berbekal Modal BRI, Bubu Songket Asal Padang Bangkit

“Ini tanda pemerintah tidak serius dalam memberdayakan petani garam. Jadi di Bali juga harus dibentuk suatu payung hukum untuk membentengi para petani garam. Garam Bali tidak kalah bagus kualitasnya kok,” ujar Suwandi, Senin (31/7) kemarin.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang mengakibatkan Bali masih bergantung pada daerah lain dalam hal produksi garam.

Mulai dari petani garam yang beralih pekerjaan lantaran harga yang garam yang sangat murah. Faktor yang lain adalah menyempitnya lahan pertanian garam untuk kepentingan akomodasi pariwisata.

“Jadi, pemerintah harus menggalakkan kembali, selain itu juga harus ada aturan tegas mengenai investor yang tidak boleh memanfaatkan lahan petani garam untuk kepentingan pariwisata,” tegasnya.

Baca Juga:  Bali Perlu Didorong Bentuk Industri Garam

Lantaran itu, dewan mendukung ada industri garam berskala besar ada di Bali. Karena kebutuhan garam di Bali sendiri sangat banyak dan selama ini di suplai dari Jawa dan Madura.

“Jadi kami akan lakukan kajian untuk membentuk regulasi investasi garam ini. Dengan begitu, petani garam lokal kembali bergairah menekuni profesinya kembali,” tambahnya.

Di lain sisi, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali I Made Gunaja menuturkan, pemerintah bakal memberikan bantuan peralatan, salah satunya alat penjemuran kepada petani garam tradisional.

Langkah ini dilakukan untuk menggairahkan industri garam lokal. “Kami baru usulkan anggarannya,  kalau ada dana, akan kami laksanakan di tahun 2018 mendatang,” pungkasnya.



RadarBali.com – Krisis garam yang terjadi hampir di seluruh Indonesia akibat la nina (curah hujan tinggi) membuat produksi garam merosot.

Hampir di semua wilayah termasuk Bali mengalami dampak tersebut. Bahkan, karena pasokan yang sangat minim, harga garam meroket tajam.

Dengan kondisi ini, dewan menginginkan agar di Bali dibangun industri garam dengan skala lebih besar dari home industri.

Keberadaan industri garam di Bali sekaligus untuk meminimalisir permintaan garam dari luar daerah Bali.

Pasalnya, selama ini Bali masih ditopang produksi garam dari luar terutama Jawa dan Madura. Ketua Komisi II DPRD Provinsi Bali Ketut Suwandi mengatakan, kondisi krisis garam yang terjadi di Indonesia khususnya Bali merupakan hal yang sangat lucu.

Makin lucu kalau Indonesia akhirnya harus impor garam. Padahal, Indonesia memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Potensi yang besar menjadi penghasil garam terbesar di dunia.

Baca Juga:  Rp 1,2 Triliun Dari BPR Lestari untuk Bali Bangkit

“Ini tanda pemerintah tidak serius dalam memberdayakan petani garam. Jadi di Bali juga harus dibentuk suatu payung hukum untuk membentengi para petani garam. Garam Bali tidak kalah bagus kualitasnya kok,” ujar Suwandi, Senin (31/7) kemarin.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang mengakibatkan Bali masih bergantung pada daerah lain dalam hal produksi garam.

Mulai dari petani garam yang beralih pekerjaan lantaran harga yang garam yang sangat murah. Faktor yang lain adalah menyempitnya lahan pertanian garam untuk kepentingan akomodasi pariwisata.

“Jadi, pemerintah harus menggalakkan kembali, selain itu juga harus ada aturan tegas mengenai investor yang tidak boleh memanfaatkan lahan petani garam untuk kepentingan pariwisata,” tegasnya.

Baca Juga:  BRI Optimistis Investor dan Pasar Menyambut Dengan Antusias

Lantaran itu, dewan mendukung ada industri garam berskala besar ada di Bali. Karena kebutuhan garam di Bali sendiri sangat banyak dan selama ini di suplai dari Jawa dan Madura.

“Jadi kami akan lakukan kajian untuk membentuk regulasi investasi garam ini. Dengan begitu, petani garam lokal kembali bergairah menekuni profesinya kembali,” tambahnya.

Di lain sisi, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali I Made Gunaja menuturkan, pemerintah bakal memberikan bantuan peralatan, salah satunya alat penjemuran kepada petani garam tradisional.

Langkah ini dilakukan untuk menggairahkan industri garam lokal. “Kami baru usulkan anggarannya,  kalau ada dana, akan kami laksanakan di tahun 2018 mendatang,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/