alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Membakar Jerami Sama Saja dengan Membuang Bahan Baku Pupuk

Selama ini, kebanyakan jerami padi tidak dimanfaatkan secara maksimal. Bahkan, banyak dibakar. Padahal, pembakaran jerami  sama saja dengan membuang bahan baku pupuk kompos. 

NI KADEK NOVI FEBRIANI, Denpasar

 

I Nengah Muliarta mengatakan, dari hasil surveinya menunjukkan sebagian besar petani memiliki tingkat pengetahuan yang rendah atas menfaat Jerami padi. Itu terjadi karena petani kurang mendapatkan informasi tentang perkembangan penggunaan jerami padi yang dapat memberi manfaat secara sosial dan ekonomi bagi petani.

 

Kata dia, jerami padi memiliki potensi ekonomi yang sangat besar bagi petani, tetapi akibat kurangnya kesadaran untuk mengembangkan alternatif pemanfaatan jerami padi telah menyebabkan turunnya manfaat ekonomi yang didapatkan.

 

“Kondisi inilah yang menyebabkan sulitnya mewujudkan pertanian organik secara menyeluruh di Bali,” jelasnya. 

 

Kata dia, memerlukan waktu panjang untuk mewujudkan pertanian organik, apalagi jika tidak terdapat keseriusan dalam mewujudkannya.  Belum lagi kondisi tanah yang kandungan bahan organiknya sudah sangat rendah. Hal ini terjadi karena masih banyaknya petani yang membuang bahan baku pupuk.

Baca Juga:  Vaksinasi di DPRD Bali Bikin Antre dan Kerumunan, Ini Pembelaan Kadis

 

Mul pun membeberkan, sebagai sebuah contoh dalam penelitian di Kabupaten Klungkung tahun 2017, sekitar 30,34 persen membakar jerami padi yang dihasilkan dengan alasan untuk mempercepat pengolahan lahan dan membahasmi hama.

 

Terdapat pula petani yang membakar jerami karena berdasarkan pengetahuan yang didapatkan bahwa abu pembakaran jerami padi dapat bermanfaat bagi kesuburan tanah.

 

Kendati harus diakui pembakaran jerami padi merupakan salah satu awal penerapan pertanian organik yang berasal dari pengalaman petani. Walau begitu, kata Mul, pembakaran jerami sangat kurang efektif karena dapat merusak struktur tanah dan mengurangi aktivitas mikrobia tanah.

 

“Dengan membakar jerami padi dapat kehilangan N (hingga 80 persen), P (25 persen), K (21 persen) dan S (4-60 persen) serta kehilangan bahan organik tanah,” paparnya Mul.

Baca Juga:  Ribuan Relawan Covid-19 Diminta Segera Turun Edukasi Masyarakat

 

Beberapa petani juga percaya bahwa pembakaran jerami padi terbuka dapat menghilangkan gulma, mengendalikan penyakit, dan melepaskan nutrisi untuk tanaman berikutnya. Pembakaran jerami juga memudahkan membajak lahan dan meratakan tanah yang menghemat waktu pengelolaan lahan untuk musim tanam berikutnya.

 

Menurut Muliartha di sinilah perlu pendampingan kepada petani agar mengolah dan memanfaatkan jerami sebagai kompos.

 

“Pembakaran jerami artinya sama membuang bahan baku pupuk, karena hampir 70-80 persen pupuk yang diserap tanaman padi berada di dalam jerami padi,” ungkapnya.

 

Kebiasaan petani membakar jerami padi juga sangat berkaitan dengan jenis tanaman palawija yang ditanam pascapanen padi. Petani cenderung membakar jerami padi jika menanam palawija seperti jagung, kacang tanah atau menanam padi kembali. (bersambung)

Baca Juga: Potensi Kompos dari Jerami Padi di Bali Mencapai 500 Ribu Ton (Tulisan Ke-3)

Selama ini, kebanyakan jerami padi tidak dimanfaatkan secara maksimal. Bahkan, banyak dibakar. Padahal, pembakaran jerami  sama saja dengan membuang bahan baku pupuk kompos. 

NI KADEK NOVI FEBRIANI, Denpasar

 

I Nengah Muliarta mengatakan, dari hasil surveinya menunjukkan sebagian besar petani memiliki tingkat pengetahuan yang rendah atas menfaat Jerami padi. Itu terjadi karena petani kurang mendapatkan informasi tentang perkembangan penggunaan jerami padi yang dapat memberi manfaat secara sosial dan ekonomi bagi petani.

 

Kata dia, jerami padi memiliki potensi ekonomi yang sangat besar bagi petani, tetapi akibat kurangnya kesadaran untuk mengembangkan alternatif pemanfaatan jerami padi telah menyebabkan turunnya manfaat ekonomi yang didapatkan.

 

“Kondisi inilah yang menyebabkan sulitnya mewujudkan pertanian organik secara menyeluruh di Bali,” jelasnya. 

 

Kata dia, memerlukan waktu panjang untuk mewujudkan pertanian organik, apalagi jika tidak terdapat keseriusan dalam mewujudkannya.  Belum lagi kondisi tanah yang kandungan bahan organiknya sudah sangat rendah. Hal ini terjadi karena masih banyaknya petani yang membuang bahan baku pupuk.

Baca Juga:  Wabup Datang, Pedagang Minta Pasar Lama Ditutup

 

Mul pun membeberkan, sebagai sebuah contoh dalam penelitian di Kabupaten Klungkung tahun 2017, sekitar 30,34 persen membakar jerami padi yang dihasilkan dengan alasan untuk mempercepat pengolahan lahan dan membahasmi hama.

 

Terdapat pula petani yang membakar jerami karena berdasarkan pengetahuan yang didapatkan bahwa abu pembakaran jerami padi dapat bermanfaat bagi kesuburan tanah.

 

Kendati harus diakui pembakaran jerami padi merupakan salah satu awal penerapan pertanian organik yang berasal dari pengalaman petani. Walau begitu, kata Mul, pembakaran jerami sangat kurang efektif karena dapat merusak struktur tanah dan mengurangi aktivitas mikrobia tanah.

 

“Dengan membakar jerami padi dapat kehilangan N (hingga 80 persen), P (25 persen), K (21 persen) dan S (4-60 persen) serta kehilangan bahan organik tanah,” paparnya Mul.

Baca Juga:  Tekan Kerugian Konsumen, Disperindag Tera Ulang Timbangan Pedagang

 

Beberapa petani juga percaya bahwa pembakaran jerami padi terbuka dapat menghilangkan gulma, mengendalikan penyakit, dan melepaskan nutrisi untuk tanaman berikutnya. Pembakaran jerami juga memudahkan membajak lahan dan meratakan tanah yang menghemat waktu pengelolaan lahan untuk musim tanam berikutnya.

 

Menurut Muliartha di sinilah perlu pendampingan kepada petani agar mengolah dan memanfaatkan jerami sebagai kompos.

 

“Pembakaran jerami artinya sama membuang bahan baku pupuk, karena hampir 70-80 persen pupuk yang diserap tanaman padi berada di dalam jerami padi,” ungkapnya.

 

Kebiasaan petani membakar jerami padi juga sangat berkaitan dengan jenis tanaman palawija yang ditanam pascapanen padi. Petani cenderung membakar jerami padi jika menanam palawija seperti jagung, kacang tanah atau menanam padi kembali. (bersambung)

Baca Juga: Potensi Kompos dari Jerami Padi di Bali Mencapai 500 Ribu Ton (Tulisan Ke-3)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/