alexametrics
30.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Hampir 100 Persen Petani Tak Tahu Jerami Padi Bisa Jadi Pupuk Kompos

Pertanian organik sering digembar-gemborkan pemerintah. Namun, upaya menuju angan-angan ini masih jauh dari kenyataan. I Nengah Muliarta pun membeberkan masalah ini.

 

NI KADEK NOVI FEBRIANI, Denpasar

 

IMPLEMENTASI pertanian organik secara menyeluruh di Bali masih angan-angan. Itu karena petani tak benar-benar didampingi menjadi petani dalam meningkatkan produksinya.

 

I Nengah Muliarta, Dosen Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa mengatakan hal yang menjadi permasalaham penggunaan pupuk anorganik masih masif. Sedangkan disisi lain bahan baku pupuk berupa jerami padi masih sering dibakar. 

- Advertisement -

 

Berdasarkan hasil wawancara dan survei yang dilakukan oleh Mul, sapaan akrabnya terhadap petani terungkap bahwa tidak ada petani yang melakukan pengomposan jerami padi. Bahkan dia menyebut hampir 100 persen petani mengaku tak melakukan pengomposan jerami karenatak tahu caranya. 

Baca Juga:  Telkomsel Hadirkan Aplikasi MAXstream sebagai One Stop Video Portal

 

“Mayoritas (97,75 persen) petani mengakui tidak melakukan pengomposan jerami padi karena tidak tahu cara atau metode pengomposan jerami padi dan hanya 2,25 persen yang mengaku sedikit tahu cara pengomposan jerami padi,” ungkap Mul, Minggu (10/10). 

 

Petani tidak melakukan pengomposan karena tidak pernah mendapatkan cara mengomposkan jerami dari petugas PPL. Ini sejalan dengan hasil survey terhadap 12 orang petugas penyuluh lapangan (PPL) di Kabupaten Klungkung menunjukkan hasil bahwa  100 persen tidak pernah melakukan sosialisasi pengomposan jerami padi.

 

Tercatat 58,33 persen PPL beberapa kali melakukan sosialisasi pengomposan dan sebanyak 16,67 persen satu kali melakukan sosialisasi pengomposan, tetapi melakukan sosialisasi pengomposan dengan bahan kotoran sapi.

Baca Juga:  GEMPA LOMBOK!!Evakuasi Wisatawan ke Bali Berlanjut

 

Sementara 25 persen mengakui sama sekali tidak pernah melakukan sosialisasi pengomposan. Penyuluh lapangan pada dasarnya memegang peran utama dalam upaya mempopulerkan teknologi pengomposan di kalangan petani.

 

“Secara umum, petani memiliki tingkat pengetahuan yang rendah terhadap manfaat jerami padi,” kata mantan komisioner KPID Bali ini. (bersambung)

Baca Juga: Membakar Jerami Sama Saja dengan Membuang Bahan Baku Pupuk (Tulisan ke-2)

- Advertisement -

Pertanian organik sering digembar-gemborkan pemerintah. Namun, upaya menuju angan-angan ini masih jauh dari kenyataan. I Nengah Muliarta pun membeberkan masalah ini.

 

NI KADEK NOVI FEBRIANI, Denpasar

 

IMPLEMENTASI pertanian organik secara menyeluruh di Bali masih angan-angan. Itu karena petani tak benar-benar didampingi menjadi petani dalam meningkatkan produksinya.

 

I Nengah Muliarta, Dosen Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa mengatakan hal yang menjadi permasalaham penggunaan pupuk anorganik masih masif. Sedangkan disisi lain bahan baku pupuk berupa jerami padi masih sering dibakar. 

 

Berdasarkan hasil wawancara dan survei yang dilakukan oleh Mul, sapaan akrabnya terhadap petani terungkap bahwa tidak ada petani yang melakukan pengomposan jerami padi. Bahkan dia menyebut hampir 100 persen petani mengaku tak melakukan pengomposan jerami karenatak tahu caranya. 

Baca Juga:  Telkomsel Hadirkan Aplikasi MAXstream sebagai One Stop Video Portal

 

“Mayoritas (97,75 persen) petani mengakui tidak melakukan pengomposan jerami padi karena tidak tahu cara atau metode pengomposan jerami padi dan hanya 2,25 persen yang mengaku sedikit tahu cara pengomposan jerami padi,” ungkap Mul, Minggu (10/10). 

 

Petani tidak melakukan pengomposan karena tidak pernah mendapatkan cara mengomposkan jerami dari petugas PPL. Ini sejalan dengan hasil survey terhadap 12 orang petugas penyuluh lapangan (PPL) di Kabupaten Klungkung menunjukkan hasil bahwa  100 persen tidak pernah melakukan sosialisasi pengomposan jerami padi.

 

Tercatat 58,33 persen PPL beberapa kali melakukan sosialisasi pengomposan dan sebanyak 16,67 persen satu kali melakukan sosialisasi pengomposan, tetapi melakukan sosialisasi pengomposan dengan bahan kotoran sapi.

Baca Juga:  Kain Tenun Gringsing Sepi Pembeli, Perajin Belum Terdampak SE Gubernur

 

Sementara 25 persen mengakui sama sekali tidak pernah melakukan sosialisasi pengomposan. Penyuluh lapangan pada dasarnya memegang peran utama dalam upaya mempopulerkan teknologi pengomposan di kalangan petani.

 

“Secara umum, petani memiliki tingkat pengetahuan yang rendah terhadap manfaat jerami padi,” kata mantan komisioner KPID Bali ini. (bersambung)

Baca Juga: Membakar Jerami Sama Saja dengan Membuang Bahan Baku Pupuk (Tulisan ke-2)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/