alexametrics
25.4 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Pasarkan Hasil Panen Petani, Muncul Gerakan Pasar Rakyat Bali

MANGUPURA – Setiap pagi para petani di beberapa kabupaten/kota di Bali datang ke Kerobokan, Badung. Tepatnya ke sebuah gudang bernama Pasar Rakyat Bali.

Pasar Rakyat Bali ini muncul di tengah pandemi covid 19 masuk ke Bali. Owner Pasar Rakyat Bali, Nyoman Artha menyebut, petani ini datang ke gudang miliknya membawa hasil tanaman mereka yang tak laku dijual.

Seperti sawi, kol, tomat, buncis dan bahkan juga buah jeruk. “Kami beberapa kali ke tempat petani untuk bantuin panen.

Selain mereka nggak bisa jual, panen sendiri juga habis tenaganya. Makanya kami kadang dipanggil untuk ikut bantu-bantu,” ujar Nyoman Artha.

Untuk mengambil produksi dari para petani saat pandemi ini, selain mengeluarkan uang sendiri (modal), Artha juga membuka donasi.

Baca Juga:  Nonton MotoGP Mandalika, Makin Hemat dan Mudah dengan BRImo

Sebagian dari sayur dan buah-buahnan itu di jual dengan pola mengambil secukupnya dan bayar seiklasnya. “Tapi banyak yang bayar lebih,” ujarnya dengan bahagia.

Disinggung bagaimana gerakan ini bisa terbangun, Artha yang mengaku sudah sejak tahun 2000 menjadi pendamping petani ini dapat memahami kondisi para petani di tengah pandemi Covid-19 ini.

Menurutnya, ditengah produksi petani yang meningkat, justru daya beli masyarakat saat ini menurun akibat wabah corona. Serapan di pasar pun menurun dan petani mengalami kerugian.

“Hal ini membahayakan sebenarnya. Kalau petani mengurangi produksinya, jadi kita akan kekurangan bahan pangan,” ujarnya.

Maka hal inilah yang dilakukan Pasar Rakyat Bali agar petani tetap berproduksi sehingga suplai pangan tetap ada. Paling tidak sesuai dengan kebutuhan sehingga potensi kelaparan tidak mengancam.

Baca Juga:  Jelang Idul Adha, Kemenag Rilis Panduan Sembelih Kurban Aman Covid-19

Namun, apakah hasil produksi para petani ini dibayar dengan harga normal, Artha mengaku memang tidak. Yang terpenting adalah tidak merugikan petani itu sendiri.

“Mereka memberikan harga special. Yang penting mereka tidak rugi saja dan bisa ada modal untuk menanam kembali nantinya,” tegasnya.

Dalam sehari, Pasar Rakyat Bali biasanya menerima 500 kilo perharinya dan kemudian dibagikan ke masyarakat dengan

sistem jual beli tadi (donasi) dan juga disumbangkan secara gratis ke beberapa tempat dan masyarakat yang membutuhkan. 



MANGUPURA – Setiap pagi para petani di beberapa kabupaten/kota di Bali datang ke Kerobokan, Badung. Tepatnya ke sebuah gudang bernama Pasar Rakyat Bali.

Pasar Rakyat Bali ini muncul di tengah pandemi covid 19 masuk ke Bali. Owner Pasar Rakyat Bali, Nyoman Artha menyebut, petani ini datang ke gudang miliknya membawa hasil tanaman mereka yang tak laku dijual.

Seperti sawi, kol, tomat, buncis dan bahkan juga buah jeruk. “Kami beberapa kali ke tempat petani untuk bantuin panen.

Selain mereka nggak bisa jual, panen sendiri juga habis tenaganya. Makanya kami kadang dipanggil untuk ikut bantu-bantu,” ujar Nyoman Artha.

Untuk mengambil produksi dari para petani saat pandemi ini, selain mengeluarkan uang sendiri (modal), Artha juga membuka donasi.

Baca Juga:  Staf Meninggal Berstatus Probable, Begini Respons Kadinsos Buleleng

Sebagian dari sayur dan buah-buahnan itu di jual dengan pola mengambil secukupnya dan bayar seiklasnya. “Tapi banyak yang bayar lebih,” ujarnya dengan bahagia.

Disinggung bagaimana gerakan ini bisa terbangun, Artha yang mengaku sudah sejak tahun 2000 menjadi pendamping petani ini dapat memahami kondisi para petani di tengah pandemi Covid-19 ini.

Menurutnya, ditengah produksi petani yang meningkat, justru daya beli masyarakat saat ini menurun akibat wabah corona. Serapan di pasar pun menurun dan petani mengalami kerugian.

“Hal ini membahayakan sebenarnya. Kalau petani mengurangi produksinya, jadi kita akan kekurangan bahan pangan,” ujarnya.

Maka hal inilah yang dilakukan Pasar Rakyat Bali agar petani tetap berproduksi sehingga suplai pangan tetap ada. Paling tidak sesuai dengan kebutuhan sehingga potensi kelaparan tidak mengancam.

Baca Juga:  Lagi, 17 Warga Denpasar Positif Covid-19, GTPP: Mayoritas Kasus Baru

Namun, apakah hasil produksi para petani ini dibayar dengan harga normal, Artha mengaku memang tidak. Yang terpenting adalah tidak merugikan petani itu sendiri.

“Mereka memberikan harga special. Yang penting mereka tidak rugi saja dan bisa ada modal untuk menanam kembali nantinya,” tegasnya.

Dalam sehari, Pasar Rakyat Bali biasanya menerima 500 kilo perharinya dan kemudian dibagikan ke masyarakat dengan

sistem jual beli tadi (donasi) dan juga disumbangkan secara gratis ke beberapa tempat dan masyarakat yang membutuhkan. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/