alexametrics
27.8 C
Denpasar
Thursday, June 30, 2022

Bangun Infrastruktur Kereta Api, Gubernur Cari Investor ke Tiongkok

RadarBali.com – Sejumlah persiapan dilakukan untuk menyambut even akbar yakni IMF-World Bank yang akan digelar pada Oktober 2018 mendatang.

Dengan melakukan pembangunan sejumlah infrastruktur seperti underpass, penataan TPA Suwung, Pelebaran landasan Pacu Bandara I Gusti Ngurah Rai, dan pendalaman alur Pelabuhan Benoa.

Selain itu, ada beberapa pembangunan infrastruktur yang akan dibangun yakni pengembangan Jalan Tol Denpasar –Buleleng dan juga pengadaan transportasi Kereta Api (KA).

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Bali, I Putu Astawa mengungkapkan, untuk merealisasikan pembangunan proyek infrastruktur tersebut, akan membutuhkan dana besar.

Untuk mendapatkan dana tersebut, Gubernur Bali , Made Mangku Pastika pada tanggal 14 November akan bertandang ke Tiongkok untuk mencari investor.

“Ada empat provinsi yang akan mencari ke Tiongkok. Selain Bali, ada Sulawesi Utara, Kalimantan Utara dan Sumatera Utara,” ujar Putu Astawa kemarin.

Untuk membangun proyek pengadaan transportasi Kereta Api di Bali, kata dia, akan menghabiskan dana sebesar Rp 30 triliun.

Pembangunan proyek ini pun terlebih dulu akan melakukan berbagai kajian. Untuk melakukan studi kajian, terdapat dana Rp 200 miliar yang diperebutkan oleh seluruh Provinsi di Indonesia.

“Kami belum tahu, Bali akan mendapat berapa. Tapi kalau ini di setujui, untuk kelayakan studi akan memakan dua tahun sedangkan pembangunan itu sampai 3 tahun. Paling cepat selesainya dalam jangka lima tahun,” terang Astawa.

Sementara untuk tol sendiri, dilakukan untuk mendukung keberadaan pembangunan Bandara Bali Utara. Sehingga secara akses lebih mudah.

Saat ini sudah ada dua investor seperti PT Bibu dan juga PT Pembangunan Bali Mandiri yang tertarik mengerjakan bandara yang kabarnya dibangun di atas laut ini.

“Cuma nanti sumber permodalan bisa saja konsorsium karena membangun bandara butuh dana besar. Sedangkan sampai saat ini juga belum ada surat rekomendasi dari Kementerian Perhubungan,” paparnya.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Bali, IB Made Parwata mengatakan untuk pembangunan jalan tol dengan ruas panjang mencapai 204 Kilometer masih akan menentukan lahan.

Namun kata dia, investor yang terdiri dari konsorsium warga Tiongkok yang tinggal di London ini serius membidik investasi tersebut.

“Dana nya itu kan sampai puluhan triliun, tapi kalau untuk dana dari konsorsium warga Tiongkok dengan nilai investasi Rp 3,5 triliun hanya pada satu ruas saja,” pungkasnya



RadarBali.com – Sejumlah persiapan dilakukan untuk menyambut even akbar yakni IMF-World Bank yang akan digelar pada Oktober 2018 mendatang.

Dengan melakukan pembangunan sejumlah infrastruktur seperti underpass, penataan TPA Suwung, Pelebaran landasan Pacu Bandara I Gusti Ngurah Rai, dan pendalaman alur Pelabuhan Benoa.

Selain itu, ada beberapa pembangunan infrastruktur yang akan dibangun yakni pengembangan Jalan Tol Denpasar –Buleleng dan juga pengadaan transportasi Kereta Api (KA).

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Bali, I Putu Astawa mengungkapkan, untuk merealisasikan pembangunan proyek infrastruktur tersebut, akan membutuhkan dana besar.

Untuk mendapatkan dana tersebut, Gubernur Bali , Made Mangku Pastika pada tanggal 14 November akan bertandang ke Tiongkok untuk mencari investor.

“Ada empat provinsi yang akan mencari ke Tiongkok. Selain Bali, ada Sulawesi Utara, Kalimantan Utara dan Sumatera Utara,” ujar Putu Astawa kemarin.

Untuk membangun proyek pengadaan transportasi Kereta Api di Bali, kata dia, akan menghabiskan dana sebesar Rp 30 triliun.

Pembangunan proyek ini pun terlebih dulu akan melakukan berbagai kajian. Untuk melakukan studi kajian, terdapat dana Rp 200 miliar yang diperebutkan oleh seluruh Provinsi di Indonesia.

“Kami belum tahu, Bali akan mendapat berapa. Tapi kalau ini di setujui, untuk kelayakan studi akan memakan dua tahun sedangkan pembangunan itu sampai 3 tahun. Paling cepat selesainya dalam jangka lima tahun,” terang Astawa.

Sementara untuk tol sendiri, dilakukan untuk mendukung keberadaan pembangunan Bandara Bali Utara. Sehingga secara akses lebih mudah.

Saat ini sudah ada dua investor seperti PT Bibu dan juga PT Pembangunan Bali Mandiri yang tertarik mengerjakan bandara yang kabarnya dibangun di atas laut ini.

“Cuma nanti sumber permodalan bisa saja konsorsium karena membangun bandara butuh dana besar. Sedangkan sampai saat ini juga belum ada surat rekomendasi dari Kementerian Perhubungan,” paparnya.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Bali, IB Made Parwata mengatakan untuk pembangunan jalan tol dengan ruas panjang mencapai 204 Kilometer masih akan menentukan lahan.

Namun kata dia, investor yang terdiri dari konsorsium warga Tiongkok yang tinggal di London ini serius membidik investasi tersebut.

“Dana nya itu kan sampai puluhan triliun, tapi kalau untuk dana dari konsorsium warga Tiongkok dengan nilai investasi Rp 3,5 triliun hanya pada satu ruas saja,” pungkasnya



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/