alexametrics
27.6 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

Subak Tungkub Mengwi kekeringan, Petani Terancam Gagal Panen

MANGUPURA – Nasib petani di Subak Tungkub Dalem, Mengwi, Badung merana. Pasalnya, sawah Munduk Babadan wilayah Subak Tungkup mengalami kekeringan.

Kondisi tanah sawah pecah-pecah dan petani pun terancam gagal panen. Menurut informasi, kekeringan terjadi sejak awal Agustus.

Sawah masih kecipratan air hanya pada saat sebelum dan saat masa tanam. Setelah itu, perlahan debit air mulai berkurang hingga pada akhirnya sawah pun mengalami kekeringan.

“Sudah tidak ada air. Hanya pada saat tanam saja masih dapat air, setelah itu kering. Rugi total ini,” ungkap salah satu petani, Ketut Adikarta.

Kata dia, setelah dua bulan masa tanam, sawahnya sudah tidak pernah tersentuh air. Bahkan, sampai saat ini belum ada tindak lanjut apapun untuk mencari solusi.

Dia menduga, penyebab kekeringan lantaran hulu saluran irigasi mengalami kerusakan, sehingga air yang sedianya mengalir ke sawah bocor kemana-mana.

“Kalau di sana (bagian selatan) irigasinya sudah bagus. Tapi, yang dulu rusak jadi airnya tidak sampai masuk ke sawah,” ucap petani yang menggarap 40 are sawah ini.

Baca Juga:  Tanggungjawab, Badung Siapkan Lahan untuk Kubur 1047 Ekor Bangkai Babi

Lebih lanjut, kabarnya ada wacana perbaikan pada bulan agustus lalu, namun hingga saat ini perbaikan tak kunjung terealisasi.

“Sampai sekarang tidak ada proyek apa- apa, dulu katanya bulan Agustus akan ada proyek perbaikan,” kata Petani asal Banjar Panca Yasa itu.

Namun, pada Subak Beringkit yang tak jauh dari Subak Tungkub Dalem, sebuah sungai air mengalir dengan debit yang cukup tinggi. Berbeda dengan kondisi Subak Tungkub yang kekeringan air.  

“Air itu untuk Subak Beringkit. Sawah saya ini hanya dapat air rembesan. Petani sudah males ke sawah, karena tidak ada air,” kata Men Putu Purna – sapaan akrabnya.

Kabid Prasarana, Sarana Pertanian (PSP) Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, Nyoman Sumadi, tak menampik bahwa sejumlah lahan persawahan debit airnya berkurang.

Seperti di Subak Tungkub Dalem, Munduk Uma Tegal dan Munduk Dukuh, Desa/Kecamatan Mengwi. “Kurang lebih dua hektare ada mengalami kekeringan,” jelasnya.

Baca Juga:  Target Terlampaui, DBH Pajak dan Retribusi Tembus Rp 8 Miliar

Namun, masalah irigasi, Sumadi mengatakan, untuk urusant irigasi masih ditangani oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Badung.

“Kalau masalah irigasinya, PUPR yang tahu. Namun, tyang (saya) menduga kemungkinan memang ada bocor,” terangnya.

Pihaknya memastikan bila saat ini sudah dilakukan pembagian air di masing-masing subak. Supaya semua dapat pasokan air.

“Pakai sistem giliran. Kemungkinan seminggu sekali air yang debit lebih besar dialirkan ke irigasi lainnya agar tanaman bisa hidup,” tukasnya.

Sementara Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Badung, Anak Agung Gede Dalem, mengakui, daerah subak Tungkub Mengwi dan Kekeran termasuk Daerah Irigasi dikelola Provinsi Bali.

“Setahu saya tak ada masalah. Tapi kemarau panjang mengakibatkan air sangat kecil. Dari info di lapangan cuma di Kekeran yang kesulitan air sekitar 10 ha. Namun, dari Badung tak ada proyek di sekitar sana,” pungkasnya.



