alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Klungkung Gairahkan Kembali Budidaya Rumput Laut, Begini Caranya…

SEMARAPURA – Kecamatan Nusa Penida sejak dulu terkenal akan produksi rumput lautnya. Bahkan, hasil produksinya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi juga luar negeri.

Sayang kini produksinya terus menurun. Berdasar data Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klungkung, total produksi rumput laut di Nusa Penida mencapai 100 ribu ton tahun 2015 lalu.

Mulai awal tahun 2017, produksinya terus merosot. Bahkan, total produksi rumput laut hingga akhir 2017 hanya mencapai 500 ton saja.

Untuk mengembalikan kejayaan rumput laut Nusa Penida, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Klungkung melakukan uji coba metode Demontration Plot (demplot) rumput laut.

Uji coba sejak awal tahun 2018 ini bahkan sudah menuai hasil. Menurut Kadis Ketahanan Pangan dan Perikanan Klungkung I Wayan Durma, uji coba ini dilakukan karena belum diketahui secara pasti penyebab merosotnya produksi rumput laut ini.

Kata dia, awalnya penurunan produksi itu terjadi karena rumput laut yang dikembangkan para petani dimakan ikan.

Baca Juga:  Pencairan Tahap VIII Berakhir, Klungkung Menuju Pencairan BST Tahap IX

Lalu muncul penyakit ais-ais yang memperparah penurunan produksi rumput laut. “Tempat melakukan demplot ini antara lain, di Lembongan, Suana, Batu Nunggul,” katanya.

Sejak awal tahun 2018, pelaksanaan demplot berlangsung selama tiga kali. Penanaman pertama dilakukan pada bulan April dan panen pada bulan Juni.

Kedua pada bulan Agustus penanaman dan panen pada bulan September. Dan penanaman ketiga dilaksanakan pada bulan September atau Oktober.

Sumber bibit yang digunakan berasal dari bibit lokal yang diperoleh di Desa Suana dengan jenis rumput laut Eucheuma spinosum dan Eucheuma Cottonii Sakul. Serta bibit dari Lombok timur dengan jenis rumput laut Eucheuma cottonii.

 “Hasil panen demplot yang dilakukan di perairan laut antara Nusa Ceningan dengan Lembongan pada penanaman pertama sukses.

Ini dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan tanaman rumput laut yang tumbuh dengan seragam,” ungkapnya.

Jika uji coba demplot tahap I-III dipandang sukses, Pemkab Klungkung akan mengadakan sosialisasi ke masyarakat untuk dapat membangkitkan kembali semangat mereka melakukan budidaya rumput laut.

Baca Juga:  Bupati Suwirta:Kemiskinan di Tingkat Kelurahan di Klungkung Kian Dalam

Ketua Kelompok Rumput Laut Kerthi Dharma I Wayan Suwarbawa mengatakan, selama proses pengkajian sampai panen, tidak tampak tanda-tanda penyakit ice-ice.

Dan untuk ikan yang dianggap sebagai hama oleh petani rumput laut, masih tetap ada di sekitar rumput laut.

Tetapi dengan konstruksi yang digunakan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klungkung terbukti sangat ampuh dalam mengusir hama ikan tersebut.

“Perlu diketahui, salah satu penyebab rumput laut di Lembongan menghilang karena hama ikan,” ujarnya.

Pihaknya mengungkapkan, untuk harga jual rumput laut secara nasional tahun 2017-2018 dengan kadar air 35 persen mengalami kenaikan signifikan yakni kisaran harga 20 ribu per kilogram.

Beda dengan harga pada tahun 2015-2016 berada di kisaran harga Rp 8 ribu– Rp 9 ribu per kilogram.

“Kami juga melihat sepanjang kegiatan penanaman dan panen rumput laut sangat dimungkinkan menjadi bagian salah satu penunjang pariwisata yang ada di Nusa Penida,” tandasnya.



SEMARAPURA – Kecamatan Nusa Penida sejak dulu terkenal akan produksi rumput lautnya. Bahkan, hasil produksinya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi juga luar negeri.

Sayang kini produksinya terus menurun. Berdasar data Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klungkung, total produksi rumput laut di Nusa Penida mencapai 100 ribu ton tahun 2015 lalu.

Mulai awal tahun 2017, produksinya terus merosot. Bahkan, total produksi rumput laut hingga akhir 2017 hanya mencapai 500 ton saja.

Untuk mengembalikan kejayaan rumput laut Nusa Penida, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Klungkung melakukan uji coba metode Demontration Plot (demplot) rumput laut.

Uji coba sejak awal tahun 2018 ini bahkan sudah menuai hasil. Menurut Kadis Ketahanan Pangan dan Perikanan Klungkung I Wayan Durma, uji coba ini dilakukan karena belum diketahui secara pasti penyebab merosotnya produksi rumput laut ini.

Kata dia, awalnya penurunan produksi itu terjadi karena rumput laut yang dikembangkan para petani dimakan ikan.

Baca Juga:  Mendag Zulhas: MoU Indonesia-UAE CEPA, Proyeksi Ekspor ke Teluk-Timur Tengah

Lalu muncul penyakit ais-ais yang memperparah penurunan produksi rumput laut. “Tempat melakukan demplot ini antara lain, di Lembongan, Suana, Batu Nunggul,” katanya.

Sejak awal tahun 2018, pelaksanaan demplot berlangsung selama tiga kali. Penanaman pertama dilakukan pada bulan April dan panen pada bulan Juni.

Kedua pada bulan Agustus penanaman dan panen pada bulan September. Dan penanaman ketiga dilaksanakan pada bulan September atau Oktober.

Sumber bibit yang digunakan berasal dari bibit lokal yang diperoleh di Desa Suana dengan jenis rumput laut Eucheuma spinosum dan Eucheuma Cottonii Sakul. Serta bibit dari Lombok timur dengan jenis rumput laut Eucheuma cottonii.

 “Hasil panen demplot yang dilakukan di perairan laut antara Nusa Ceningan dengan Lembongan pada penanaman pertama sukses.

Ini dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan tanaman rumput laut yang tumbuh dengan seragam,” ungkapnya.

Jika uji coba demplot tahap I-III dipandang sukses, Pemkab Klungkung akan mengadakan sosialisasi ke masyarakat untuk dapat membangkitkan kembali semangat mereka melakukan budidaya rumput laut.

Baca Juga:  Tangan Dingin Rivan Purwantono Tuntaskan Sederet Tugas di KB Bukopin

Ketua Kelompok Rumput Laut Kerthi Dharma I Wayan Suwarbawa mengatakan, selama proses pengkajian sampai panen, tidak tampak tanda-tanda penyakit ice-ice.

Dan untuk ikan yang dianggap sebagai hama oleh petani rumput laut, masih tetap ada di sekitar rumput laut.

Tetapi dengan konstruksi yang digunakan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klungkung terbukti sangat ampuh dalam mengusir hama ikan tersebut.

“Perlu diketahui, salah satu penyebab rumput laut di Lembongan menghilang karena hama ikan,” ujarnya.

Pihaknya mengungkapkan, untuk harga jual rumput laut secara nasional tahun 2017-2018 dengan kadar air 35 persen mengalami kenaikan signifikan yakni kisaran harga 20 ribu per kilogram.

Beda dengan harga pada tahun 2015-2016 berada di kisaran harga Rp 8 ribu– Rp 9 ribu per kilogram.

“Kami juga melihat sepanjang kegiatan penanaman dan panen rumput laut sangat dimungkinkan menjadi bagian salah satu penunjang pariwisata yang ada di Nusa Penida,” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/