alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Cetak Sejarah, Bali Sukses Ekspor Kapal Penangkap Ikan ke Tiongkok

DENPASAR – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, mencatat nilai ekspor barang Bali pada bulan Juli 2018 mencapai USS 46.475.569 atau meningkat sebesar 39,38 persen dibandingkan bulan sebelumnya month to month (m to m).

Tingginya peningkatan nilai ekspor dari bulan sebelumnya (m-to-m), dominan dipengaruhi oleh meningkatnya nilai ekspor tujuan Amerika Serikat sebesar US$ 3.412.913 atau naik sebesar 30,97 persen.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Bali I Gede Nyoman Subadri, mengatakan secara absolut, naiknya ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh komoditas ikan dan udang, tuna dan cakalang yang mencapai US$ 1.247.591.

“Selama tahun 2018, ekspor ikan dan udang tujuan Amerika Serikat mencapai puncak tertinggi di bulan Juli 2018,” ujarnya.

Baca Juga:  Asyik....Calon TKI Kapal Pesiar Bakal Terima Subsidi Rp 20 Juta

Selain itu, komoditas yang dominan mempengaruhi peningkatan ekspor tujuan Amerika Serikat secara persentase antara lain komoditas perabot dan penerangan rumah yang mengalami peningkatan hingga puluhan kati lipat.

Selain itu, ada juga komoditas yang mengalami peningkatan antara lain produk kayu, barang dari kayu yang meningkat hingga 72,78 persen, berupa patung kecil dan ornamen lainnya yang terbuat dari kayu.

Selain tujuan Amerika Serikat, ekspor tujuan Tiongkok juga mengalami peningkatan hingga ratusan persen, dengan nilai mencapai US$ 1.958.107.

Di mana komoditas yang dominan mempengaruhi peningkatan ekspor ke negara tersebut hingga ratusan persen antara lain komoditas ikan dan udang yang sebagian besar berupa cumi-cumi, mencapai US$ 1.421.057.

Baca Juga:  Sektor Properti Berisiko, BPR Kembali Lirik Sektor Mikro

Setelah komoditas ikan dan udang, komoditas yang baru diekspor pada bulan Juli 2018 dan sebelumnya tidak dilakukan ekspor antara lain produk kapal laut

dan bangunan terapung berupa kapal penangkap ikan dengan tonase kotor melebihi 4.000 gross ton (GT) sebesar US$ 156.000.

“Kapal laut dan bangunan terapung, yang pada bulan Juli 2017 tidak dilakukan ekspor ke Tiongkok, kini kembali di ekspor. Ini pertama kali,” terang Subadri.



DENPASAR – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, mencatat nilai ekspor barang Bali pada bulan Juli 2018 mencapai USS 46.475.569 atau meningkat sebesar 39,38 persen dibandingkan bulan sebelumnya month to month (m to m).

Tingginya peningkatan nilai ekspor dari bulan sebelumnya (m-to-m), dominan dipengaruhi oleh meningkatnya nilai ekspor tujuan Amerika Serikat sebesar US$ 3.412.913 atau naik sebesar 30,97 persen.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Bali I Gede Nyoman Subadri, mengatakan secara absolut, naiknya ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh komoditas ikan dan udang, tuna dan cakalang yang mencapai US$ 1.247.591.

“Selama tahun 2018, ekspor ikan dan udang tujuan Amerika Serikat mencapai puncak tertinggi di bulan Juli 2018,” ujarnya.

Baca Juga:  Daya Beli Rendah, Petani Garam Pejarakan Gerokgak Kurangi Produksi

Selain itu, komoditas yang dominan mempengaruhi peningkatan ekspor tujuan Amerika Serikat secara persentase antara lain komoditas perabot dan penerangan rumah yang mengalami peningkatan hingga puluhan kati lipat.

Selain itu, ada juga komoditas yang mengalami peningkatan antara lain produk kayu, barang dari kayu yang meningkat hingga 72,78 persen, berupa patung kecil dan ornamen lainnya yang terbuat dari kayu.

Selain tujuan Amerika Serikat, ekspor tujuan Tiongkok juga mengalami peningkatan hingga ratusan persen, dengan nilai mencapai US$ 1.958.107.

Di mana komoditas yang dominan mempengaruhi peningkatan ekspor ke negara tersebut hingga ratusan persen antara lain komoditas ikan dan udang yang sebagian besar berupa cumi-cumi, mencapai US$ 1.421.057.

Baca Juga:  Kolaborasi KITA Gelar Program Peduli dan Rekor MURI

Setelah komoditas ikan dan udang, komoditas yang baru diekspor pada bulan Juli 2018 dan sebelumnya tidak dilakukan ekspor antara lain produk kapal laut

dan bangunan terapung berupa kapal penangkap ikan dengan tonase kotor melebihi 4.000 gross ton (GT) sebesar US$ 156.000.

“Kapal laut dan bangunan terapung, yang pada bulan Juli 2017 tidak dilakukan ekspor ke Tiongkok, kini kembali di ekspor. Ini pertama kali,” terang Subadri.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/