alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, July 6, 2022

Kebocoran PDAM Tirta Mangutama 40 Persen, Desak Peremajaan Pipa Air

SINGARAJA – Anggota dewan di DPRD Badung mendesak agar PDAM Tirta Mangutama segera melakukan peremajaan infrastruktur perpipaan air minum.

Mengingat tingkat kebocoran air minum di Kabupaten Badung, utamanya wilayah Badung Selatan, cukup tinggi.

Desakan itu mencuat saat Komisi II dan Komisi III DPRD Badung melakukan studi komparasi pengelolaan air minum ke Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng.

Rombongan dipimpin Anggota Komisi III DPRD Badung I Nyoman Satria. Mereka diterima Dirut Perumda Tirta Hita, I Made Lestariana.

Saat studi komparasi itu, dewan Badung sempat terkejut saat mengetahui tingkat kebocoran air minum di Buleleng hanya 19,2 persen.

Sementara tingkat kebocoran air minum di Badung mencapai 40 persen. Lebih tinggi dari rata-rata kebocoran air minum secara nasional yang ada di angka 34 persen.

Usai pertemuan, Anggota Komisi III DPRD Badung I Nyoman Satria mengatakan, infrastruktur pipa air minum di Badung memang mendesak dilakukan peremajaan.

Terutama di kawasan Badung Selatan. Sebab infrastruktur jaringan air minum yang dibangun PT. Tirtaartha Buanamulya (TB) puluhan tahu lalu, sudah keropos dimakan usia.

“Idealnya memang harus diganti. Kalau kajian 3-4 tahun lalu butuh dana Rp 260 miliar untuk penggantian infrastruktur secara total. Tapi dengan nilai investasi sekarang, kemungkinan butuh dana Rp 400-500 miliar,” kata Satria.

Sebenarnya, kata Satria, investasi dengan nominal tersebut, relatif mudah. Namun karena pandemi, APBD Badung pun ikut terdampak. Sehingga rencana itu harus ditangguhkan sementara.

“Kami harap ini bisa segera dilakukan. Sebab dengan nilai segitu, pipa bisa tahan sampai 100 tahun. Jadi nilai investasinya sangat masuk,” imbuhnya.

Sementara itu, Dirut Perumda Tirta Hita Buleleng I Made Lestariana mengatakan, tingkat kehilangan air di Buleleng hanya 19,2 persen.

Sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan standar pelayanan nasional yang mensyaratkan tingkat kebocoran maksimal 20 persen.

Menurutnya, kebocoran itu bisa ditekan dengan pendekatan teknis. Sebab banyak infrastruktur yang mengalami kerusakan karena dimakan usia.

Pihaknya pun terus melakukan peremajaan infrastruktur dengan menyiapkan anggaran setidaknya Rp 3 miliar, khusus untuk peremajaan pipa.

“Kalau pipa sudah tua, pasti banyak kita kehilangan air, karena sudah keropos. Selain meremajakan pipa, kami juga pelajari tekanan air.

Mana daerah yang tekanan airnya tinggi, kami kendalikan supaya tidak bocor. Water meter juga kami perhatikan, karena potensi kebocoran juga bisa berasal dari water meter,” kata Lestariana.



SINGARAJA – Anggota dewan di DPRD Badung mendesak agar PDAM Tirta Mangutama segera melakukan peremajaan infrastruktur perpipaan air minum.

Mengingat tingkat kebocoran air minum di Kabupaten Badung, utamanya wilayah Badung Selatan, cukup tinggi.

Desakan itu mencuat saat Komisi II dan Komisi III DPRD Badung melakukan studi komparasi pengelolaan air minum ke Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng.

Rombongan dipimpin Anggota Komisi III DPRD Badung I Nyoman Satria. Mereka diterima Dirut Perumda Tirta Hita, I Made Lestariana.

Saat studi komparasi itu, dewan Badung sempat terkejut saat mengetahui tingkat kebocoran air minum di Buleleng hanya 19,2 persen.

Sementara tingkat kebocoran air minum di Badung mencapai 40 persen. Lebih tinggi dari rata-rata kebocoran air minum secara nasional yang ada di angka 34 persen.

Usai pertemuan, Anggota Komisi III DPRD Badung I Nyoman Satria mengatakan, infrastruktur pipa air minum di Badung memang mendesak dilakukan peremajaan.

Terutama di kawasan Badung Selatan. Sebab infrastruktur jaringan air minum yang dibangun PT. Tirtaartha Buanamulya (TB) puluhan tahu lalu, sudah keropos dimakan usia.

“Idealnya memang harus diganti. Kalau kajian 3-4 tahun lalu butuh dana Rp 260 miliar untuk penggantian infrastruktur secara total. Tapi dengan nilai investasi sekarang, kemungkinan butuh dana Rp 400-500 miliar,” kata Satria.

Sebenarnya, kata Satria, investasi dengan nominal tersebut, relatif mudah. Namun karena pandemi, APBD Badung pun ikut terdampak. Sehingga rencana itu harus ditangguhkan sementara.

“Kami harap ini bisa segera dilakukan. Sebab dengan nilai segitu, pipa bisa tahan sampai 100 tahun. Jadi nilai investasinya sangat masuk,” imbuhnya.

Sementara itu, Dirut Perumda Tirta Hita Buleleng I Made Lestariana mengatakan, tingkat kehilangan air di Buleleng hanya 19,2 persen.

Sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan standar pelayanan nasional yang mensyaratkan tingkat kebocoran maksimal 20 persen.

Menurutnya, kebocoran itu bisa ditekan dengan pendekatan teknis. Sebab banyak infrastruktur yang mengalami kerusakan karena dimakan usia.

Pihaknya pun terus melakukan peremajaan infrastruktur dengan menyiapkan anggaran setidaknya Rp 3 miliar, khusus untuk peremajaan pipa.

“Kalau pipa sudah tua, pasti banyak kita kehilangan air, karena sudah keropos. Selain meremajakan pipa, kami juga pelajari tekanan air.

Mana daerah yang tekanan airnya tinggi, kami kendalikan supaya tidak bocor. Water meter juga kami perhatikan, karena potensi kebocoran juga bisa berasal dari water meter,” kata Lestariana.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/