alexametrics
27.6 C
Denpasar
Sunday, July 3, 2022

Hama Gayas Masih Jadi Momok, Petani Tejakula Buleleng Tak Berdaya

TEJAKULA  – Serangan hama gayas, tampaknya, masih menjadi momok bagi masyarakat di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula.

Masyarakat pun enggan menggeluti profesi sebagai petani, sebab gayas yang menyerang tanaman warga sangat ganas. Bahkan petani bisa merugi saat baru mulai melakukan cocok tanam.

Hama gayas kini menjadi masalah utama di Desa Tembok. Hampir tiap saat, masyarakat mengeluhkan serangan hama tersebut.

Terutama warga yang menggeluti profesi sebagai petani tanaman hortikultura. Perbekel Tembok Dewa Komang Yudi Astara mengatakan, serangan hama gayas pada tanaman petani memang sangat masif.

Khusus di Desa Tembok, serangan gayas justru sangat tak masuk di akal. Pasalnya hampir semua tanaman diserang oleh gayas.

“Tanaman seperti kelapa, mangga, jambu mete, itu dicari gayas. Bahkan tanaman nanas itu juga dicari gayas.

Apalagi kalau ada warga kami yang menanam singkong, itu sudah luar biasa sekali serangan hamanya,” kata Yudi.

Menurutnya, hama gayas seringkali menyerang tanaman yang berumbi. Bahkan belum lama ini warganya terpaksa harus gulung tikar

karena menanam singkong. Dari 10 bibit yang ditanam, hanya empat bibit saja yang tumbuh. Itu pun hasilnya tak maksimal.

“Saking banyaknya gayas di desa kami ini, kalau tanahnya itu dikeruk, bisa dapat gayas satu mangkok. Jadi ibaratnya, apa pun yang ditanam itu

sudah pasti dicari gayas. Entah itu jagung, papaya, pisang, kacang apalagi, itu sudah jelas diserang gayas,” jelasnya.

Untuk sementara pihaknya berusaha melakukan penanganan hama dengan menggunakan agen hayati.

Salah satunya dengan mengoptimalkan pemanfaatan metarhizum. Jamur jenis ini, dianggap efektif membunuh gayas. Sebab hama gayas, sangat tidak tahan dengan jamur.

Hanya saja penanganan itu membutuhkan lokasi yang lembab. Sementara sebagian besar lahan yang ada di Desa Tembok merupakan lahan tadah hujan, bahkan cenderung kering.

“Sempat kami coba di (dusun) Dadap Tebel. Cukup efektif sih. Karena jamur itu akan menempel di kulit gayas, dan lama-lama gayas

itu jadi keracunan. Hanya saja ini butuh proses dan penanganan sanitasi lahan yang sangat intensif,” tukasnya. 



TEJAKULA  – Serangan hama gayas, tampaknya, masih menjadi momok bagi masyarakat di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula.

Masyarakat pun enggan menggeluti profesi sebagai petani, sebab gayas yang menyerang tanaman warga sangat ganas. Bahkan petani bisa merugi saat baru mulai melakukan cocok tanam.

Hama gayas kini menjadi masalah utama di Desa Tembok. Hampir tiap saat, masyarakat mengeluhkan serangan hama tersebut.

Terutama warga yang menggeluti profesi sebagai petani tanaman hortikultura. Perbekel Tembok Dewa Komang Yudi Astara mengatakan, serangan hama gayas pada tanaman petani memang sangat masif.

Khusus di Desa Tembok, serangan gayas justru sangat tak masuk di akal. Pasalnya hampir semua tanaman diserang oleh gayas.

“Tanaman seperti kelapa, mangga, jambu mete, itu dicari gayas. Bahkan tanaman nanas itu juga dicari gayas.

Apalagi kalau ada warga kami yang menanam singkong, itu sudah luar biasa sekali serangan hamanya,” kata Yudi.

Menurutnya, hama gayas seringkali menyerang tanaman yang berumbi. Bahkan belum lama ini warganya terpaksa harus gulung tikar

karena menanam singkong. Dari 10 bibit yang ditanam, hanya empat bibit saja yang tumbuh. Itu pun hasilnya tak maksimal.

“Saking banyaknya gayas di desa kami ini, kalau tanahnya itu dikeruk, bisa dapat gayas satu mangkok. Jadi ibaratnya, apa pun yang ditanam itu

sudah pasti dicari gayas. Entah itu jagung, papaya, pisang, kacang apalagi, itu sudah jelas diserang gayas,” jelasnya.

Untuk sementara pihaknya berusaha melakukan penanganan hama dengan menggunakan agen hayati.

Salah satunya dengan mengoptimalkan pemanfaatan metarhizum. Jamur jenis ini, dianggap efektif membunuh gayas. Sebab hama gayas, sangat tidak tahan dengan jamur.

Hanya saja penanganan itu membutuhkan lokasi yang lembab. Sementara sebagian besar lahan yang ada di Desa Tembok merupakan lahan tadah hujan, bahkan cenderung kering.

“Sempat kami coba di (dusun) Dadap Tebel. Cukup efektif sih. Karena jamur itu akan menempel di kulit gayas, dan lama-lama gayas

itu jadi keracunan. Hanya saja ini butuh proses dan penanganan sanitasi lahan yang sangat intensif,” tukasnya. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/