alexametrics
27.6 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Pekerja Informal Belum Banyak Jadi Peserta BPJS TK, Ini Penyebabnya…

DENPASAR – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Cabang Bali – Denpasar tahun 2018 ini menargetkan pertumbuhan peserta baru hingga 35 persen dari 2017 lalu.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Bali – Denpasar Novias Dewo mengungkapkan, pada tahun 2017 lalu jumlah penambahan peserta baru mencapai 70 ribu jiwa.

Kata dia, jumlah peserta yang aktif pada 2017 lalu mencapai 250 ribuan peserta namun tahun ini mencapai 300 ribuan.

Diakui jumlah kepesertaan saat ini masih kecil, dari total angkatan kerja 2,4 juta orang di luar PNS dan Polri kepesertaan hanya dua pertiganya. Sedangkan peserta yang baru tidak sampai 350 ribuan.

“Secara angka masih menunjukkan banyak masyarakat pekerja yang belum menjadi peserta. Khususnya pekerja yang informal,” kata Novias Dewo.

Pihaknya mengakui, angka peserta baru setiap tahunnya cenderung mengalami kenaikan. “Cuma antara yang masuk dengan yang keluar ini balapan,” tandasnya.

Baca Juga:  Terdaftar di BPJS, Ratusan Tenaga Kontrak DLHK Badung Terima Subsidi

“Karena di Bali ini cukup banyak perusahaan yang melakukan penutupan. Sehingga yang mendaftar baru dengan mengklaim seimbang. Kita inginnya penambahan peserta bisa lebih cepat lagi,” terangnya.

Untuk mendorong peningkatan jumlah peserta, pihaknya telah melakukan perluasan jaringan melalui kerjasama dengan perusahaan ritel, perbankan dan agen perisai.

“Kami sudah coba meningkatkan informasi terkait manfaat sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Mungkin belum banyak yang tahu, sehingga pesertanya masih belum masif,” bebernya.

Lebih lanjut Dewo mengatakan,  keberadaan BPJS Ketenagakerjaan ini  sebagai mitra perusahaan dalam memberikan perlindungan kepada para pekerja di Tanah Air.

Perusahaan cukup mendaftarkan tenaga kerjanya ke dalam empat program. Di antaranya jaminan kecelakaan kerja (JKK), JHT, jaminan kematian (JKM) dan jaminan pensiun (JP).

“Kalau ada karyawan mengalami hal demikian, BPJS hadir,” kata Dewo. Khusus di Bali ini sebenarnya ada yang namanya ngaben yang pengeluaran dananya cukup banyak.

Baca Juga:  Cegah Cluster Covid-19 di Pasar, Bulan Depan 3 Pasar Besar Ditertibkan

Dengan menjadi kepesertaan BPJS mereka yang meninggal sudah pasti mendapat santunan kematian bisa untuk biaya ngaben. “Kalau nabung kan kelihatannya lebih lama,” ucapnya.

Sementara, kata dia, jika pekerja mengalami kecelakaan kerja tidak perlu membayar biaya pengobatan.

Cukup datang ke rumah sakit yang sudah bekerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan, maka biaya pengobatan maupun perawatan ditanggung sampai sembuh.

“Kalau di PHK ada simpanan JHT. Kalau usia tua dapat dana pensiunnya. Diharapkan dengan dilakukan ini akan ada pertumbuhan peserta,” paparnya.

Dalam hal ini kesempatan itu BPJS Ketengakakerjaan telah menyerahkan dana JHT sebesar Rp 83 juta lebih kepada salah satu peserta.

“Kami bayarkan JHT-nya. Harapannya beliau bisa menjadi perpanjangan tangan kita dalam rangka memberikan informasi manfaat program ini,” pungkasnya.



DENPASAR – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Cabang Bali – Denpasar tahun 2018 ini menargetkan pertumbuhan peserta baru hingga 35 persen dari 2017 lalu.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Bali – Denpasar Novias Dewo mengungkapkan, pada tahun 2017 lalu jumlah penambahan peserta baru mencapai 70 ribu jiwa.

Kata dia, jumlah peserta yang aktif pada 2017 lalu mencapai 250 ribuan peserta namun tahun ini mencapai 300 ribuan.

Diakui jumlah kepesertaan saat ini masih kecil, dari total angkatan kerja 2,4 juta orang di luar PNS dan Polri kepesertaan hanya dua pertiganya. Sedangkan peserta yang baru tidak sampai 350 ribuan.

“Secara angka masih menunjukkan banyak masyarakat pekerja yang belum menjadi peserta. Khususnya pekerja yang informal,” kata Novias Dewo.

Pihaknya mengakui, angka peserta baru setiap tahunnya cenderung mengalami kenaikan. “Cuma antara yang masuk dengan yang keluar ini balapan,” tandasnya.

Baca Juga:  Mendag Optimistis Indonesia Jadi Pusat Industri Produk Halal

“Karena di Bali ini cukup banyak perusahaan yang melakukan penutupan. Sehingga yang mendaftar baru dengan mengklaim seimbang. Kita inginnya penambahan peserta bisa lebih cepat lagi,” terangnya.

Untuk mendorong peningkatan jumlah peserta, pihaknya telah melakukan perluasan jaringan melalui kerjasama dengan perusahaan ritel, perbankan dan agen perisai.

“Kami sudah coba meningkatkan informasi terkait manfaat sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Mungkin belum banyak yang tahu, sehingga pesertanya masih belum masif,” bebernya.

Lebih lanjut Dewo mengatakan,  keberadaan BPJS Ketenagakerjaan ini  sebagai mitra perusahaan dalam memberikan perlindungan kepada para pekerja di Tanah Air.

Perusahaan cukup mendaftarkan tenaga kerjanya ke dalam empat program. Di antaranya jaminan kecelakaan kerja (JKK), JHT, jaminan kematian (JKM) dan jaminan pensiun (JP).

“Kalau ada karyawan mengalami hal demikian, BPJS hadir,” kata Dewo. Khusus di Bali ini sebenarnya ada yang namanya ngaben yang pengeluaran dananya cukup banyak.

Baca Juga:  TP PKK Jembrana-BPJamsostek Besuk Korban Kecelakaan Kerja

Dengan menjadi kepesertaan BPJS mereka yang meninggal sudah pasti mendapat santunan kematian bisa untuk biaya ngaben. “Kalau nabung kan kelihatannya lebih lama,” ucapnya.

Sementara, kata dia, jika pekerja mengalami kecelakaan kerja tidak perlu membayar biaya pengobatan.

Cukup datang ke rumah sakit yang sudah bekerjasama dengan BPJS Ketenagakerjaan, maka biaya pengobatan maupun perawatan ditanggung sampai sembuh.

“Kalau di PHK ada simpanan JHT. Kalau usia tua dapat dana pensiunnya. Diharapkan dengan dilakukan ini akan ada pertumbuhan peserta,” paparnya.

Dalam hal ini kesempatan itu BPJS Ketengakakerjaan telah menyerahkan dana JHT sebesar Rp 83 juta lebih kepada salah satu peserta.

“Kami bayarkan JHT-nya. Harapannya beliau bisa menjadi perpanjangan tangan kita dalam rangka memberikan informasi manfaat program ini,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/