alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Terus Merugi saat Pandemi Covid-19, Peternak Ayam Potong Stop Produksi

AMLAPURA – Hantaman virus corona berdampak pada peternakan ayam pedaging di Rendang, Karangasem.

Hal ini diakui Ir Gede Kertiyasa, peternak ayam asal Rendang, Karangasem. Kertiyasa mengaku untuk sementara istirahat dulu untuk beternak ayam.

“Ya, saya sudah tiga bulan tutup kandang dulu,” ujar mantan anggota DPRD Karangasem dari Partai Golkar ini.

Dia mengaku terpaksa menutup peternakanya karena hasil yang didapat tidak maksimal bahkan cendrung merugi.

Permintaan akan ayam potong terus menurun. Ini disebabkan daya beli masyarakat yang juga menurun. Karena banyak dari mereka yang di PHK dari pekerjaanya akibat anjloknya pariwisata.

“Awalnya masyarakat beli daging ayam untuk lauk, sekarang ini pilih pakai telur,” ujar Gede Kertiyasa. Terkadang masyarakat pilih irit dengan hanya menggunakan lauk sayuran dan daging ikan asin.

Warung-warung di kampung juga omsetnya menurun karena dampak daya beli masyarakat yang turun akibat corona.

Baca Juga:  Menko Airlangga: ETPD Diharapkan Perbaiki Pengelolaan Keuangan Pemda

Warga yang makan di warung juga berkurang. Sehingga rumah makan juga sepi dan berdampak pada penjualan daging ayam.

Kertiyasa sendiri mengaku saat ini fokus bekerja di KUD. KUD juga kena dampak, karena beberapa kredit juga mulai macet.

Saat ayam masih bagus dirinya biasa pelihara 4.000 sampai 5.000 ekor ayam pedaging. Bahkan, sekali panen bisa meraih omset sampai Rp 100 juta.

Saat ini kandang lagi kosong. Ini dimanfaatkannya untuk perbaikan. “Saya sedang perbaiki kandang, sehingga nanti siap lagi diisi,” bebernya.

Yang semakin menjadi pukulan buat peternak adalah harga pakan yang semakin mahal. Sementara penjualan menurun.

Saat ini untuk pakan seharga Rp 400 ribu per sak. Kertiyasa sendiri mengakui untuk rugi, tidak banyak. Hanya saja biaya operasional mengalami kenaikan.

Untuk pakan dan bibit sendiri dibantu. Pihaknya hanya mempersiapkan sekam padi, listrik, gas dan air.  Lama panen sendiri 30 hari.

Baca Juga:  LPD Mulai Tangguhkan Pembayaran Angsuran Cicilan Kredit Bagi Nasabah

Untuk harga DOC sebelum Covid-19 sekitar Rp 2.000 per ekor. Peternak juga terkadang mengalami pasang surut. Kalau harga bagus dan ayam sehat bisa untung lumayan besar.

Peternakan di Rendang, Karangasem sebagian pasarnya ke hotel dan rumah makan. Diakui saat kondisi pandemic sekarang ini banyak peternakan yang kandangnya kosong.

Yang bertahan saat ini hanya mereka yang bermodal besar. yakni jenis kandang yang tertutup. Untuk kandang yang tertutup seperti ini lebih besar bayar listrik dan juga peralatan.

Dengan cara seperti ini ayam seperti di ruangan tidak benyak bergerak sehingga menjadi gemuk. Populasi ayam untuk kandang yang tertutup menjadi lebih bagus dan menjanjikan, hanya saja modal lebih besar.

Debu yang ada dalam kandang di sedot, sementara kandang menjadi lebih dingin. Ini mengakibatkan ayam lebih kuat makan dan daging lebih bagus. 



AMLAPURA – Hantaman virus corona berdampak pada peternakan ayam pedaging di Rendang, Karangasem.

Hal ini diakui Ir Gede Kertiyasa, peternak ayam asal Rendang, Karangasem. Kertiyasa mengaku untuk sementara istirahat dulu untuk beternak ayam.

“Ya, saya sudah tiga bulan tutup kandang dulu,” ujar mantan anggota DPRD Karangasem dari Partai Golkar ini.

Dia mengaku terpaksa menutup peternakanya karena hasil yang didapat tidak maksimal bahkan cendrung merugi.

Permintaan akan ayam potong terus menurun. Ini disebabkan daya beli masyarakat yang juga menurun. Karena banyak dari mereka yang di PHK dari pekerjaanya akibat anjloknya pariwisata.

“Awalnya masyarakat beli daging ayam untuk lauk, sekarang ini pilih pakai telur,” ujar Gede Kertiyasa. Terkadang masyarakat pilih irit dengan hanya menggunakan lauk sayuran dan daging ikan asin.

Warung-warung di kampung juga omsetnya menurun karena dampak daya beli masyarakat yang turun akibat corona.

Baca Juga:  Tak Terpengaruh Corona, Demand Buah Lokal Tinggi, Harga Anggur Anjlok

Warga yang makan di warung juga berkurang. Sehingga rumah makan juga sepi dan berdampak pada penjualan daging ayam.

Kertiyasa sendiri mengaku saat ini fokus bekerja di KUD. KUD juga kena dampak, karena beberapa kredit juga mulai macet.

Saat ayam masih bagus dirinya biasa pelihara 4.000 sampai 5.000 ekor ayam pedaging. Bahkan, sekali panen bisa meraih omset sampai Rp 100 juta.

Saat ini kandang lagi kosong. Ini dimanfaatkannya untuk perbaikan. “Saya sedang perbaiki kandang, sehingga nanti siap lagi diisi,” bebernya.

Yang semakin menjadi pukulan buat peternak adalah harga pakan yang semakin mahal. Sementara penjualan menurun.

Saat ini untuk pakan seharga Rp 400 ribu per sak. Kertiyasa sendiri mengakui untuk rugi, tidak banyak. Hanya saja biaya operasional mengalami kenaikan.

Untuk pakan dan bibit sendiri dibantu. Pihaknya hanya mempersiapkan sekam padi, listrik, gas dan air.  Lama panen sendiri 30 hari.

Baca Juga:  Empat Pasien Covid-19 Pulang Serentak, Tersisa Pasien Transmisi Lokal

Untuk harga DOC sebelum Covid-19 sekitar Rp 2.000 per ekor. Peternak juga terkadang mengalami pasang surut. Kalau harga bagus dan ayam sehat bisa untung lumayan besar.

Peternakan di Rendang, Karangasem sebagian pasarnya ke hotel dan rumah makan. Diakui saat kondisi pandemic sekarang ini banyak peternakan yang kandangnya kosong.

Yang bertahan saat ini hanya mereka yang bermodal besar. yakni jenis kandang yang tertutup. Untuk kandang yang tertutup seperti ini lebih besar bayar listrik dan juga peralatan.

Dengan cara seperti ini ayam seperti di ruangan tidak benyak bergerak sehingga menjadi gemuk. Populasi ayam untuk kandang yang tertutup menjadi lebih bagus dan menjanjikan, hanya saja modal lebih besar.

Debu yang ada dalam kandang di sedot, sementara kandang menjadi lebih dingin. Ini mengakibatkan ayam lebih kuat makan dan daging lebih bagus. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/