alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

Panen Cabai Turun Drastis, Harga Cabai Rawit Kian Melambung

SEMARAPURA – Harga cabai rawit di Kabupaten Klungkung kian melambung. Bahkan sejak 31 Desember lalu, harganya naik Rp 5 ribu per kg per harinya.

Kondisi itu pun membuat para pedagang pusing lantaran takut kehilangan pelanggan di tengah menurunnya daya beli masyarakat.

Mencampur cabai rawit merah dengan hijau akhirnya menjadi siasat para pedagang untuk bisa memberikan pilihan harga yang lebih murah kepada pembeli.

Salah seorang pengepul cabai di Pasar Grosir Klungkung, Dewa Ayu Suniartini, Minggu (3/1) menuturkan, harga cabai rawit telah meningkat sejak pertengahan Desember 2020.

Itu lantaran banyak cabai milik petani yang busuk akibat musim hujan. Sehingga hasil panen para petani pun turun drastis.

Kondisi itu kian parah hingga sejak 31 Desember peningkatan harga cabai rawit kian signifikan, yakni naik sekitar Rp 5 ribu per kg per harinya.

Baca Juga:  Buntut Pengurus LPD Korup, Diskop: Kalau Pengurusnya Nakal, Ya Hancur

“Cabai rawit merah sekarang harganya sekitar Rp 80 ribu – Rp 90 ribu per kg. Sebelumnya harganya sekitar Rp 35 ribu per kg,” ungkapnya.

Harga cabai rawit yang tinggi diakuinya cukup membuat pusing. Lantaran ia khawatir pelanggannya menahan diri untuk membeli cabai rawit sehingga mempengaruhi omzet.

Mencampur cabai rawit yang telah merah dengan yang masih hijau akhirnya menjadi siasatnya agar bisa memberikan pilihan harga yang lebih murah kepada pembeli.

“Kalau jual cabai rawit merah saja, pembeli akan takut karena harganya terlalu tinggi. Jadi lebih banyak yang beli campur. Campurannya itu, yang merah satu kg dan yang hijau satu kg,” bebernya.

Baca Juga:  Jepang Berniat Tanamkan Investasi Perkampungan Lansia, Tertarik?

Hal serupa juga dilakukan pedagang pengecer cabai rawit Pasar Umum Galiran, Nengah Wiwin. Untuk mempertahankan pelanggan, ia memberikan pilihan cabai rawit merah dan campur.

Sehingga pembeli yang merasa cukup berat dengan harga cabai rawit saat ini bisa memilih cabai rawit campur yang harganya lebih murah.

“Untuk cabai rawit merah saya jual dengan harga Rp 80 ribu per kg. Sementara yang campur Rp 60 ribu per kg. Untungnya tipis sekali. Biar laku saja dan pelanggan tidak kabur,” terangnya.

Dengan harga cabai rawit saat ini, ia mengaku tidak berani menyetok banyak. Selain takut busuk lantaran sulit terjual, ia juga harus membeli komoditi pangan lainnya untuk dijual. 



SEMARAPURA – Harga cabai rawit di Kabupaten Klungkung kian melambung. Bahkan sejak 31 Desember lalu, harganya naik Rp 5 ribu per kg per harinya.

Kondisi itu pun membuat para pedagang pusing lantaran takut kehilangan pelanggan di tengah menurunnya daya beli masyarakat.

Mencampur cabai rawit merah dengan hijau akhirnya menjadi siasat para pedagang untuk bisa memberikan pilihan harga yang lebih murah kepada pembeli.

Salah seorang pengepul cabai di Pasar Grosir Klungkung, Dewa Ayu Suniartini, Minggu (3/1) menuturkan, harga cabai rawit telah meningkat sejak pertengahan Desember 2020.

Itu lantaran banyak cabai milik petani yang busuk akibat musim hujan. Sehingga hasil panen para petani pun turun drastis.

Kondisi itu kian parah hingga sejak 31 Desember peningkatan harga cabai rawit kian signifikan, yakni naik sekitar Rp 5 ribu per kg per harinya.

Baca Juga:  Ubah Status BPR 45 Buleleng, Dewan Minta Cari Persetujuan Kemendagri

“Cabai rawit merah sekarang harganya sekitar Rp 80 ribu – Rp 90 ribu per kg. Sebelumnya harganya sekitar Rp 35 ribu per kg,” ungkapnya.

Harga cabai rawit yang tinggi diakuinya cukup membuat pusing. Lantaran ia khawatir pelanggannya menahan diri untuk membeli cabai rawit sehingga mempengaruhi omzet.

Mencampur cabai rawit yang telah merah dengan yang masih hijau akhirnya menjadi siasatnya agar bisa memberikan pilihan harga yang lebih murah kepada pembeli.

“Kalau jual cabai rawit merah saja, pembeli akan takut karena harganya terlalu tinggi. Jadi lebih banyak yang beli campur. Campurannya itu, yang merah satu kg dan yang hijau satu kg,” bebernya.

Baca Juga:  BRI Andalkan Ultra Mikro Sebagai Sumber Pertumbuhan Baru

Hal serupa juga dilakukan pedagang pengecer cabai rawit Pasar Umum Galiran, Nengah Wiwin. Untuk mempertahankan pelanggan, ia memberikan pilihan cabai rawit merah dan campur.

Sehingga pembeli yang merasa cukup berat dengan harga cabai rawit saat ini bisa memilih cabai rawit campur yang harganya lebih murah.

“Untuk cabai rawit merah saya jual dengan harga Rp 80 ribu per kg. Sementara yang campur Rp 60 ribu per kg. Untungnya tipis sekali. Biar laku saja dan pelanggan tidak kabur,” terangnya.

Dengan harga cabai rawit saat ini, ia mengaku tidak berani menyetok banyak. Selain takut busuk lantaran sulit terjual, ia juga harus membeli komoditi pangan lainnya untuk dijual. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/