alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

Perekonomian Bali Masih Minus, Ini Kata Pengamat Ekonomi

DENPASAR – Jika sebelumnya Anggota DPRD Bali menilai minusnya perekonomian di Bali dapat meningkat bila perdagangan digalakkan Pemprov Bali, hal yang serupa juga disampaikan oleh pengamat ekonomi di Bali.

 

Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana SE. MM selaku pengamat ekonomi sekaligus Guru Besar Bidang Menejemen di Undiknas Denpasar saat dikonfirmasi melihat untuk mengembalikan kebangkitan perekonomian di Bali, ada dua cara yang harus dilakukan oleh pemerintah provinsi Bali.

 

Pertama adalah menggalakan ekspor-impor. Seperti ekspor hasil laut, seperti tuna, ataupun hasil perkebunan seperti cokelat dan lainnya. 

 

“Perekonomian minus di Bali ini karena sektor jasa, terutama jasa pariwisata terlalu dominan untuk Bali. Bahkan, data yang saya dapatkan itu mencapai untuk sektor jasa 76,61 persen loh,” ujarnya pada Jumat (11/2/2022).

 

Sedangkan untuk pertanian, tercatat hanya 15 persen dan industri hanya 7,7 persen. Artinya, bila melakukan peningkatan ekspor, maka akan menumbuhkan perekonomian ndi Bali yang minus sampai saat ini.

Baca Juga:  Kepala PT. Pos Indonesia Singaraja Bangga Memegang Kartu JKN-KIS

 

“Kita perlu mentransformasikan ke sektor lain. Ya seperti sektor ekspor ini. Kuarter ketiga aja, sektor ekspor naik drastis, sampai 20,4 persen dan bisa dibayangkan berapa devisa masuk,” ujarnya.

 

Selain sektor ekspor- impor, salah satu yang juga bisa meningkatkan perekonomian di Bali menurut Prof. Raka Suardana adalah merealisasikan proyek belanja pemerintah.

 

“Makanya proyek pemerintah seperti PKB (Pusat Kesenian Bali), jalan tol dan lainya harus secepatnya, karena itu akan ada uang masuk. Sebab, sulit ekonomi akan bergerak jika mengandalkan pariwisata saja,” pungkasnya.

 

Untuk sekedar diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, hingga akhir 2021, angka pertumbuhan ekonomi di Bali pada akhir 2021 masih terkontraksi di angka minus 2,47 persen.

Baca Juga:  Setuju BBNKB Turun, Koster: Bali Harus Bisa Bersaing dengan Tetangga

Walau posisi itu lebih baik dari pertumbuhan 2020 yang sebesar minus 9, 3%. Menurut Sri Mulyani, Bali masih menderita karena dampak pandemi masih berimbas ke pariwisata yang merupakan sektor penopang ekonomi Bali.

Sri Mulyani mengatakan, melemahnya sektor pariwisata dan hospitality di Bali selama pandemi memberikan dampak yang sangat dalam bagi perekonomian di Pulau Dewata.

Penyebabnya, lebih dari 70 persen perekonomian di Bali tergantung pada sektor tersebut.

Ia berharap, pemulihan Bali akan lebih cepat terjadi pada 2022.

Sebab, pemerintah telah membuka pintu gerbang turis asing ke Bali dan mengizinkan penerbangan langsung membawa pelaku perjalanan luar negeri mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Dengan demikian secara bertahap, sektor pariwisata Bali akan kembali hidup dan pulih.



DENPASAR – Jika sebelumnya Anggota DPRD Bali menilai minusnya perekonomian di Bali dapat meningkat bila perdagangan digalakkan Pemprov Bali, hal yang serupa juga disampaikan oleh pengamat ekonomi di Bali.

 

Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana SE. MM selaku pengamat ekonomi sekaligus Guru Besar Bidang Menejemen di Undiknas Denpasar saat dikonfirmasi melihat untuk mengembalikan kebangkitan perekonomian di Bali, ada dua cara yang harus dilakukan oleh pemerintah provinsi Bali.

 

Pertama adalah menggalakan ekspor-impor. Seperti ekspor hasil laut, seperti tuna, ataupun hasil perkebunan seperti cokelat dan lainnya. 

 

“Perekonomian minus di Bali ini karena sektor jasa, terutama jasa pariwisata terlalu dominan untuk Bali. Bahkan, data yang saya dapatkan itu mencapai untuk sektor jasa 76,61 persen loh,” ujarnya pada Jumat (11/2/2022).

 

Sedangkan untuk pertanian, tercatat hanya 15 persen dan industri hanya 7,7 persen. Artinya, bila melakukan peningkatan ekspor, maka akan menumbuhkan perekonomian ndi Bali yang minus sampai saat ini.

Baca Juga:  Hilangkan Stres, Grand Tanis Siap Antar Anda ke Nusa Penida

 

“Kita perlu mentransformasikan ke sektor lain. Ya seperti sektor ekspor ini. Kuarter ketiga aja, sektor ekspor naik drastis, sampai 20,4 persen dan bisa dibayangkan berapa devisa masuk,” ujarnya.

 

Selain sektor ekspor- impor, salah satu yang juga bisa meningkatkan perekonomian di Bali menurut Prof. Raka Suardana adalah merealisasikan proyek belanja pemerintah.

 

“Makanya proyek pemerintah seperti PKB (Pusat Kesenian Bali), jalan tol dan lainya harus secepatnya, karena itu akan ada uang masuk. Sebab, sulit ekonomi akan bergerak jika mengandalkan pariwisata saja,” pungkasnya.

 

Untuk sekedar diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, hingga akhir 2021, angka pertumbuhan ekonomi di Bali pada akhir 2021 masih terkontraksi di angka minus 2,47 persen.

Baca Juga:  Pengamat Sebut Ojol Bantu Kebijakan PKM Kota Denpasar Lebih Efektif

Walau posisi itu lebih baik dari pertumbuhan 2020 yang sebesar minus 9, 3%. Menurut Sri Mulyani, Bali masih menderita karena dampak pandemi masih berimbas ke pariwisata yang merupakan sektor penopang ekonomi Bali.

Sri Mulyani mengatakan, melemahnya sektor pariwisata dan hospitality di Bali selama pandemi memberikan dampak yang sangat dalam bagi perekonomian di Pulau Dewata.

Penyebabnya, lebih dari 70 persen perekonomian di Bali tergantung pada sektor tersebut.

Ia berharap, pemulihan Bali akan lebih cepat terjadi pada 2022.

Sebab, pemerintah telah membuka pintu gerbang turis asing ke Bali dan mengizinkan penerbangan langsung membawa pelaku perjalanan luar negeri mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Dengan demikian secara bertahap, sektor pariwisata Bali akan kembali hidup dan pulih.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/