alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Wabah Covid-19 Picu Permintaan Pupuk Organik di Gianyar Melonjak

GIANYAR – Sejak Covid-19 melanda, kebutuhan akan pupuk organik justru melonjak. Yayasan Pengolahan Sampah Temesi menerima berkah dari lonjakan permintaan masyarakat umum itu.

Dalam sehari, permintaan mencapai 2 ton. Manager Yayasan, I Wayan Cakra, mengaku peminat pupuk kini justru masyarakat umum.

Pesanan datang mulai dari dua minggu terakhir. Pesanan itu datang melalui retail atau pedagang tanaman.

“Banyak permintaan sekitar dua minggu ini banyak sekali permintaan dari retail. Yang beli itu dari masyarakat umum,” ujarnya.

Diakui, situasi seperti sekarang ini, minat masyarakat dalam berkebun begitu tinggi. “Dalam situasi Covid-19, banyak yang ingin berkebun. Animo masyarakat tinggi,” ujarnya.

Tidak saja dari masyarakat umum yang membeli. Banyak wakil rakyat juga memesan pupuk dalam jumlah besar.

Baca Juga:  Uji Swab Tak Lagi Jadi Rujukan, Tanpa Gejala Cukup Isolasi Mandiri

“Ada juga dari wakil rakyat dipakai buat menyumbang. Sekarang memang lagi trend pertanian organik,” ungkapnya.

Pupuk buatannya yang diklaim berkualitas, ramah lingkungan dengan kelembaban terjaga itu dikirim ke retail di seluruh Bali. Bahkan sampai ke Jawa Timur.

“Kami kirimkan langsung. Sesuai permintaan,” terangnya. Meski masih sibuk bekerja, dan animo masyarakat dalam berkebun tinggi, namun situasi ini dirasakan berbeda dari situasi normal.

Itu karena permintaan pupuk tak sebanyak hari normal. Dalam situasi ini, dari 30-an tenaga, hanya 22 orang yang bekerja. Pekerja lainnya pulang kampung.

Di hari normal atau sebelum Covid pihaknya bisa memproduksi 7 ton. Dulu sebulan bisa memproduksi 200 ton lebih.

“Kalau hari Covid begini hanya 2 ton sehari. Untuk satu kilogram pupuk kami hargai seribu rupiah,” ujarnya lagi.

Baca Juga:  Ini Rahasia Dana Murah BRI Terus Tumbuh Positif

Pihaknya berharap situasi kembali normal seperti dulu. “Ya kami berharap ada proyek lagi dari provinsi. Karena itu yang banyak dapat,” bebernya.

Dia membandingkan, dulu, pesanan pupuk itu diborong oleh Pemerintah Provinsi Bali. “Kalau dulu pupuk kami dibeli oleh provinsi. Setiap tahun kami sudah kerja sama,” ungkapnya.

Provinsi membeli pupuk yayasan, kemudian diberikan lagi ke petani. “Dari provinsi, pupuk itu menjadi subsidi bagi petani,” terangnya.

Namun, sejak Covid melanda, tidak pernah ada lagi permintaan dari provinsi. “Bahkan dari Januari, tidak ada pengadaan dari provinsi,” ungkapnya.

Dia menduga, provinsi sedang fokus menangani Covid. “Mungkin dananya dipakai menangani Covid,” pungkasnya memaklumi.



GIANYAR – Sejak Covid-19 melanda, kebutuhan akan pupuk organik justru melonjak. Yayasan Pengolahan Sampah Temesi menerima berkah dari lonjakan permintaan masyarakat umum itu.

Dalam sehari, permintaan mencapai 2 ton. Manager Yayasan, I Wayan Cakra, mengaku peminat pupuk kini justru masyarakat umum.

Pesanan datang mulai dari dua minggu terakhir. Pesanan itu datang melalui retail atau pedagang tanaman.

“Banyak permintaan sekitar dua minggu ini banyak sekali permintaan dari retail. Yang beli itu dari masyarakat umum,” ujarnya.

Diakui, situasi seperti sekarang ini, minat masyarakat dalam berkebun begitu tinggi. “Dalam situasi Covid-19, banyak yang ingin berkebun. Animo masyarakat tinggi,” ujarnya.

Tidak saja dari masyarakat umum yang membeli. Banyak wakil rakyat juga memesan pupuk dalam jumlah besar.

Baca Juga:  Kompak Tolak Rapid Test Jadi Syarat Administrasi, Ini Dalih Kadispar

“Ada juga dari wakil rakyat dipakai buat menyumbang. Sekarang memang lagi trend pertanian organik,” ungkapnya.

Pupuk buatannya yang diklaim berkualitas, ramah lingkungan dengan kelembaban terjaga itu dikirim ke retail di seluruh Bali. Bahkan sampai ke Jawa Timur.

“Kami kirimkan langsung. Sesuai permintaan,” terangnya. Meski masih sibuk bekerja, dan animo masyarakat dalam berkebun tinggi, namun situasi ini dirasakan berbeda dari situasi normal.

Itu karena permintaan pupuk tak sebanyak hari normal. Dalam situasi ini, dari 30-an tenaga, hanya 22 orang yang bekerja. Pekerja lainnya pulang kampung.

Di hari normal atau sebelum Covid pihaknya bisa memproduksi 7 ton. Dulu sebulan bisa memproduksi 200 ton lebih.

“Kalau hari Covid begini hanya 2 ton sehari. Untuk satu kilogram pupuk kami hargai seribu rupiah,” ujarnya lagi.

Baca Juga:  Virus Corona: Lomba Cepat Menuju Kesembuhan atau Kematian

Pihaknya berharap situasi kembali normal seperti dulu. “Ya kami berharap ada proyek lagi dari provinsi. Karena itu yang banyak dapat,” bebernya.

Dia membandingkan, dulu, pesanan pupuk itu diborong oleh Pemerintah Provinsi Bali. “Kalau dulu pupuk kami dibeli oleh provinsi. Setiap tahun kami sudah kerja sama,” ungkapnya.

Provinsi membeli pupuk yayasan, kemudian diberikan lagi ke petani. “Dari provinsi, pupuk itu menjadi subsidi bagi petani,” terangnya.

Namun, sejak Covid melanda, tidak pernah ada lagi permintaan dari provinsi. “Bahkan dari Januari, tidak ada pengadaan dari provinsi,” ungkapnya.

Dia menduga, provinsi sedang fokus menangani Covid. “Mungkin dananya dipakai menangani Covid,” pungkasnya memaklumi.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/