alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

Curah Hujan Tinggi, Petani Jeruk Bangli Terancam Gagal Panen

RadarBali.com – Musim hujan yang terjadi di wilayah Bangli membuat sebagian petani jeruk di wilayah Bangli resah.

Pasalnya, datangnya musim hujan ini mengancam tanaman jeruk mereka. Serangan hama berupa lalat emas yang memicu busuknya buah jeruk, kerap datang saat musim hujan seperti ini.

Jika hal ini dibiarkan terjadi, sejumlah petani jeruk di wilayah Bangli terancam mengalami gagal panen.

Salah seorang petani jeruk, Ketut Sandia mengatakan, musim hujan menimbulkan kekhawatiran bagi sejumlah petani di Kintamani.

Pasalnya, ancaman hama berupa lalat emas ini sangat mengganggu tanaman jeruk yang mengakibatkan pada gagalnya panen.

Saat ini, hama tersebut sudah mulai menghinggapi tanaman jeruk milik petani jeruk Desa Manikliu, Kintamani.

Baca Juga:  Terganggu Angin 35 Knot, KMP Liputan Xll Akhirnya Berhasil Ditarik

“Hama lalat ini hinggap di tanaman jeruk dan menyebarkan virus yang membuat jeruk membusuk. Setelah membusuk, maka jeruk menjadi gugur,” ujar Ketut Sandia.

Sandia mengatakan, jika virus yang dihasilkan dari hama ini tidak langsung bereaksi, setelah dihinggapi lalat tersebut biasanya selang tiga hari akan membusuk.

Untuk sementara ini, jumlah tanaman yang mengalami kerusakan masih sangat sedikit. Namun jika intensitas hujan tinggi, lalat emas ini akan sering hinggap pada tanaman jeruk.

“Ini menjadi ancaman bagi kami. Jika tahun sebelumnya biasanya tingkat gagal panen mencapai 50 persen, tahun ini bisa jadi sama” keluhnya.

Untuk mengantisipasi hal ini, ada beberapa cara yang digunakan petani untuk menyelamatkan tanaman jeruk mereka.

Salah satunya dengan menggunakan lela, bahan berupa lem yang dioleskan pada tanaman jeruk untuk menangkal virus.

Baca Juga:  Launching All-New Hyundai KONA, Hyundai Target Jual 50 Unit per Bulan

Hanya saja, kata Sandia, cara ini membutuhkan waktu yang cukup lama mengingat luasnya lahan jeruk.

“Untuk lebih praktis ada sistem penyemprotan. Namun, itu memakan biaya yang sangat mahal dengan menyemprotkan cairan anti hama yang dilakukan selama 15 hari sekali. Tentu hal ini sangat merugikan kami,” pungkasnya



RadarBali.com – Musim hujan yang terjadi di wilayah Bangli membuat sebagian petani jeruk di wilayah Bangli resah.

Pasalnya, datangnya musim hujan ini mengancam tanaman jeruk mereka. Serangan hama berupa lalat emas yang memicu busuknya buah jeruk, kerap datang saat musim hujan seperti ini.

Jika hal ini dibiarkan terjadi, sejumlah petani jeruk di wilayah Bangli terancam mengalami gagal panen.

Salah seorang petani jeruk, Ketut Sandia mengatakan, musim hujan menimbulkan kekhawatiran bagi sejumlah petani di Kintamani.

Pasalnya, ancaman hama berupa lalat emas ini sangat mengganggu tanaman jeruk yang mengakibatkan pada gagalnya panen.

Saat ini, hama tersebut sudah mulai menghinggapi tanaman jeruk milik petani jeruk Desa Manikliu, Kintamani.

Baca Juga:  Unlimited Internet 4G hanya di Andromax Smartfren

“Hama lalat ini hinggap di tanaman jeruk dan menyebarkan virus yang membuat jeruk membusuk. Setelah membusuk, maka jeruk menjadi gugur,” ujar Ketut Sandia.

Sandia mengatakan, jika virus yang dihasilkan dari hama ini tidak langsung bereaksi, setelah dihinggapi lalat tersebut biasanya selang tiga hari akan membusuk.

Untuk sementara ini, jumlah tanaman yang mengalami kerusakan masih sangat sedikit. Namun jika intensitas hujan tinggi, lalat emas ini akan sering hinggap pada tanaman jeruk.

“Ini menjadi ancaman bagi kami. Jika tahun sebelumnya biasanya tingkat gagal panen mencapai 50 persen, tahun ini bisa jadi sama” keluhnya.

Untuk mengantisipasi hal ini, ada beberapa cara yang digunakan petani untuk menyelamatkan tanaman jeruk mereka.

Salah satunya dengan menggunakan lela, bahan berupa lem yang dioleskan pada tanaman jeruk untuk menangkal virus.

Baca Juga:  Terganggu Angin 35 Knot, KMP Liputan Xll Akhirnya Berhasil Ditarik

Hanya saja, kata Sandia, cara ini membutuhkan waktu yang cukup lama mengingat luasnya lahan jeruk.

“Untuk lebih praktis ada sistem penyemprotan. Namun, itu memakan biaya yang sangat mahal dengan menyemprotkan cairan anti hama yang dilakukan selama 15 hari sekali. Tentu hal ini sangat merugikan kami,” pungkasnya


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/