MANGUPURA – Nasib petani di Subak Tungkub Dalem, Mengwi, Badung merana. Pasalnya, sawah Munduk Babadan wilayah Subak Tungkup mengalami kekeringan.

Kondisi tanah sawah pecah-pecah dan petani pun terancam gagal panen. Menurut informasi, kekeringan terjadi sejak awal Agustus.

Sawah masih kecipratan air hanya pada saat sebelum dan saat masa tanam. Setelah itu, perlahan debit air mulai berkurang hingga pada akhirnya sawah pun mengalami kekeringan.

“Sudah tidak ada air. Hanya pada saat tanam saja masih dapat air, setelah itu kering. Rugi total ini,” ungkap salah satu petani, Ketut Adikarta.

Kata dia, setelah dua bulan masa tanam, sawahnya sudah tidak pernah tersentuh air. Bahkan, sampai saat ini belum ada tindak lanjut apapun untuk mencari solusi.

Dia menduga, penyebab kekeringan lantaran hulu saluran irigasi mengalami kerusakan, sehingga air yang sedianya mengalir ke sawah bocor kemana-mana.

“Kalau di sana (bagian selatan) irigasinya sudah bagus. Tapi, yang dulu rusak jadi airnya tidak sampai masuk ke sawah,” ucap petani yang menggarap 40 are sawah ini.

Baca Juga:  Pastikan Daging Aman Dikonsumsi saat Galungan, Babi Peternak Diperiksa

Lebih lanjut, kabarnya ada wacana perbaikan pada bulan agustus lalu, namun hingga saat ini perbaikan tak kunjung terealisasi.

“Sampai sekarang tidak ada proyek apa- apa, dulu katanya bulan Agustus akan ada proyek perbaikan,” kata Petani asal Banjar Panca Yasa itu.

Namun, pada Subak Beringkit yang tak jauh dari Subak Tungkub Dalem, sebuah sungai air mengalir dengan debit yang cukup tinggi. Berbeda dengan kondisi Subak Tungkub yang kekeringan air.  

“Air itu untuk Subak Beringkit. Sawah saya ini hanya dapat air rembesan. Petani sudah males ke sawah, karena tidak ada air,” kata Men Putu Purna – sapaan akrabnya.

Kabid Prasarana, Sarana Pertanian (PSP) Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, Nyoman Sumadi, tak menampik bahwa sejumlah lahan persawahan debit airnya berkurang.

Seperti di Subak Tungkub Dalem, Munduk Uma Tegal dan Munduk Dukuh, Desa/Kecamatan Mengwi. “Kurang lebih dua hektare ada mengalami kekeringan,” jelasnya.

Baca Juga:  Saluran Irigasi Jebol, Lahan Subak Ayung Kekeringan, Terpaksa Tanam...

Namun, masalah irigasi, Sumadi mengatakan, untuk urusant irigasi masih ditangani oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Badung.

“Kalau masalah irigasinya, PUPR yang tahu. Namun, tyang (saya) menduga kemungkinan memang ada bocor,” terangnya.

Pihaknya memastikan bila saat ini sudah dilakukan pembagian air di masing-masing subak. Supaya semua dapat pasokan air.

“Pakai sistem giliran. Kemungkinan seminggu sekali air yang debit lebih besar dialirkan ke irigasi lainnya agar tanaman bisa hidup,” tukasnya.

Sementara Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Badung, Anak Agung Gede Dalem, mengakui, daerah subak Tungkub Mengwi dan Kekeran termasuk Daerah Irigasi dikelola Provinsi Bali.

“Setahu saya tak ada masalah. Tapi kemarau panjang mengakibatkan air sangat kecil. Dari info di lapangan cuma di Kekeran yang kesulitan air sekitar 10 ha. Namun, dari Badung tak ada proyek di sekitar sana,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/